Gang Sempit Sejuta Bengkel

  Rabu, 12 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Seorang perajin sibuk memproduksi senapan angin. Alat-alat berat setia menemaninya untuk menghasilkan produk terbaik khas Desa Cipacing. (Foto: Ventriana B)

Siang itu, kami menelusuri sepanjang Jalan Cipacing yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang. Meski terlihat biasa saja, sepanjang jalan itu menyimpan keunikan tersembunyi. Di sana berdiri deret toko yang menjual berbagai jenis senapan angin. Kami pun menghampiri salah satu toko tersebut. Usut punya usut, menurut sang pemilik toko, tak jauh dari toko itu terdapat sebuah gang perajin senapan angin. Rasa penasaran kami memuncak dan memutuskan untuk pergi ke sana.

Gang itu sempit, mungkin hanya cukup untuk dua orang berjalan beriringan. Sejenak kami berpikir, apa benar ini gangnya? Sepanjang menyusuri gang tersebut, kami hanya melihat deret rumah warga, tak ada yang berbeda. Sempat kami ragu, hingga semakin jauh kami berjalan, deru las dan pemotong besi mulai tampak memanggil kami untuk menelisik lebih jauh. Sebuah rumah kecil bernuansa hijau tampak sibuk. Terlihat para perajin di dalam sibuk memotong dan menghaluskan ujung-ujung besi. Ya, benar! Tempat ini memang desa perajin senapan angin.

Terkenal sebagai desa perajin senapan angin, kisah di baliknya pun dapat dibilang unik. Mbah Agung, salah satu yang dituakan oleh para perajin membagikan kisahnya. Meski dituakan, perawakannya tetaplah terlihat layaknya bapak-bapak pada umumnya, terbilang muda (tidak setua yang kami pikirkan). Sambil bencengkrama di pekarangan rumah, meski tak dapat memberikan kisah historis secara detail, ia tetap menemani dan berbagi apa yang ia ketahui.

Ia bercerita bahwa awal mulanya Desa Cipacing memproduksi jarum untuk menjahit karung. Di tengah produktivitas tersebut, sebuah jenis senapan angin memasuki pasar Indonesia, Benjamin. Warga yang sedari awal sudah aktif memproduksi jarum pun tertarik membuat sesuatu yang baru. Mereka meniru dan menciptakan senapan angin karya mereka dengan modal mencontoh dan keinginan.

Ada pula, pada laman limawaktu.id, salah seorang perajin bercerita bahwa awal mulanya Desa Cipacing memproduksi senapan angin adalah untuk kebutuhan. Sebelum merdeka, senapan ini digunakan untuk melawan penjajah, barulah setelahnya dibuat produksi untuk bisnis. Terlebih, pada akhirnya senapan ini juga digunakan untuk berburu dan membasmi hama, sehingga peminatnya bertambah banyak.

Selaras dengan itu, dilansir dari Republika.co, Desa Cipacing mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1960-an sebagai wilayah produsen senapan angin. Senapan angin ini dipakai oleh masyarakat seluruh Indonesia bahkan di dunia internasional. Saat itu produksi senapan angin mulai berorientasi kepada bisnis dan mulai bermunculan perajin berjumlah mencapai 10 orang warga yang disebut-sebut sebagai pelopor produksi senapan bagi masyarakat Cipacing.

Namun, kini di Cipacing jumlah perajinnya telah mencapai 30 orang. Puluhan warga disana berprofesi sebagai perajin dan memiliki bisnis rumahan yang diturunkan. Setiap rumahnya memiliki produksi yang berbeda, ada yang memproduksi spare part, ada pula yang bertugas sebagai perakit. Perbedaan ini diakibatkan oleh berbedanya keahlian setiap rumah tangga dalam memproduksi senapan angin. Salah satunya bengkel rumahan bernuansa hijau yang pertama kami temui di gang sempit itu.

Dari bengkel rumahan tersebut kami berbicara dengan salah satu perajin senapan angin. Ia mengarahkan kami pada salah satu bengkel tertua milik seorang sesepuh desa tersebut, Pak Dedi. Kami yang masih penasaran pun kembali menelusuri gang sempit tersebut. Sayangnya, sesampai di bengkel, kami belum sempat bertemu dengan beliau yang sedang terbaring sakit.

Semangat kami tak luntur, kami terus melanjutkan perjalanan, menelusuri uniknya Desa Cipacing ini. Hal tersebut membuahkan hasil, kami kembali menemukan bengkel lainnya di jalan paling kecil gang tersebut. Bengkel Herman’s Gun.

Perajin di sana terbilang muda dan tidak banyak, hanya tiga orang yang kami temui. Deru las dan pemotong besi semakin terdengar jelas menyapa kami ketika kami berdiri persis di depan bengkel Herman’s Gun.

Di sana kami disambut oleh seorang pria yang berperan sebagai marketing bengkel Herman’s Gun. Di sana, ia juga merangkap sebagai perajin di bengkel tersebut.

Beruntunglah kami, saat itu ia bersedia kami wawancarai. Ia bercerita bahwa para perajin senapan angin di Desa Cipacing tak semuanya penduduk asli. Masyarakat dari daerah lain juga turut serta menyambung asa di desa ini untuk menjadi perajin senapan angin. Salah satunya ia sendiri yang berasal dari Rancaekek.

Bengkel Herman’s Gun sendiri telah berdiri cukup lama, hak industrinya sudah dikantongi sejak tahun 1995. Namun, bengkel ini termasuk generasi baru apabila dibandingkan dengan bengkel-bengkel lain yang sudah terlebih dahulu memproduksi senapan angin.

Banyaknya peminat dari dalam daerah bahkan dari seluruh penjuru tanah air mengawali terbentuknya bengkel ini. “Biasanya saya masarin ke Sulawesi, Kalimantan. Kalau yang daerah Pulau Jawa ada daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar marketing bengkel Herman’s Gun.    Ia juga berkata bahwa para pemesan itu membeli untuk sekadar hobi atau bahkan berburu babi perusak tanaman warga.   

Ia menyampaikan, semua bengkel yang ada di Desa Cipacing sudah terdaftar dalam koperasi resmi. Koperasi tersebut bertugas mendata dan memberikan peraturan industri untuk mencegah penyelewengan. Karena walaupun industri senapan angin ini termasuk industri rumahan, namun tetap harus mengurus perizinan.

Marketing bengkel Herman’s Gun mengatakan, “Kalau ini (bengkel Herman’s Gun) sudah terdaftar, ada koperasinya. Setiap bengkel udah terdaftar di koperasi. Tuh KOCIMA, Koperasi Cipacing Mandiri. Setiap bengkel sudah ada yang mengkoordinir, sudah ada ketuanya.”

Kriteria senapan angin pun sudah ditentukan, standarnya berukuran kaliber 4,5 dan tidak boleh lebih besar dari itu. Hal ini diupayakan untuk menghindari penyelewengan-penyelewangan yang mungkin dilakukan. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa dikeluarkan dari naungan koperasi dan tidak boleh mendaftarkan diri kembali sebagai anggota. Dengan demikian semula yang statusnya usaha legal atau resmi berubah menjadi usaha ilegal.

Sebenarnya adanya hal ini pun bertujuan untuk mencegah para oknum pembuat senjata ilegal yang sempat mencoreng nama baik perajin Desa Cipacing. Para perajin itu bahkan menciptakan senjata api dengan kedok usaha senapa angin.

Selain itu, dilansir Republika.co, senapan angin yang seharusnya digunakan untuk berburu atau sekadar hobi justru digunakan oleh kelompok teroris. Kejadian itu terjadi pada tahun 2013. Hal ini tidak semata-mata disengaja, ada mereka (oknum-oknum) yang sengaja memasarkan senjata api. Ada pula para perajin asli yang dibohongi oleh pembeli yang tanpa diketahui adalah jaringan teroris dan senapan anginnya diasalah gunakan.

Salah satunya Cucu yang bercerita kepada Limawaktu.id, ia sempat dipenjara selama enam tahun akibat menjual senjata api kepada teroris. Ia sendiri memproduksi senjata api karena harganya yang lebih mahal. Memang jika kita lihat, perajin senapan angin pun berpotensi membuat senjata api karena keahlian yang mereka miliki. Hal ini yang sering disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Hanya saja untuk Cucu, hal ini tidak disengaja, ia tidak berniat menjual kepada teroris.

Akibat kejadian ini, selain mengalami kerugiaan materil dengan berkurangnya pemesan, beberapa kali juga aparat datang untuk memeriksa desa ini. Hal tersebut tentunya menjadi pengalaman buruk dan traumatis. Bahkan hal ini menjadi topik yang sangat sensitif untuk ditanyakan kepada warga di sana.

Marketing Herman’s Gun yang semula kami tanyai pun selalu berkelit dan seakan tidak menangkap pertanyaan kami. Berbeda dengan Mbah Agung, ia mau menjawab namun suasana pembicaraan pun berubah tak nyaman.

“Kita sudah mengubur jauh masalah itu, nggak mau diungkit-ungkit. Kita mengawali dari sekarang ke depannya bagaimana. Kalo kita balik lagi balik lagi kapan kita melangkahnya. Kan dampaknya tuh bukan apa-apa, masalahnya trauma masyarakat. Kalau itu diungkit-ungkit, trauma lagi, trauma lagi. Mau sampai kapan itu diungkit? Kalau mengungkap itu sama saja memojokkan Cipacing, sedangkan Cipacing sekarang ingin muncul lagi dengan nama yang benar-benar Cipacing dengan produk senapan,” terang Mbah Agung.

Jelas betul bagaimana Desa Cipacing mengalami jatuh bangun yang cukup dahsyat dan terasa kelam. Sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan kini warga Desa Cipacing sudah bangkit dan kembali pada rutinitas produksi senapan angin. Bahkan kini produksi mereka sudah berkembang dengan membuat senapan gas dan lebih modern. Terlepas dari tutupnya beberapa bengkel dan trauma yang dialami, eksistensi Desa Cipacing tidak luntur begitu saja. Bahkan kini Desa Cipacing menjadi contoh bagi wilayah lain yang memproduksi senapan angin. Sebut saja Cikeruh dan Galumpit yang juga memproduksi barang serupa.

Desa Cipacing juga mulai mengembangkan sayapnya dengan kegiatan menembak. Kegiatan tersebut dinaungi oleh klub menembak Pabeci yang didirikan oleh Mbah Agung sendiri. Beberapa kejuaraan pun berhasil mereka raih. Bahkan sempat menelurkan calon atlet untuk kejuaraan SEA GAME, meski sempat gagal di Senayan. Ia akui dengan adanya Pabeci ini setidaknya kejenuhan warga bisa terobati. Karena, Cipacing boleh saja menangis, tetapi semangat untuk bangkit tetaplah ada. Kobaran api itu tidak pernah mati, karena api itu abadi. Layaknya Desa Cipacing yang terus bangkit dan melangkah maju. (Fransiska Viola Gina P, Farah Azka Gazali)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar