Dua Momentum di Milangkala Ke-106 Paguyuban Pasundan

  Sabtu, 15 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Logo Paguyuban Pasundan

Didirikan 20 Juli 1913, pada 20 Juli 2019 nanti, Paguyuban Pasundan memasuki usia ke-106. Organisasi tertua di Indonesia yang terus bertahan menembus perubahan zaman. Tidak sekadar bertahan tetapi dalam perjalanannya kaya akan karya nyata. Pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan budaya menjadi core garapannya.

Setidaknya ada dua momen istimewa yang menarik diangkat jelang peringatan Milangkala Ke-106 Paguyuban Pasundan. Pertama berkenaan dengan garapan pendidikan. Kedua terkait dengan masalah kepemimpinan.

Terkait dengan garapan bidang pendidikan, pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (Unpas) paralel dengan pendirian Rumah Sakit Pendidikan menjadi momentum strategis. Dalam hal ini, publik bukan saja mendengar melainkan juga menunggu pembukaan jurusan kedokteran di Unpas yang sudah digembar-gemborkan tersebut.

Apalagi secara historis, pendirian Paguyuban Pasundan dulu diinisiasi oleh siswa-siswa Sunda di STOVIA (School Tot Opleiding voor Indlandsche Artsen). Sebuah sekolah kedokteran zaman Belanda di Batavia (Jakarta). Bisa dikatakan Fakultas Kedokteran di Unpas adalah sebuah keniscayaan.

Momentum kedua berkenaan dengan kepemimpinan. Pada tahun depan (2020), akan digelar Kongres Paguyuban Pasundan ke-43. Sebagai organisasi besar, memetakan suksesi kepemimpinan setahun sebelumnya bukanlah hal yang terlalu prematur. Walaupun budaya alih generasi di Paguyuban Pasundan cenderung menjunjung tinggi etika, bukan berarti miskin dinamika. 

Itulah dua momentum strategis---Kongres Paguyuban Pasundan ke-43 dan pendirian Fakultas Kedokteran Unpas---bertepatan dengan Milangkala Ke-106 Paguyuban Pasundan. Setidaknya yang bisa dijamah dari kaca mata luar.

Untuk hal-hal lainnya, sepak terjang Paguyuban Pasundan di bawah komando Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si sulit diungkap secara detail. Yang paling membenak, ungkapan-ungkapannya di media massa yang menyejukkan tatkala kondisi perpolitikan nasional sedikit memanas. Imbauan-imbauannya yang selalu mengingatkan akan pentingnya menjaga persatuan. Semangatnya selalu menggelora saat bicara harkat dan derajat orang Sunda.

Begitupun teriakannya seolah terus menukik ke telinga memperlihatkan semangat yang tak pernah pudar dari seorang Didi untuk menghalau kebodohan dan kemiskinan. 

Wilujeung Milangkala Ka-106 Paguyuban Pasundan!

Dadan Supardan
Penulis lepas tinggal di Cileunyi Kabupaten Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar