Balada Sopir Bus Lewatkan Tradisi Mudik Lebaran

  Senin, 03 Juni 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Sopir bus jurusan Malang-Surabaya-Bandung, Jainuri. (Eneng Reni Nuraisyah Jamil/Ayobandung.com)

CICAHEUM, AYOBANDUNG.COM--Momen mudik selalu disambut suka cita oleh hampir sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Kegembiraan bertemu sanak keluarga, melepaskan penat, dan menyantap makanan khas Lebaran merupakan momen yang paling dinanti.

Di sisi lain, apakah pernah terbesit untuk jauh dengan keluarga di Hari Raya nan fitri itu? Tentu, rasanya sedikit orang yang rela kehilangan momen berharga itu, seperti Jainuri.  

Namun, apa daya sebagai orang yang berprofesi di sektor transportasi, Jainuri harus menghela nafas. Pasalnya, salah satu profesi yang tetap bekerja setiap Idulfitri adalah sektor transportasi. Tak aneh, bus antarprovinsi pun panen keuntungan saat musim mudik. 

Praktis seorang sopir seperti Jainuri pun tidak boleh libur. Keinginan dia berkumpul dengan keluarga di hari lebaran terpaksa urung demi loyalitas pada perusahaan tempat dia bekerja sebagai sopir bus.

AYO BACA : Cerita Warisno Gowes Sepeda Ontel Demi Mudik ke Kebumen

Bapak tiga anak itu mengaku rela membantu para pemudik yang ingin pulang kampung dengan bantuan jasanya sebagai sopir bus. Pria yang akrab disapa Nuri itu mengaku sudah dari 2010 berkerja sebagai sopir bus umum komersil. Sudah hampir sepuluh tahun pula ia jarang merasakan mudik ke kampung halamanny di Rembang, Jawa Tengah.

Ah mbak, saya gak pernah mudik semenjak jadi sopir bus. Kalau nugas gini, ya terus jalan. Saya jadi sopir bus umum ini udah sejak 2010. Pegang trayek Malang-Surabaya-Bandung dari 2016. Istri sama anak ada di kampung. Saya asli Rembang, Jawa Tengah, curhat Nuri memulai perbincangan dengan Ayobandung.com di kala menanti para penumpang Terminal Cicaheum, Senin (3/6/2019).

Lebaran bersama orang lain, apalagi jauh dari buah hati memang menjadi tantangan tersendiri bagi Nuri. Praktis untuk menyiasati agar bisa melepas rindu kala Hari Raya Idulfitri tiba, pria berusia 40 tahun itu mengaku selalu menghubungi keluarga di kampung lewat sambungan telepon.

Nyiasatinya ya paling kalau gak mudik karena lagi di perjalanan ya kita nelepon keluarga di rumah. Anak-anak juga kadang nanyain kenapa gak mudik lagi. Tapi ya gimana, mereka akhirnya ngerti, lanjut Nuri.

AYO BACA : Cerita Dokter yang Baru Pertama Kali Jaga Posko Kesehatan Mudik

Nuri mengaku mendapat kebijakan dari kantor tempat dia bekerja, bahwa di momen mudik lebaran, semua sopir harus masuk kerja. 

Kalau hari-hari sibuk gini kan enggak boleh libur kecuali hari biasa digantinya. Makanya di waktu padet gini sopir bus gak boleh mudik, katanya.

Kendati sibuk bolak-balik antarpenumpang lintas provinsi, pewarta Ayobandung amati, Nuri masih dengan gesit melihat setiap penumpang yang naik ke bus berwarna hijau itu. Pakaian dengan warna senada juga membuat Nuri tampak berwibawa. 

Sementara itu, Nuri sempat bercerita jika akses Tol Transjawa banyak membantu perjalanan arus mudik tahun ini. Dirinya pun bisa menghemat waktu apalagi bahan bakar jika ia memilih jalur Transjawa. Jalur tersebut menjadi pilihan favorit para supir bus yang saban hari mengantarkan penumpang. 

Oleh karenanya, ia berharap pengelolaan jalan tol Transjawa dan jalur cepat lainnya bisa terjaga dengan baik. Pasalnya waktu dan jarak tempuh yang mereka alami sangat membantu dalam perjalanan. 

Kalau lewat tol Transjawa lebih cepet sampe. Dulu macetnya minta ampun, tutup Nuri.

AYO BACA : Curhatan Kuli Panggul saat Musim Mudik Lebaran

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar