Mereka-reka Kiamat

  Jumat, 15 Maret 2019   Rizma Riyandi
Dadan Supardan
Dulu sinetron “Kiamat Sudah Dekat” tayang di salah satu stasiun televisi swasta setiap Ramadan. Dilihat dari judulnya saja sinetron yang dibintangi oleh Deddy Mizwar itu bisa diasumsikan sebagai peringatan. Maksudnya agar kita tidak terlena dalam kehidupan dunia. Lantaran akan pasti tiba peristiwa maha dahsyat: kiamat. Bahkan sinetron tersebut menegaskan kedatangan kiamat telah dekat.
 
Terkait dengan isu kiamat, baru-baru ini publik diramaikan dengan kepindahan 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo. Mereka beringsut ke Malang konon untuk menyelamatkan diri dari ancaman kiamat.
 
Kepindahan warga Ponorogo itu mengingatkan pada keyakinan Suku Maya tentang kiamat tempo lalu. Dalam kalender Suku Maya, kiamat dipastikan terjadi pada 21 Desember 2012. Tanggal itu adalah hari terakhir siklus 144 ribu hari kalender, atau siklus penciptaan.
 
Pada pekan ketiga Desember 2012, akan diawali dengan bencana alam yang menghancurkan bumi atau pergeseran bumi sehingga ia bisa bersatu dengan "kembarannya" yang disebut Planet Nibiru.
 
Para ilmuwan dan penulis juga berargumen kemunculan badai matahari terjadi pada tahun tersebut. Penyebabnya, flare atau ledakan di atmosfer matahari. Ledakan itu, melontarkan partikel atomik menyerupai jilatan api dan mengandung medan magnet. Pancaran partikel dapat memengaruhi medan magnet bumi dan mengganggu frekuensi radio apabila sampai ke bumi. Menurut perhitungan mereka, besar badai itu akan bertambah saat matahari mencapai siklus maksimumnya, yang diperkirakan akan terjadi pada 2012.
 
Bahkan waktu itu di kawasan Sirince, Turki semua kamar sudah dipesan sekitar 21 Desember 2012. Pasalnya, ada rumor yang diyakini bahwa hanya orang-orang Sirince di Provinsi Izmir, Turki, yang masih hidup ketika kiamat datang. 
 
Sementara bungker di Jerman ikut ketiban rezeki. Sebuah penyedia bungker swasta menawarkan bungker yang bisa bertahan ketika terjadi kiamat. Ahli bungker profesional Jerman, Karl Hillinger, melaporkan terjadi kenaikan permintaan terhadap pemasangan sistem penyaringan udara, roti dalam kaleng, hingga makanan penyimpan energi untuk bertahan hidup.
 
Persiapan menjelang akhir zaman juga semarak Bugarach. Desa kecil di kawasan selatan Prancis ini diperkirakan menerima 20.000 hingga 100.000 pengunjung pada 21 Desember 2012. Karena memiliki ketinggian 1.230 meter dan mirip tempat pendaratan alien, Bugarach disebut bakal selamat dari kiamat.
 
Begitupun di Tiogkok. Beberapa perusahaan meliburkan usahanya pada 20-21 Desember 2012. Di Provinsi Sichuan, sejumlah warga tampak panik. Mereka guyub membeli lilin karena takut terjadi pemadaman. Bahkan Lu Zhegai, warga Zinjiang Uygur, telah menghabiskan waktunya untuk membangun bahtera yang menampung 20 orang sebagai antisipasi banjir. 
 
Namun Thomas Djamaluddin menentang semua asumsi di atas. Peneliti utama astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ini menilai pengaitan kiamat pada tahun tersebut dengan badai matahari tidaklah berdasar. Badai itu, kata dia, merupakan peristiwa biasa yang memiliki siklus sebelas tahun. Perulangan terjadi pada 2012-2013 nanti karena ada pergeseran siklus.
 
Lalu, sudah sedekat apakah peristiwa akhir zaman itu? Apakah sedekat jarak antara asteroid dan bumi? Atau sedekat bumi dan bulan? Seperti dikatakan Profesor Brian Cox. Ilmuwan dari Fakultas Physics and Astronomi Universitas Manchester itu menegaskan bumi tengah menghadapi risiko berhadapan dengan asteroid. “Ada asteroid dengan nama kita terpancang di sana yang akan menghantam kita,” kata Cox, kepada MailOnline seperti dikutip tempo.co, Juni 2014 lalu. 
 
Jadi menurut Cox, sekitar Maret 2015 kiamat nyaris saja terjadi. Waktu itu ada sebuah asteroid yang dinamakan 2014 EC. Jaraknya sekitar 61.637 kilometer dari bumi. Setara dengan sekitar seperenam jarak antara bulan dan bumi.
 
Asteroid 2014 EC bukan satu-satunya asteroid yang mengancam bumi. Buktinya, The National Aeronautics and Space Administration (NASA) tengah melacak keberadaan 1.400 asteroid. Bahkan para ahli mempercayai ada sekitar 1 juta asteroid yang berada di dekat bumi. Namun, hanya sebagian kecil yang sudah berhasil dideteksi.
 
Terkait dengan hal ini, para astronom asal Ukraina juga mengungkapkan sebuah asteroid sedang meluncur menuju bumi. Asteroid selebar 396,2 meter ini diprediksi mencapai bumi dan kemungkinan terjadi benturan pada Agustus 2032.
 
Jika menghantam bumi, asteroid yang diberi nama 2013 TV135 ini mampu menimbulkan kerusakan yang setara dengan ledakan 2.500 megaton nuklir. Jumlah ini jauh melebihi standar rudal Minute Man II milik Amerika Serikat yang hanya mengandung daya ledak sekitar 1 megaton. Oleh karena itu, dapat menimbulkan kerusakan mencapai lebih dari 100 ribu kilometer persegi dan dapat mengubah iklim bumi selama bertahun-tahun kemudian.
 
"Dampaknya bisa menjadi bencana, terutama jika menghantam tepat di wilayah yang berpenduduk," lapor para astronom Ukraina, seperti dilansir dari laman Daily Mail dan dikutip tempo.co, Jumat, 18 Oktober 2013.
 
Namun, kemungkinan asteroid itu menabrak bumi sangat kecil, yaitu 1 berbanding 63.000. Tentu ini cukup melegakan. Sebab, secara matematis, terdapat peluang sebesar 99,9984 persen bagi bumi dan kehidupan di dalamnya untuk terus berjalan seperti biasa.
 
Asteroid 2013 TV135 dianggap jauh lebih kecil dibandingkan jenis asteroid yang pernah menghantam bumi di era kepunahan dinosaurus pada 65 juta tahun lalu. Saat itu, diameter asteroid diketahui sebesar 9 kilometer.
 
Ancaman lain juga datang dari asteroid bernama 2007 VK184. Asteroid selebar 128 meter ini diyakini berpeluang lebih besar untuk menabrak bumi. Kemungkinannya 1 berbanding 2.700 untuk menabrak bumi pada 2048.
Masih menurut teori konspirasi yang beredar, kiamat sebagai dampak asteroid menghantam Bumi diperkirakan terjadi sekitar 22-28 September 2015. 
 
Peristiwa Tunguska pada 1908 bisa dirujuk sebagai dasar betapa asteroid mengancam bumi. Tunguska adalah kerusakan hutan yang luas di Siberia setelah obyek tak dikenal memasuki atmosfer bumi. Begitupun dengan peristiwa dramatik setelah itu. Yakni meledaknya obyek tak dikenal di atas Chelyabinsk, Rusia. Kekuatannya 20-30 kali dari bom atom Hiroshima. 
 
Akan tetapi, Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menyangkal adanya asteroid yang menghajar Bumi. Juru bicara NASA yang tidak disebutkan namanya berujar deteksi keberadaan asteroid menjadi prioritas utama NASA. "Kemungkinan tabrakan kecil, NASA tak mendeteksi adanya asteroid atau komet di jalur yang akan bertabrakan dengan Bumi," katanya seperti dilansir Mirror, Senin, 8 Juni 2015 (tempo.co, Selasa, 9 Juni 2015).
 
Ia mengatakan hampir semua asteroid akan hancur sebelum menyentuh bumi karena adanya suhu ekstrem akibat gesekan atmosfer. 
 
Skenario kiamat juga kerap dihubung-hubungkan dengan peristiwa mendekatnya bulan ke bumi. Pada posisi bulan terdekat dengan bumi, bulan tampak lebih terang dan besar. Begitu terjadi gerhana, bersemburatlah cahaya kemerahan dan di sekitar bulan agak gelap. Fenomena yang dinamakan bulan darah atau super-moon ini berjalan sekitar satu jam.
 
Studi lainnya dilakukan tiga perguruan tinggi di Amerika Serikat yaitu Univesitas Stanford, Princeton, dan Berkeley. Studi ini menyebutkan bumi tengah memasuki fase kepunahan baru. Seperti dikutip tempo.co Minggu (21/6/2015), disebutkan bahwa hewan bertulang belakang menghilang 114 kali lebih cepat dari normal. Kejadian serupa terjadi 65 juta tahun lalu, di saat dinosaurus punah. Saat ini tengah memasuki tahap keenam dari kepunahan massal. Kepunahan hewan dan manusia itu otomatis akan menghancurkan kehidupan di bumi.
 
Sementara Astronom dari ITB, Premana W. Premadi, mengatakan suatu saat dengan perkiraan waktu yang masih lama, hidrogen matahari akan habis untuk direaksikan secara nuklir. Masalah ini berhubungan dengan gravitasi yang melemah sehingga matahari mengembang dan menelan bumi.
“Sampai ke bumi kiamat, tapi tidak kiamat buat alam semesta,” ujarnya di sela konferensi "Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam" di Aula Barat ITB, 3 November 2014 silam (tempo.co, Kamis, 06 November 2014).
 
Namun Premana mengatakan matahari sampai sejauh ini masih beraktivitas normal. Antara lain dengan membakar gas hidrogen dan membuat helium. Posisi matahari pun stabil karena bobotnya diimbangi tekanan radiasi yang sifatnya memenuhi ruang.
 
Menyikapi persoalan kiamat, Majelis Ulama Indonesia sejak lama meminta masyarakat tak terpengaruh isu yang menyebut kiamat bakal terjadi pada 21 Desember 2012. Menurut Ketua MUI Ma'ruf Amin, datangnya kiamat tidak bisa diprediksi.
 
Ma'ruf menjelaskan, ajaran Islam menyebut kiamat didahului oleh sejumlah petanda. Namun ia meyakini, hingga kini tanda itu belum juga muncul.
 
Seorang imam di Rawalpindi, Pakistan, Muhammad Adam Khan mengatakan hanya Allah yang mengetahui kapan kiamat bakal terjadi. Menurutnya kepastian itu telah ditulis dalam Alquran. "Hanya orang tahayul yang percaya 21 Desember sebagai hari kiamat," kata Khan di The News, Ahad, 16 Desember 2012 (tempo.co, Selasa, 18 Desember 2012).
 
Dadan Supardan
Penulis lepas tinggal di Cileunyi Kabupaten Bandung 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar