Melek Komunikasi Korban Kekerasan Seksual

  Selasa, 23 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi - Sejumlah anak berdoa saat peringatan Hari Anak Nasional di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (23/7/2019). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Setiap 23 Juli 2019 selalu diadakan peringatan Hari Anak Nasional, dengan tujuan muncul kesadaran di antara masyarakat akan pentingnya melindungi anak-anak sebagai generasi penerus. Namun bagaimana dengan kenyataan di lapangan, terutama tingkat kejahatan seksual yang menimpa anak-anak? Jawabannya sangat menyedihkan.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, pada  2019, kurang lebih ada 1.471 kasus kekerasan terhadap anak, di antaranya 1.071 kasus inses, yaitu berhubungan seksual antara dua orang yang memiliki hubungan darah. Sementara kekerasan seksual tertinggi adalah kekerasan dalam pacaran sebanyak 1.670 kasus.

Bentuk dan motif kekerasannya pun beragam, termasuk yang menjadi pelakunya hampir sama dengan kasus-kasus sebelumnya, yaitu orang-orang terdekat, mulai dari ayah kandung, ayah tiri, paman, guru ngaji dan guru di sekolah, kakak, serta teman senior dalam permainan.

Kenapa kejadian ini kembali terulang setiap tahunnya? Kalau melihat korbannya, sangat menyedihkan. Pengakuan para korban sangat memilukan dunia anak dan keluarga.

Ada ayah yang menghamili anaknya, bahkan ada anak yang bungkam bertahun-tahun ketika ayahnya mencabulinya sejak SD sampai SMA, dan masih banyak pengakuan para korban lainnya ketika dicabuli dan dirampas masa depannya oleh orang yang seharusnya mencintai dan melindunginya.

Kejadian kelam ini terus berlangsung lama dan seperti menyebar ke daerah lain. Hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa korban kekerasan seksual, ada kendala di masyarakat kita kalau menjadi korban pelecehan seksual kenapa tidak segera melapor ke pihak berwajib?

Jawabannya karena mereka para korban itu tabu dan takut akan aib keluarganya diketahui banyak orang, karena para pelaku adalah keluarga sendiri. Jika anaknya diketahui telah menjadi korban pelecahan seksual, khawatir akan dikucilkan orang lain.

Selain itu, mereka juga takut karena ada ancaman dari pelaku kepada korban jika lapor ke orang lain atau ke polisi. Inilah yang mengukung sekaligus melindungi para pelaku dari tindakan-tindakan amoralnya.

Hal ini juga disebabkan oleh tidak terbiasanya masyarakat kita dalam mengungkapkan isi hatinya pada orang terdekat atau orang tua, termasuk orang tua yang selalu menahan diri ketika ingin mengungkap kezaliman yang diterimanya. Ini berkaitan dengan pola komunikasi yang sudah terjadi secara turun-temurun. Pola komunikasi yang tidak siap dan berani mengungkapkan kekerasan yang diterimanya.

Bisa dilihat bagaimana anak-anak di rumah tidak berani mengungkapkan isi hatinya pada orang tua, karena orang tua senantiasa memposisikan anak-anaknya subordinat, posisinya di bawah orang tua yang tidak tahu menahu.

Padahal kalau anak-anak terbiasa berkomunikasi dengan orang tuanya, mereka ketika mendapatkan masalah dan kendala dalam menjalankan kehidupannya, maka orang tua akan dengan mudah mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Masyarakat tidak terbentuk pola komunikasi terbuka, yaitu komunikasi yang langsung dan komunikasi to the point pada inti persoalan. Komunikasi masih mengedepankan adab, takut tidak sopan, takut kualat karena pelakunya orang tua dan guru, dan takut kena hukum karma. Ketakutan-ketakutan ini yang sesungguhnya tidak ada dalam aturan berkomunikasi yang berlaku.

Perlu kiranya mengubah pola komunikasi dan menggeser budaya komunikasi di masyarakat. Dari pola komunikasi top down menjadi komunikasi yang button up. Para orang tua harus mengubah gaya komunikasi kepada anak-anaknya agar berani bicara pada orang tua, bukan sebaliknya menutup kran komunikasi anak-anak.

Sejak kecil harus dibiasakan keterbukaan, agar anak-anak terbangun kepercayaan diri dan berani dengan orang tuanya dalam mengungkapkan kegelisahannya. Kebanyakan di antara kita memposisikan anak tidak tahu menahu, dibanding orang tua. Sebaiknya orang tua bisa bersabar dan bersedia menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya.

Dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Keluarga: Perspektif Islam, Enjang dan Encep Dulwahab (2018) menyarankan bahwa para orang tua ketika berkomunikasi di dalam keluarga atau di lingkungan rumah, sebaiknya menggunakan komunikasi interpersonal baik secara verbal maupun non verbal.

Tidak hanya itu, dalam berkomunikasi dalam keluarga sebaiknya mengedepankan mendengarkan daripada bicara. Dengarkan keluh kesah anak-anak dibanding terus-terusan menceramahinya.

Faktor lain dalam pemicu perkembangan kejahatan seksual ialah dampak dari penggunakan teknologi komunikasi. Para orang tua sebaiknya mengawasi anak-anak dalam penggunakan perangkat teknologi komunikasi, seperti gadget. Saat ini dalam pandangan dan hasil pengamatan di lapangan, para orang tua membiarkan anak-anaknya menggunakan bermain dengan ponsel.

Baik masih TK sampai SMA, mereka begitu bebas menggunakannya, tanpa ada pengawasan yang ketat, aturan main penggunaan di rumah atau sekolah yang ketat pula. Para orang tua relatif bangga ketika mampu membelikan anak-anaknya ponsel yang bagus, karena bisa dilihat orang lain dan akan dianggap sebagai orang mampu, dengan demikian disebutlah sebagai orang dengan kelas sosial dan ekonomi atas.

Padahal efek dari penggunaan ponsel itu luar biasa, selain secara fisik mata anak menjadi rusak karena terkena sinar radiasi, secara psikis anak-anak menjadi egois, dan tidak terlatih sosialnya karena dibuat asyik sendiri. Memorinya menjadi rusak karena terus dipenuhi dengan informasi-informasi porno atau berkomunikasi dengan orang yang bebas tanpa ada kejelasan latar belakangnya.

Ini pula yang menjadi lahirnya kekerasan seksual yang dialami remaja ketika mereka berkenalan dengan orang di media sosial kemudian bertemu dan akhirnya mereka menjadi korban.

Di hari perayaan kekerasan terhadap anak  ini, sebaiknya tidak sebatas kampanye stop kekerasan seksual terhadap anak, tetapi bagaimana mengkampanyekan juga model komunikasi di dalam keluarga yang baik, dan bagaimana bijak dalam penggunaan ponsel. Semoga anak-anak terselamatkan!

 

Encep Dulwahab, Pegiat Komunikasi dan Jurnalisme Damai

Yeni Huriyani, Pegiat Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar