Gerakan Literasi, Bukan Hanya Menulis dan Membaca

  Minggu, 21 April 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan keliling dalam acara Festival Literasi 2019 bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang di Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (20/4/2019). Selain untuk meningkatkan minat baca di masyarakat, Festival Literasi 2019 ini dalam rangka menyambut Hari Buku internasional dan juga Hari Kartini. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

Sekarang ini, gerakan literasi sedang banyak digalakkan oleh setiap kalangan. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispupsida) Provinsi Jawa Barat baru saja menggelar festival literasi dalam rangka menyambut hari buku sedunia pada 20 April kemarin.

Menurut Harvey J. Graff (2006), literasi adalah suatu kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca. Namun tidak sedikit orang yang membaca tetapi memahami makna dari bacaan tersebut.

Membaca seharusnya bukan hanya sekedar mengeja kata-kata. Membaca adalah memahami makna tersurat yang ada dalam kata-kata.

Membaca dan menulis hanya sebagian kecil dari literasi. Mengajarkan dan mengenalkan budaya juga termasuk ke dalam literasi, yaitu literasi budaya. Selain literasi budaya masih ada literasi lainnya seperti literasi sains, literasi digital, literasi numerasi, literasi kewarganegaraan  dan literasi santun.

Literasi santun merupakan gerakan untuk mengajak masyarakat agar berbudaya santun, terutama di media sosial. Media sosial saat ini bukan hanya digunakan oleh orang dewasa, tetapi kaum muda dan anak kecil sudah aktif menggunakan media sosial.

Media sosial memang sudah menjadi kebutuhan utama. Selain bisa mendapatkan informasi dengan cepat, media sosial juga bisa menjadi media untuk berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Namun tanpa disadari masih banyak pengguna media sosial yang tidak menjaga bahasanya saat berkata-kata. Mereka menganggap bisa mengungkapkan apa saja yang ada dalam pikirannya tanpa memperhatikan sopan santun yang harus dijaga.

Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam gerakan literasi ini. Anak-anak harus dipantau dalam menggunakan media sosial. Mereka harus diajarkan bagaimana cara berbahasa yang baik, baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam media sosial.

Peran anak muda pun tak kalah penting. Dengan tidak berkata kasar dan menjaga adab dalam menggunakan media sosial itu sudah termasuk mendukung gerakan literasi santun.

Anisa Nurul Arifah
Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar