Meneropong Wajah Baru Pembangunan Jabar di Area Timur

  Jumat, 14 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Foto udara sejumlah kendaraan melintas di Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (31/5/2019). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Saat Idulfitri 1440 H, Bandara Internasional Jawa Barat (BJIB) Kertajati hanya menjadi tempat “rekreasi” warga sekitar. Sebelumnya di bulan Ramadan, Tol Cisumdawu telah menjadi arena balap liar.

Hal itu terjadi karena dua infrastruktur tersebut belum difungsikan. Meski demikian, dua atau tiga tahun ke depan infrastruktur tersebut digadang-gadang akan memiliki peran peting bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat (Jabar).

Pemerintah Provinsi Jabar merancang kawasan segitiga emas Rebana, yakni Cirebon, Patimban, dan Kertajati sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Jabar. Konsentrasi pembangunan difokuskan di tiga wilayah tersebut seiring dengan mulai dibangunnya Pelabuhan Internasional Patimban di Subang, serta beroperasinya BJIB Kertajati yang terkoneksi dengan tol Cipali dan Cisumdawu.

Konektivitas infrastruktur ini dinilai akan menjadi urat nadi bagi pergerakan barang dan jasa, mendukung aktivitas industri dan menstimulus pertumbuhan ekonomi daerah.

Isu lain yang mendasari munculnya kebutuhan sentra industri baru di Jabar adalah kebutuhan buruh murah untuk industri. Tingginya kenaikan upah upah minimum regional (UMR) setiap tahun membuat jarak antara upah di kawasan barat dan timur semakin jomplang.

Industri di kawasan Jakarta-Bekasi-Karawang sudah masuk ke fase jenuh. UMR sudah semakin tinggi dan ketersediaan lahan semakin terbatas. Hal ini mengakibatkan beberapa pabrik mulai tutup dan muncul wacana untuk pindah ke area Jawa Tengah dengan UMR yang lebih murah. Hal ini tentu tidak menguntungkan Jabar

Lahirlah kebutuhan untuk mencari pusat pertumbuhan ekonomi baru yang didukung oleh infrastruktur yang matang dan terkoneksi dengan aneka moda transpostasi  baik darat laut maupun udara.

Rencana pembangunan Segitiga Emas Rebana tentu membutuhkan investasi yang sangat besar. Karena itu Gubernur Jabar Ridwan Kamil merencanakan kawasan segitiga rebana menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk memudahkan investor masuk.

Sentra industri baru  akan membuat aliran dana yang begitu besar masuk ke tiga daerah tersebut. Industrialisasi akan menggeliatkan perekonomian daerah. Di atas kertas penyerapan tenaga kerja tentu akan mengurangi pengangguran.

kan tetapi secara faktual, kesempatan kerja ini tidak akan berarti signifikan apabila tidak dibarengi dengan kapasitas dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) di daerah. Ini menjadi tantangan baru bagi Pemprov Jabar, bagaimana agar SDM daerah siap menghadapi tantangan industrialisasi di desa mereka.

Jika tidak, tentu industri akan menyerap SDM berkeahlian dari luar daerah. Rakyat lokal hanya akan menjadi warga pinggiran dan pengangguran kelas bawah.

Roda industri kapitalistik tidak bisa dilihat sekedar penciptaan nilai semata. Dibaliknya ada sepaket gaya hidup baru yang akan mengekspansi area pedesaan. Kultur pesantren Cirebon akan dihadapkan dengan kota metropolitan baru. Masyarakat pantai akan dihadapkan pada menggeliatnya roda ekonomi di sekitar pelabuhan.

Tingginya laju imigran akan melahirkan asimilasi socio multikultural, yang jika tidak di filter dengan baik, akan membuka masuknya pemikiran dan nilai-nilai asing yang liberalistik dan sekuleristik. Tentu hal ini tidak sejalan dengan masyarakat Jabar yang religius.

Kita tidak menolak nilai madiyah dari industri, akan tetapi kita tidak bisa menutup mata dari efek bawaan kehidupan kapitalisme liberal yang penuh dengan gaya hidup dan pemikiran yang rusak seperti individualisme, sekulerisme, materialisme. Aneka ancaman ini sangat mungkin menjadi efek bawaan yang ikut datang pasca pembangunan infrastruktur dan kawasan industri di bawah naungan kapitalisme.

Kita perlu mewaspadai aneka bentuk liberalisasi kehidupan di segala sektor yang membuat “shock culture” hingga moderatisasi kehidupan pesantren yang banyak tersebar di Cirebon. Untuk itu dibutuhkan kewaspadaan bagi para tokoh dan ulama untuk terus mengikuti perkembangan isu ekonomi dan derivatnya.

Di sektor sosial, tentu akan terjadi gap yang makin signifikan antara pemilik modal dan rakyat lokal. SDM lokal yang tidak diserap oleh industri akan menjadi kelas pinggiran yang tak berdaya menghadapi inflasi daerah pasca tumbuhnya industri.

Hal ini sering diikuti oleh naiknya angka kriminalitas apabila tidak dibarengi dengan kerja dakwah dan edukasi mengakar ke masyarakat. Untuk itu  menjadi tugas bagi para penggiat  dakwah untuk terus mengedukasi masyarakat agar siap memasuki era industri tanpa kehilangan jati diri.

 

Irianti Aminatun

Anggota AMK

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar