Kota Milik Semua Gender

  Minggu, 21 April 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi gender.(Pixabay)

Kaum perempuan menjadi salah satu kelompok yang kerap hak-haknya kurang atau bahkan tidak terperhatikan dalam pengelolaan dan pengembangan sebuah kota.

Kota dengan segala fasilitas dan isinya akhirnya menjadi sebuah tempat yang cenderung kurang aman bagi para kaum hawa.

Pasal satu United Nation on the Elimination of Violence Against Women memberi penjelasan antara lain bahwa kekerasaan terhadap perempuan adalah setiap tindakan kekerasan berbias gender yang dapat, atau kemungkinan besar, menyebabkan munculnya penderitaan fisik, penderitaan seksual maupun penderitaan psikis pada kaum perempuan.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kaum perempuan tidak jarang mengalami berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan di ruang publik, dari mulai yang paling ringan seperti tatapan mata hingga yang paling berat berupa penyerangan seksual.

Dalam kajian bertajuk Learning From Woman to Create Gender Inclusive Cities yang disusun oleh Women In Cities International -- sebuah lembaga nirlaba yang mengurusi soal-soal kesetaraan gender dan hak-hak perempuan di kawasan perkotaan -- diperoleh kesimpulan bahwa hampir enam puluh persen kaum perempuan di berbagai kota merasa kurang aman di lingkungan kota di mana mereka tinggal.

Perasaan kurang aman ini sudah pasti sangat merugikan mereka lantaran bakal ikut menghambat kaum perempuan dalam berpartisipasi secara aktif sebagai warga negara dalam banyak aspek kehidupan.

Terdapat beberapa indikator untuk menentukan apakah sebuah kota itu aman atau tidak bagi kaum perempuan. Salah satunya adalah apakah kaum perempuan dapat menikmati ruang-ruang publik serta dapat menikmati kehidupan publik yang ada tanpa dihantui perasaan cemas dan takut.

Indikator lainnya adalah terciptanya kondisi di mana kaum perempuan tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif sehingga hak-hak ekonomi, sosial, politik dan budaya mereka terjamin dengan sebaik-baiknya.

Yang juga tidak kalah penting adalah kaum perempuan dapat berpartisipasi dalam setiap proses pembuatan keputusan yang berdampak pada kehidupan masyarakat luas di mana mereka tinggal.

Pada tataran institusi pemerintahan, indikator kota yang aman bagi perempuan ditunjukkan dengan kehadiran nyata negara dan pemerintah lokal yang menyediakan perhatian, aturan pencegahan serta penegakan hukum bagi setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan, sekecil apa pun bentuk kekerasaan itu.

Karena kota pada hakikatnya milik semua jender, bukan hanya milik kaum laki-laki saja, maka menciptakan dan mengembangkan lingkungan kota yang aman bagi kaum perempuan adalah sebuah kewajiban mutlak bagi para pengelola kota di mana pun.

Salah satu kunci menciptakan kota yang aman bagi perempuan dapat dilakukan dengan penyediaan dan pengelolaan infrastruktur serta layanan publik yang andal.

Misalnya, menyediakan penerangan jalan yang memadai, pemeliharaan berbagai ruang publik, penyediaan toilet umum yang bersih, aman dan nyaman, menyediakan angkutan umum serta jalur pejalan kaki yang baik dan aman, menyediakan telefon umum, memasang kamera CCTV di tempat-tempat umum, meningkatkan jumlah petugas polisi untuk berpatroli secara teratur, baik dengan seragam resmi maupun dengan pakaian sipil, serta menyediakan nomor layanan khusus (hotline) untuk pelaporan dengan pelayanan prima yang memiliki sensitivitas gender. 

Selain itu, upaya menciptakan kota yang aman bagi perempuan juga dapat diupayakan lewat berbagai regulasi untuk mengakomodir dan memperkuat hak-hak dan kebutuhan fundamental kaum perempuan.

Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar