Zonasi dan Kualitas Pendidikan Terbaik

  Selasa, 25 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Calon siswa didampingi orang tua mengikuti hari pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di SMA Negeri 8 Bandung, Jalan Selontongan, Kota Bandung, Senin (17/6/2019). (Kavin Faza/ayobandung.com)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa zoning system atau sistem zonasi adalah bentuk penyempurnaan atau koreksi terhadap sistem lama yang setelah dilihat dalam waktu lama telah terjadi penyimpangan atau ketidaksesuaian dari kebijakan. Ketidaksesuaian itu adalah adanya kastanisasi sekolah.

Kastanisasi sekolah terjadi akibat dari sistem penerimaan peserta didik baru dengan menggunakan kriteria akademik murni sehingga terjadi pengelompokan dengan passing grade tertentu. Maka ada sekolah yang menerima kumpulan anak pandai, dan itu biasanya dari keluarga berada.

Jika ia gagal di sekolah itu, ia turun ke sekolah yang menawarkan passing grade yang lebih rendah. Jika gagal lagi ke sekolah yang passing gradenya lebih rendah,akhirnya ada sekolah yang tidak ada passing gradenya. Inilah kumpulan anak-anak yang tidak mampu.

Ini bertentangan dengan prinsip pelayanan publik. Prinsip barang publik yang menjadi tanggungjawab negara. Karena prinsip barang publik tidak boleh ada hak-hak eksklusif kepada kalangan tertentu. Tidak boleh ada persaingan berlebihan dalam memanfaatkan barang publik, dan tidak boleh ada diskriminasi. Jadi harus inklusif. Bisa melayani semua. Harapannya dengan zoning system kastanisasi sekolah bisa dihindari.

Meski Pemerintah berupaya memberikan fasilitas pendidikan yang baik, kenyataannya, penerapan sistem zonasi dalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang sudah memasuki tahun ketiga  masih diliputi suasana yang memprihatinkan berupa demo penolakan masyarakat, berbagai kecurangan, biaya pendidikan yang memberatkan dll.

Persoalan itu muncul karena masih banyak PR di dunia pendidikan yang harus diselesaikan. Di satu sisi, fasilitas pendidikan yang tidak memadai, sekolah banyak yang rusak. Perbandingan jumlah sekolah di beberapa daerah dengan jumlah siswa yang belum ideal, ketimpangan akses dan kualitas pendidikan antara di desa dan di kota yang masih mengangga, dan juga persoalan kualitas guru. Di sisi lain Sistem Pendidikan Sekuler yang diadopsi Pemerintah juga memunculkan banyak masalah. Kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, tawuran, penganiayaan guru adalah masalah yang melingkupi generasi kita sebagai produk dari sistem pendidikan sekuler.

Karenanya, jika Pemerintah memang bermaksud mewujudkan pendidikan yang berkualitas, seharusnya meninggalkan sistem sekuler dan menggantinya dengan sistem pendidikan yang berasal dari Dzat yang menciptakan manusia (Allah SWT)  yaitu Sistem Pendidikan Islam.

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang digariskan Allah adalah:

Pertama, Membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam secara utuh, yaitu pola pikir dan pola sikapnya di dasarkan pada akidah Islam.

Kedua, Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah yang berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban, serta akan membuat negara  menjadi negara terdepan.

Sistem Pendidikan Islam disusun dari sekumpulan hukum-hukum Islam. Kurikulum pendidikannya berlandaskan akidah islam. Mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dalam pendidikan dengan asas akidah Islam.

Dengan sistem pendidikan seperti itu, out put yang akan dihasilkan adalah generasi yang bertakwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban.

Generasi seperti ini tidak akan menyembunyikan ilmu. Rasulullah melarang seseorang menyembunyikan ilmu yang ia ketahui. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang menyembunyikan ilmu yang diketahuinya maka Allah akan mengikat mulutnya dengan tali kekang dari api neraka pada hari kiamat” (HR Ibnu Hiban).

Setiap ilmu yang ia ketahui akan diamalkan untuk kebaikan diri dan orang lain. Pengamalan ini sebagai perwujudan dari pemahaman mereka  bahwa hidup dan mati adalah ujian untuk menguji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.  Generasi seperti ini akan hadir kembali ketika kita menghadirkan kembali sistem pendidikan warisan Rasulullah SAW yang mewujud dalam sistem Khilafah.

Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan asasi yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab negara. Negara akan menyiapkan seluruh sarana dan prasarana pendidikan secara cuma-cuma agar seluruh warga negara mendapat pendidikan tanpa membedakan antara desa dan kota. Kualitas guru juga diperhatikan dan dijamin kesejahteraannya, sehingga guru bisa fokus mencetak generasi terbaik. 

Jika setiap daerah merata kualitas dan fasilitas pendidikannya. Gurunyapun tersedia melimpah dan tercukupi kesejahteraannya, maka favoritisme sekolah tidak akan terjadi. Tujuan pendidikan pun tercapai.

 

Irianti Aminatun

Member Akademi Menulis Kreatif (AMK)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar