Memperhatikan Anak Sang Harapan Bangsa

  Jumat, 19 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

Bulan Juli pekan ketiga merupakan waktu anak-anak kembali bersekolah. Setelah cukup panjang libur sekolah, akhirnya mereka kembali mengikuti proses belajar di sekolah. Berbagai perasaan pun muncul dari lubuk hati. Ada yang merasa senang karena segera berjumpa dengan kawan-kawan. Bahkan ada yang sedih karena waktu liburan telah usai.

Lain halnya dengan murid-murid baru. Khususnya mereka yang duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Hari pertama sekolah biasanya menjadi momen yang istimewa karena mereka akan memasuki jenjang baru dan dipertemukan dengan lingkungan yang baru pula. Oleh karena itu, sebagian orang tua memutuskan untuk mengantarkan anak mereka ke sekolah.

Melihat antusias orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah, hal tersebut membuktikan bahwa mereka percaya bahwa di sekolah, anak tersebut nantinya akan mendapatkan ilmu yang dapat dijadikan bekal masa depan untuk sang anak. Selain itu, melalui sekolah, anak dapat belajar beradaptasi oleh beberapa kalangan baik kalangan usia yang lebih muda darinya maupun yang lebih tua darinya.

Akan tetapi, beberapa sekolah di Indonesia pernah membuat sang anak merasa tidak nyaman. Hal ini dapat dibuktikan bahwa terjadi kasus-kasus yang tidak menyenangkan yang menimpa anak. Berdasarkan Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2019 KPAI pernah mencatat bahwa terdapat kasus anak korban pencabulan dan pelecehan seksual terjadi di lingkungan sekolah. Bahkan kasus tersebut dilakukan oleh guru dan kepala sekolah.

AYO BACA : Bernostalgia dengan Momen MOS Anak Zaman Old

Selain itu, sepanjang Januari hingga April 2019, trend kasus tersebut didominasi oleh kasus bullying dan kekerasan fisik. Informasi data tersebut berasal dari divisi pengaduan KPAI, baik pengaduan langsung maupun pengaduan online.

Selain permasalahan di sekolah, kasus pekerja anak menjadi salah satu permasalahan yang juga dialami anak-anak. Masa anak-anak yang seharusnya dinikmati dengan masa belajar dan bermain, akan tetapi justru sebagian dari mereka harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, berdasarkan aturan tersebut bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Akan tetapi, untuk umur 13 hingga 15 tahun dapat melakukan pekerjaan ringan dengan syarat pekerjaan tersebut tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak.

Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja mencapai sebanyak 7,23 persen. Sedangkan pada tahun 2016 hanya sebesar 6,99 persen. Sedangkan ketika melihat tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2012 hingga 2015 persentase anak yang bekerja mengalami penurunan. Akan tetapi, pada tahun 2016 dan 2017 mengalami peningkatan.

AYO BACA : Bandung Kejar Kategori Utama Kota Layak Anak

Pada tahun 2017 sebesar 52,09 persen anak usia 10-17 tahun yang bekerja masih bersekolah. Sedangkan sebesar 46,89 persen tidak bersekolah lagi. Selain itu, sebesar 1,02 persen statusnya tidak atau belum pernah sekolah.

Selain permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih ada permasalahan-permasalan lainnya yang dihadapi sebagian anak. Oleh karena itu, perlu kerja sama yang baik antara orang tua, pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menangani permasalahan-permasalahan tersebut.

Perlu diingat bahwa anak merupakan harapan bangsa yang dijadikan sebagai penerus generasi di masa mendatang. Oleh karena itu, diperlukan pemenuhan hak-hak anak agar sang anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang nantinya dapat memiliki peran sehingga membuat negeri ini menjadi lebih baik.

Dyah Makutaning Dewi

Mahasiswi Politeknik Statistika STIS

AYO BACA : Gangguan Tiroid Bisa Diderita Anak Sejak dalam Kandungan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar