DAS Banjir dan Etika Lingkungan

  Senin, 24 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
(Dok. Pribadi)

Daerah aliran sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung tempat air hujan jatuh pada daerah tersebut. Sementara banjir dalam pengertian umum adalah debit aliran air sungai dalam jumlah yang tinggi atau debit aliran air di sungai yang relatif  lebih besar dari kondisi normal.

Menurut Peraturan Dirjen RLPS No.04 thn 2009, banjir terjadi akibat hujan yang turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus menerus. Sehingga air tersebut tidak dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi daerah sekitarnya.

Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Namun dibalik terjadinya banjir banyak faktor-faktor penyebabnya yang juga berasal dari manusia. Berikut ulasannya:

1.  Curah hujan yang tinggi

Hujan yang turun dalam waktu lama dan sering  adalah faktor utama sering terjadi banjir. Biasanya hal ini terjadi pada puncak musim hujan pada Desember–Februari. Air hujan akan memenuhi sungai-sungai dan menggenangi jalanan yang pasti menyebabkan banjir jika terus terjadi dan tidak ada penampung atau resapan.

2. Pendangkalan sungai akibat sampah

Sungai-sungai yang dulunya dalam, lama-lama menjadi dangkal akibat pembuangan sampah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Sungai yang dangkal menyebabkan meluap ke pemukiman pada saat hujan deras.

3. Perusakan  lahan

Banyak kejadian banjir dan tanah longsor karena ulah perusakan lahan untuk penambangan liar. Tanah yang seharusnya jadi penahan air menjadi tergerus dan menyebabkan banjir.

4. Penebangan  hutan

Hutan berfungsi sangat penting sebagai daerah resapan air, menyimpan air hujan kemudian mengalirkan kepada manusia melalui bentuk air tanah. Bila hutan terus ditebangi secara liar akan menimbulkan banjir bagi kawasan daerah tersebut, dengan banjir yang terus terjadi dengan skala besar maka ada kemungkinan menyebabkan tanah longsor.

5. Permukiman sembarangan

Seperti yang sering terjadi banjir, permukiman sembrangan menjadi faktor penyebab banjir yang utama akibat meluapnya aliran sungai yang terhambat. Seperti rumah-rumah di bantaran yang pasti menjadi penyumbang sampah terbesar yang menjadi penghambat dan pendangkalan.

Secara teoritis  pernyataan di atas  hal yang sangat peting dalam menyikapi fenomena alam berupa banjir yang terjadi dibeberapa wilayah DAS di Indonesia. Kususnya yang terjadi di wilah Kerja Badang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Sampara Sulawesi Tenggara, dapat dipahami bahwa penyebab banjir adalah faktor alam dan faktor manusia.

Persoalan banjir terhadap faktor-faktor penyebabnya dalam tulisan ini kami juga merujuk pada buku Metodologi Penelitian Wilayah Kontenporer yang di tulis oleh Prof. Dr.H. Hadi Sabari Yunus.

Ia dalam bukunya menyatakan bahwa dalam suatu wilayah yang merupakan wilayah sistem dan sistem wilayah yang ada selalu terkait satu sama lain dalam hubungan aksial maupun intraaksial, depedensial ataupun interdepensial, jadi semua elemen yang ada saling mempengaruhi sehingga rumusan kalimat di atas bukan sebuah hipotesis namun sebuah tesis/kebenaran yang tak perlu lagi dibuktikan.

Secara Substansial, persoalan banjir dapat ditawarkan melalui solusi program jangka panjang. Penyelesaian bencana banjir yang terjadi di wilayah DAS bisa dilakukan dengan pendekatan melalui etika lingkungan. Etika lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan.

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan.

Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan.

Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:

a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.

b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam.

c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi.

d. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Program-program pembangunan yang terkait dengan pemulihan lingkungan contoh rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan selama ini baik dalam bentuk program penanaman melalui kegiatan reboisasi maupun kegiatan penghijauan atau Konservasi Sipil Teknis atau juga program tanam menanam disetiap lahan–lahan masyarakat.

Adapun terjadinya banjir disuatu wilayah dalam skala kecil secara logis dapat diatasi dengan perbaikan saluran dan normalisasi sungai tetapi bajir dalam skala besar yang hingga menenggelamkan wilayah desa hingga menenggelamkan luasan seluas wilayah kecamatan  tidak cukup dengan perbaikan drainase atau normalisasi.

Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa peristiwa dan proses terjadinya banjir selain faktor alam juga disebakan oleh ulah manusia, sihingga kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia dapat dilakukan dengan pendekatan etika lingkungan karna konsep etiaka lingkungan dapat dijadikan suatu variabel  yang  sangat diperlukan untuk menemukan jawaban dalam hal penangan pengendalian suatu bencana yang berupa banjir.  

 

Ahmad Yani

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar