Pelecehan Berulang, Grab Perlu Serius Jamin Keamanan Konsumen

  Rabu, 14 Agustus 2019   Fira Nursyabani
Logo Grab.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan perusahaan aplikator ojek online (ojol) harus bertanggung jawab atas terjadinya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh mitra pengemudi. Seruan ini disampaikan menyusul insiden meloncatnya penumpang dari ojol Grab di Surabaya baru-baru ini. 

“Jadi kalau ada bentuk kekerasan terjadi di ojek online, itu bagian dari kasus yang bisa terjadi di mana saja. Tetapi catatannya koorporasi ojek online juga harus bertanggung jawab terhadap semuanya itu, sebagai bagian dari sistem perlindungan,” kata Komisioner Komnas Perlindungan Perempuan Imam Nahe’i, dalam siaran persnya, Selasa (13/8/2019).

Dugaan pelecehan seksual tersebut diketahui bermula ketika seorang perempuan memesan layanan ojol Grab dari Desa Bungurasih, Waru-Sidoarjo, ke arah Dukuh Kupang, Surabaya, pada Senin (12/8/2019). Korban kemudian dibawa mitra pengemudi Grab yang berinisial FF menuju Sumur Welut.

Dalam perjalanan, FF yang mengendarai Mio warna merah bercampur putih itu mulai melakukan aksi pelecehan terhadap korban. Karena merasa takut, korban tanpa menghiraukan keselamatannya, nekat melompat dari motor pelaku.

Kronologi kasus pelecehan tersebut telah dibagikan via akun Facebook Jemi Ndoen dan menjadi viral. Akun tersebut membagikan foto korban yang tengah duduk di sebuah rumah warga Rusun Sumur Welut yang membantu menyelamatkannya.

AYO BACA : Grab Siap Dukung Perluasan Tarif Baru Ojek Online

Dalam menyelesaikan kasus itu, Co-Director Hollaback! Jakarta, Anindya Restuviani menilai pihak aplikator jasa transportasi online harus bekerja sama dengan penegak hukum. Menurut dia, dalam proses penanganan tersebut harus ada keberpihakan kepada korban.

“Pihak aplikator punya kewajiban untuk memberikan pendampingan pada korban baik secara proses hukum maupun pendampingan pemulihan mental,” ungkapnya.

Pada April 2019 lalu, Komnas Perempuan dan Grab Indonesia pernah berkolaborasi untuk mencegah tindak kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia. Namun, langkah ini belum bisa meredam terulangnya kasus pelecehan seksual oleh oknum mitra Grab.

“Ini mengkhawatirkan sekali. Aku turut sedih dengar cerita ini. Ini menunjukan bahwa kekerasan bener-bener bisa terjadi di mana saja dan dialami oleh siapa aja. Pelaku juga bisa siapa saja; dan sepertinya nggak sekali dua kali ini aja kita dengar ada kejadian ojol yang melakukan pelecehan. Harapannya ini bisa menjadi perhatian ya buat perusahaan ojol untuk bisa melakukan langkah baik pencegahan juga tindak lanjut yang komprehensif,” jelas Anindya. 

Butuh Perlindungan

AYO BACA : Listrik Mati, Ojol Sepi Orderan

Imam Nahe'i mengakui sejauh ini sudah ada upaya perlindungan terhadap perempuan dari perusahaan-perusahaan penyedia aplikasi ojek online. Ojek online diketahui tidak hanya melindungi mitranya saja, tetapi juga pengguna jasanya.

Dia mengatakan pernah mengikuti agenda salah satu ojek online yang memberikan pelatihan sistem pengamanan terhadap mitranya. Sebab, perempuan juga banyak yang menjadi mitra ojek online, sehingga berhak mendapatkan perlindungan.

“Pengemudi perempuan juga kadang-kadang mengalami pelecehan seksual dari pengguna jasanya. Jadi kekerasan tak hanya dialami oleh pengguna jasa atau penumpang tapi juga mitra ojek online sendiri juga mengalaminya. Dan saya melihat bahwa koorporasi terutama di ojek online itu sudah melakukan upaya-upaya untuk pencegahan, penanganan bahkan ke depan mulai dari pemulihan dan perlindungan hukum juga akan dilakukan oleh ojek online,” jelasnya.

Ditindak Tegas

Manajemen Grab menyesalkan dugaan pelecehan seksual oleh mitra pengemudi Grab di Surabaya yang informasinya beredar di media sosial pada 12 Agustus 2019.

Pihaknya telah bertindak tegas terhadap laporan tersebut berdasarkan SOP/prosedur perusahaan. Grab tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan pelecehan. Karena itu pihaknya telah memutus kemitraan dengan mitra pengemudi tersebut setelah menyelidiki secara mendalam serta bekerja sama intensif dengan pihak kepolisian setempat untuk investigasi lebih lanjut.

Pihaknya juga telah menghubungi penumpang yang bersangkutan untuk menawarkan dukungan kami dalam bentuk pemulihan psikososial bebas biaya dari lembaga penyedia layanan yang direkomendasikan oleh Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Hal ini merupakan bagian dari kemitraan dengan Komnas Perempuan sejak akhir 2018 lalu untuk memastikan pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, termasuk pelatihan bagi mitra pengemudi, peningkatan SOP/prosedur, pembekalan bagi internal perusahaan, pembentukan tim khusus penanganan kasus serta rekomendasi pendampingan.

AYO BACA : Grab Indonesia Dapat Pendanaan dari SoftBank

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar