Menelusuri Jejak Kerajaan Galunggung di Batu Mahpar dan Makam Walahir

  Sabtu, 20 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Batu Mahpar di kaki Gunung Galunggung.

TASIK, AYOBANDUNG.COM--Jauh sebelum dibuka sebagai objek wisata, Batu Mahpar di Desa Sukamulih Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya merupakan tempat yang sangat jarang dikunjungi banyak orang. Hanya satu dua orang yang berani ke lokasi Batu Mahpar karena belum banyak dikunjungi.  

Berdasarkan keterangan dari sesepuh yang tinggal di sekitar Batu Mabpar, Suryatman mengaku bersama beberapa warga mencoba membuka Batu Mahpar agar bisa dikunjungi masyarakat. Selain itu, pembenahan Batu Mahpar juga terkait dengan keinginannya mengetahui parit Galunggung sebagaimana yang tertulis dalam Prasasti Geger Hanjuang.

"Awalnya tahun 1996, saya dan beberapa waktu membuka jalur untuk mengetahui di mana persisnya parit pertahanan pada masa Kerajaan Galunggung," ujarnya, Sabtu (20/4/2019).

Dalam perjalanan parit itu, Suryatman yang akrab dipanggil Ijang itu membuka Batu Mahpar. Dalam pembukaan itu, dia menemukan beberapa benda artefak seperti patung Ganesha, sebagian patung harimau atau dalam bahasa Sunda disebut maung dan tulisan bahasa Arab yang berada di bebatuan.

"Kami sebagai warga di sini, informasi dari orang tua dan berdasarkan pengalaman spiritual memperkirakan batu mahpar sebagai tempat istirhatnya prajurit Kerajaan Pajajaran dan tempat ritual para batara pasa saat Galunggung sebagai kabuyutan," kata Suryatman.

Lalu seperti apa hubungan Kerajaan Galunggung dengan Batu Mahpar dan situs Makam Walahir? Suryatman menceritakan, kedua tempat itu tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Kerajaan Galunggung. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam beberapa raja dan petinggi di Kerajaan Galunggung. 

Menurut Suryatman, lokasi sekitar Batu Mahpar dan situs Makam Walahir merupakan pusat keilmuan pada masa Kabuyutan Galunggung. Berbagai pusat ilmu pengetahuan, keagamaan, politik, dan sosial berada di kabuyutan. 

"Kalau bahasa saat ini lebih ke pusat pendidikan, di dalamnya diisi oleh para resi. Kaitannya sangat erat dengan Galunggung, tapi semua sejarah belum teruangkap semuanya," tambah Suryatman. 

Di situs Makam Walahir, lanjut Suryatman, terdapat beberapa makam. Konon ada ribuan makam yang berada di sana. Naman baru sekitar 100 makam yang baru diketahui. Maka itu di antaranya Makam Ambu Sumaerah Wirakusumah, Makam Eyang Haji Sembah Dalem Wirahadi Kusuma, makam Mama Kiai Haji Dera Kusumah, dan Makam Eyang Kuncung Putih. 

Selain itu, Eyang Semplak Waja, Eyang Cigeuleum, Eyang Wirabuana, Eyang Kenong, Eyang Kuncung Manik, Eyang Langlangbuana, Eyang Sumedang, dan sejumlah makam leluhur Galunggung lainnya.

Selain adanya ratusan makam leluhur Galunggung, di lokasi itu juga ada tujuh batu Satangtung atau Linggabuana. Konon tempat itu berkumpulnya Prabu Siliwangi dan pra resi.

"Banyak peziarah yang datang mengharapkan karomah. Jadi intinya walahir dan batu mahpar itu tidak lepas dari perjalanan Kerajaan Galunggung pada masa silam," pungkas Suryatman.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar