Menjelang KTT Prakarsa Sabuk dan Jalan kedua

  Minggu, 21 April 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Presiden Cina, Xi Jinping. (Reuters)

KTT Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiatives ) diselenggarakan di Beijing pada 25-27 April 2019. Sedikitnya 37 wakil negara asing, lembaga-lembaga internasional dan lainnya akan menghadiri KTT kedua itu. Pada KTT pertama yakni pada 14-15 Mei dihadiri 28 kepala negara dan wakil-wakil pemerintah asing. Diantaranya, Presiden Russia, Turki, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde Sekjen PBB Antonio Gutterres dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.

Seperti pada KTT pertama, kali ini Presiden China Xi Jinping juga akan membuka acara dengan suatu pidato, yang disusul kemudian dengan konferensi yang melibatkan semua peserta.

Pada KTT pertama, diadakan pula enam forum bersifat tematik. Forum dihadiri lebih dari 1.200 pejabat tinggi dari lebih seratus negara dan organisasi-organisasi internasional, di samping kalangan bisnis dan akademisi

Presiden Xi Jinping menggagas Prakarsa Sabuk dan Jalan ini enam tahun. Proyek ini bernilai triliunan dolar AS dan membentang jantung Eropa-Asia menuju Pasifik Selatan,Afrika Barat dan Amerika Selatan. Indonesia termasuk dalam jaringan ini.

Dia menambahkan usulan bagi Rute Jalan Sutera baru ini bertujuan membangkitkan pertumbuhan ekonomi global, setelah melemah akibat krisis ekonomi besar tahun 2007-2008. Atas dasar itu perlu mengkonsolidasikan sumber daya yang terpecah-pecah.

Demi Kerja Sama Ekonomi

Menlu China Wang Yi di Beijing pada Jumat lalu menyatakan, Prakarsa ini merupakan dasar bagi kerja sama ekonomi dan perdagangan. Proyek ini akan terdiri dari jalur laut yang menghubungkan Cina hingga Venesia melewati Indonesia, jalur darat yang menghubungkan China dengan Moskow dan Rotterdam (Belanda) melewati negara-negara di Asia Tengah.

Adapun jalur kereta api akan menghubungkan China dengan Moskow dan Rotterdam tetapi melaluli Astana,ibukota Kazakhstan. China juga merealisasikan Prakarsa ini di Kashmir, Pakistan yang membuat India marah karena melalui daerah yang disengketakan.

Inisiatif Tandingan

Amerika Serikat mengeritik BRI karena khawatir akan merupakan upaya mengacaukan arsitektur keamanan dan ekonomi internasional, membebani lembaga-lembaga internasional dan menyusutkan pengaruh Amerika Serikat.

Washington juga mengecam cara-cara China dalam memberikan pinjaman. Sebagai diketahui beberapa negara, seperti Sri Lanka tidak bisa membayar pinjaman dan sebagai gantinya memberi konsesi penguasaan pelabuhan selama 99 tahun kepada Cina.

Sebagai jawaban terhadap BRI, Washington bersama  Jepang dan Australia di tengah pertemuan APEC di Papua Nugini, November 2018 mengumumkan pembentukan Prakarsa Investasi Tiga Pihak untuk membantu kebutuhan infrastruktur di Indo-Pasifik. Kawasan Indo-Pasifik mencakup negara-negara yang berbatasan dengan Lautan India, Samudera Pasifik Tengah dan Barat serta Laut China Selatan. Nilai pendanaannya sekitar US$113 juta.

Prakarsa tersebut diperkuat dengan pengesahan menjadi UU oleh Presiden Donald Trump, Januari 2019.  Produk hukum ini meningkatkan kepemimpinan AS di Indo-Pasifik. Melalui berbagai ragam hubungan dengan India serta mengimbau China agar tidak merusak ketentuan-ketentuan yang didasarkan kepada hukum internasional.   

Sementara sejumlah anggota Kongres mengusulkan agar Kongres menciptakan dana tambahan ‘yang merupakan bantuan bilateral tambahan bagi negara-negara yang rawan terhadap target ekonomi dan diplomatik Beijing.

Disambut Baik

Sejauh ini sudah 173 proyek BRI yang berhasil diidentifikasi dan mulai dikerjakan.  Salah satu negara yang sudah melakukannya adalah Malaysia dan sikap tegas PM Mahathir menunjukkan  China tak keberatan terhadap koreksi. Pada 12 April lalu, kedua negara menurunkan biaya  pembangunan jalan kereta api pantai timur dari biaya semula 65,5 miliar ringgit menjadi 44 miliar ringgit disertai penyesuaian rute.

Sementara dalam konferensi internasional “Belt and Road Initiatives : Six Year After’ di Beograd pada 15 April 2019, disimpulkan BRI telah mengubah kompetisi diantara negara-negara Semenanjung Balkan menjadi kemitraan.

BRI juga membuka kerjasama ilmu pengetahuan diantara para pihak terkait. Disamping proyek-proyek investasi seperti Smederevo Steel mill (HBIS), Mining and Smelting Sombine Bor (Zijin) dan pendirian pabrik perusahaan Linglong di kawasan industri Zrejanin.

Dubes China untuk Serbia, Chen Bo, menambahkan perdagangan Serbia-China dalam enam tahun terakhir naik 55,7 persen, sedangkan jumlah wisatawan China naik lebih dari 16 kali lipat dengan mencapai jumlah 100 ribu orang tahun 2018.

Sejak digulirkan pada 2013, BRI menarik banyak neara untuk melibatkan diri karena basisnya adalah kerjasama. Di  lain pihak, AS menggagas perseteruan  di berbagai negara yang berujung pada konflik bersenjata dan penjualan perlengkapan militer.  

 

Farid Khalidi

                                                         

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar