Festival Honen Matsuri, Penghormatan terhadap Penis

  Jumat, 15 Maret 2019   Andres Fatubun
Warga mengarak sebuah patung penis raksasa terbuat dari kayu yang dinamakan oowasegeta. (italyjapanbridge)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Setiap tanggal 15 Maret, warga desa Desa Komaki di Prefektur Aichi Jepang merayakan festival panen yang disebut Honen Matsuri.

Pesta adat ini bukan hanya untuk merayakan hasil bumi yang melimpah tapi juga ternak, uang, dan keturunan yang mereka dapatkan.

Uniknya, perayaan itu mengarak sebuah patung penis raksasa terbuat dari kayu yang dinamakan oowasegeta. Patung penis mengkilap itu ditempatkan dalam sebuah kuil kecil, mikoshi. Dalam kepercayaan Shinto, patung penis itu merupakan lambang kesuburan.

Saking uniknya, festival panen ini menjadi acara tahunan yang menarik wisatawan mancanegara dan menjadi event internasional.

Tak cuma patung penis yang menjadi pusat perhatian warga, pernak-pernik serba penis juga menjadi buruan dalam perayaan yang sudah berumur sekitar 1000-an tahun tersebut. Misalnya cokelat penis, permen, takoyaki, sosis, boneka, hingga aksesoris hiasan.

Bagi sebagian warga, festival ini jelas membuat dahi berkerenyit. Sebab sepanjang mata memandang, beragam bentuk dan gambar penis tersebar dimana-mana. Namun, bagi warga setempat hal itu sudah menjadi biasa.

Di Indonesia, penghormatan atas kelamin pria bisa ditemukan dalam artefak Lingga dan Yoni di Kompleks Siti Inggil, Keraton Kasepuhan Kota Cirebon. 

Lingga merupakan alu atau alat penumbuk yang bentuknya seperti alat kelamin laki-laki sebagai simbol kejantanan pria. Sedangkan Yoni, yang menjadi alas untuk menumbuk adalah simbol perempuan dan melambangkan kesuburan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar