Globalisasi Cinta

  Kamis, 11 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi - Sejumlah anak bermain dengan gawai nya di Kampung Lalareun, Desa Pangguh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jumat (5/7/2019). (Muhammad Aditya Priyanto/Magang/ayobandung.com)

Globalisasi, satu kata yang mungkin sudah terdengar kuno saat ini. Padahal dalam 10 tahun ke belakang, globalisasi menjadi salah satu topik yang paling sering dibicarakan, dari diskusi di berbagai media nasional hingga diskusi ala aktivis di warung kopi kampus. Bisnis internasional pun menjadi salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa ekonomi.

Kini orang-orang tidak lagi membicarakan tentang globalisasi. Globalisasi telah tejadi dan sedang berlangsung. Revolusi four Ti (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) pada satu dekade yang lalu telah mengantarkan dunia ini menjadi suatu global village (kampung global).

Batas antar negara menjadi kabur. Dunia menjadi semakin menyempit. Lalu lintas barang antar negara semakin lancar dan bagi beberapa perusahaan multinasional, negara tidak lagi menjadi batasan bagi mereka dalam menjual produknya.

Dalam perkembangan dewasa ini, bukan hanya perusahaan multinasional yang diuntungkan untuk menjual produk antar negara. Tapi bagi para jomblo, globalisasi juga membuka peluang untuk menemukan jodoh dari negara lain. Perkembangan teknologi dan komunikasi telah memungkinkan mereka untuk saling mengenal, berbicara dan bertatap muka meski tidak secara langsung.

Teknologi telah melahirkan berbagai aplikasi seperti whatsapp, skype, line dan berbagai aplikasi lainnya untuk orang berbicara dan bertatap muka dengan biaya murah. Meski terpisah jarak, orang bisa berkomunikasi dan saling melihat apa yang lawan bicaranya sedang lakukan saat ini meski tak bersama.

Berbagai forum diskusi di internet yang terbuka bagi seluruh warga net dan membuka kemungkinan bagi siapa saja untuk memberikan komentar, menjadi ajang bagi para jomblo untuk saling mengenal dan menambatkan hati.

Jika anda membuka Youtube dan mengetik “kisah cinta LDR (long distance relationship)”, anda akan menemukan banyak sekali youtuber yang mengunggah kisah cinta jarak jauh mereka. Ada yang mengunggah ketika pertama kali mereka bertemu, saat mereka saling berjauhan dan berbagai konten lainnya.

Globalisasi, sekali lagi tidak hanya meng-global-kan suatu produk tapi juga meng-global-kan cinta. Batas negara dan kebudayaan tidak lagi menjadi penghalang. Kebersamaan bisa diperoleh dengan video call. Saling mengenal pun bisa dilakukan dengan melihat kegiatan sehari-hari via video call. Bahkan saat ini, bagi umat Islam para ulama sedang memperdebatkan tentang menikah via video call.

Kebudayaan, tidak lagi menjadi halangan. Karena pada kota-kota besar di berbagai negara di dunia, kehidupan masyarakat hampir seragam. Pizza, burger, friend chicken telah menjadi makanan masyarakat dunia. Bahkan makanan tradisional seperti tum yam dari Thailand pun akrab di lidah sebagian orang Indonesia.

Maka premis yang diajukan oleh John Naisbitt, seorang futuris (peramal masa depan) 37 tahun yang lalu dalam bukunya Megatrends terbukti benar terjadi saat ini. Naisbitt terkenal dengan provokasinya “think globally, act locally (berpikir global, bertindak lokal)” yang berarti bahwa batas antar negara akan longgar dan menjadi tak berarti.

Namun hal ini tidak hanya berlaku untuk produk atau pekerjaan, tapi juga untuk masalah hati. Hati pun mengalami gelombang globalisasi. Persaingan tidak hanya terjadi bagi para pencari kerja, tapi juga bagi para pejuang cinta. Tidak hanya beras, daging sapi, bawang merah atau bumbu dapur yang diimpor, tapi cinta pun diimpor.

 

Siska H

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar