Melepas Rindu dalam Ukhuwah, Mengukir Cerita Bersamamu

  Senin, 24 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
(Dok. pribadi)

Nun jauh di sebuah lembah hijau nan sejuk, berkumpul dan berkerumun ratusan remaja dan ibu-ibu beserta putra-putri kecil mereka. Dari pakaian dan penampilannya dapat ditebak jika mereka adalah komunitas pengajian atau para pengemban dakwah.

Hal itu juga dapat terlihat dari gaya bicara, sikap dan yel-yel yang mereka serukan, ditambah syahdunya takbir yang senantiasa membahana di antara mereka.

Suasana terlihat semakin seru manakala kebersamaan mereka diwarnai aktivitas game penuh makna. Permainan diawali dengan tantangan membuat yel antar regu, memasukkan air ke dalam botol, water balance, jembatan keseimbangan, tes wawasan Islam, dan peradaban Islam hingga berakhir dengan mencari jejak  panji (liwa-rayah) berbentuk mini.

Aktivitas mereka begitu bersemangat, kompak dan solid. Dari setiap permainan tampak sekali kerja timnya. Satu dengan yang lainnya bahu membahu menjalankan game demi game, sesekali diiringi tawa renyah dan sumringah.

Begitulah kisah indah yang terjalin saat bersama teman dan sahabat satu perjuangan. Kebersamaan adalah momen tak terlupakan dan selalu terukir indah dalam setiap benak insan. Entah itu bersama keluarga, kerabat, teman, sahabat ataupun lainnya. Kenangan inilah di suatu waktu akan muncul kembali menjadi kisah spesial.

Yup! spesial, sebab kenangan tersebut bisa berupa kisah lucu, haru maupun bahagia. Kadang saat tiba-tiba terkenang ekpresi kita akan berubah tersenyum, tertawa bahkan menangis. Rindu kala tak bersua, bahagia saat berjumpa. Inilah kekuatan Ukhuwah Islamiyyah, luar biasa bukan?

Persaudaraan dalam ikatan aqidah Islam (ukhuwah Islamiyyah) tentulah sarat keindahan dan kekuatan, bahkan kedahsyatannya melebihi ikatan nasab (hubungan darah). Maka pantaslah Islam sedemikian menjaga hingga memerintahkan kepada umat Muslim agar  menjaga persaudaraan ini. Hal ini selaras dengan Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran :103,

“Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian  karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelematkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.”

Rasulullah Saw juga bersabda :

“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal kecintaan, rahmat dan perasaan diantara mereka adalah bagai satu jasad. Jika salah satu bagian darinya merintih kesakitan, maka seluruh bagian jasad akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim : 2586).

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda :

“Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya seperti sebuah bangunan, saling menguatkan satu dengan yang lainnya”. Beliau sambil menjalinkan jari jemari beliau (HR Bukhari : 6027, Muslim : 2585).

Sayangnya, saat ini masih kita dengar dan kita jumpai banyak orang berselisih, terpecah lantaran perbedaan harokah, organisasi dan pemikiran. Masing-masing individu dan golongan mengklaim paling benar, yang lain salah. Lebih parah lagi ada yang mengkafirkan sesama saudaranya seaqidah (Islam).

Sekiranya kaum Muslim sadar, bahwa perselisihan dan perpecahan itu dipicu dari misi kaum Kuffar memecah umat Islam tentu kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Mereka (musuh Allah) mengetahui jika kekuatan kaum Muslimin adalah ukhuwah Islamiyyah, sehingga mereka terus mencari cara memecah belah dan mencerai-beraikan ikatan tersebut.

Jika membaca shirah nabawi karangan Ibnu Ishaq atau Ibnu Hisyam, berapa banyak musuh Islam dibuat ketar ketir oleh pasukan kaum Muslim yang jumlahnya lebih sedikit dibanding kan jumlah mereka. Isu nasionalisme, patriotisme, beragamnya negara bagian, wilayah negara beserta benderanya merupakan beberapa contoh hasil kerja mereka. Itulah ashabiyah.

Bukan hanya di situ, perpecahan diperparah dengan faham dan isme-isme yang diadopsi negara dengan mayoritas Muslim terbesar. Sebut saja kapitalisme, liberalisme dan sekularisme.

Dengan demikian sudah saatnya kebersamaan kaum Muslim diikat kembali dengan ukhuwah Islamiyyah. Merapatkan barisan dalam aktivitas dakwah Islam, membongkar semua makar kaum kuffar dan segera kembali terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya dalam segala aspek kehidupan, yakni aqidah, ibadah, pakaian, makanan dan muamalah (ekonomi, politik, hukum dan pemerintahan).

Inilah solusi solutif mempererat persaudaraan hingga kekuatan untuk melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya kembali terhimpun.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Uqie Naima

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar