Capres dan Tuhan

  Selasa, 12 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Attia/Ayobandung.com)

Setiap menjelang Pilpres, sejak beberapa periode sebelumnya, selalu ada ritual debat capres dan cawapres yang dianggap sebagai media untuk menilai kompetensi, wawasan, dan pengetahuan para capres dan cawapres oleh para pemilih.

Debat capres ini juga merupakan ajang memperlihatkan penguasaan medan, materi, dan memperkenalkan program-program yang dianggap strategi jitu dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia ke jenjang yang lebih layak lagi dari era sebelumnya.

Namun, setiap kali diadakan, debat ini menghasilkan reaksi yang beragam di kalangan masyarakat Indonesia.

Dari sekian kali penyelenggaraan, tidak ada satu pun penilaian yang sempurna untuk salah satu capres dan cawapres yang tampil. Masyarakat selalu merasa ada yang kurang, terlebih lagi pakar dan pengamat selalu mengkritisi akan segala kekurangan dan kelemahan-kelemahan para kontestan yang tampil.

Tidak terkecuali dengan debat capres dan cawapres untuk pemilihan presiden 2019 ini. Misalnya, untuk debat pertama, masyarakat menilai bahwa debat ini hanya seremonial dan menjadi syarat yang tidak berarti apa-apa. Pada debat pertama, kesakralan debat telah dinodai dengan diberikannya kisi-kisi pertanyaan debat  kepada setiap capres dan cawapres, sehingga bobot dan kualitas debat dipertanyakan.

Berkembang polemik di masyarakat bahwa para capres dan cawapres kehilangan wibawa, termasuk para aparatur yang terlibat dalam acara debat. Capres dan cawapres ibarat kontestan lomba baca puisi atau sedang lomba monolog yang hanya membacakan teks yang tertera di depannya.

AYO BACA : Kualitas Segel Kotak Suara Pemilu 2019 Mencemaskan

Debat capres dan cawapres kedua pun dinilai tidak seru oleh masyarakat, karena monoton dan dinilai penguasaan materi terhadap tema debat oleh kedua kontestan tidak sesuai harapan. Masyarakat menilai bahwa para kontestan dinilai tidak menguasai materi debat tentang tema debat seputar pangan dan energi. Dan masih banyak persoalan lain yang dialamatkan kepada calon orang nomor satu di Indonsia, yang semuanya memperlihatkan ketidakpuasan atas calon presiden berikutnya di bumi pertiwi ini.

Banyak penilaian yang dilakukan masyarakat atas para calon penguasa nomor wahid ini yang serbakurang, terlebih para tim sukses yang senantiasa mengkritisi akan program dan lawan politiknya. Sepertinya setiap capres dan cawapres selalu dinilai tidak ada yang sempurna, dan betul-betul menguasai materi debatnya. Begitu pun di mata para tim sukses, kandidat yang menjadi lawan politiknya itu tidak ada yang sempurna, semuanya salah, semuanya kurang, semuanya lemah. Sebaliknya tim sukses dan kandidatnyalah yang paling hebat dan layak jadi presiden.

Inilah kondisi negara kita saat ini, ketika penilaian pada orang lain yang selalu rendah, tidak percaya akan kemampuan dan kelebihan orang lain, dan senantiasa menilai lemah orang lain. Di samping itu, harapan dan tuntutan mereka terlalu berlebihan terhadap calon pemimpin.

Sebaliknya, tim sukses masing-masing kandidaat seperti yang sudah dibutakan dengan kekuasaan. Padahal kandidatnya punya kelemahan dan kekurangan, tetapi seperti hilang akal sehatnya dan tidak bisa berpikir objektif lagi. Setiap tim sukses terus mencari kelemahan dan kekurangan tim sukses dan capres rival, kemudian dengan menggunakan berbagai cara agar pesaingnya ini benar-benar jatuh dan tidak berdaya. Beberapa kali bisa kita saksikan di berbagai media sosial dan acara-acara kampanye dan lain sebagainya, sehingga pembusukan sampai pembunuhan karakter tidak bisa lagi dihindari.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kandidatnya, setiap tim sukses berbuat maksimal untuk kandidatnya, dan tidak pernah lelah untuk terus mencari akal pembenaran sekaligus pembelaan kepada calonnya ketika ada orang yang mengkritik, mengevaluasi, ataupun menyerang atas perilaku, sikap, program, dan ucapan-ucapan yang keliru. Pokoknya dibuat sempurna, dan tampak tidak ada cacat. 

Harus disadari bahwasannya capres dan cawapres bukanlah Tuhan yang bisa menguasai segala sesuatu dengan sempurna dan fasih. Capres dan cawapres juga bukan dewa yang tanpa cacat dan kekurangan. Capres dan cawapres membutuhkan pertolongan orang lain dengan tim sukses untuk membantunya menyiapkan data dan fakta. Termasuk dalam pengerjaannya.

AYO BACA : Bawaslu RI: Jabar Termasuk 5 Daerah Pelanggar Pemilu Terbanyak

Capres dan cawapres idealnya adalah seorang pemimpin yang kalau nanti terpilih, dialah yang akan mencari dan menentukan siapa saja yang dianggap bisa membantu dirinya untuk mewujudkan semua program yang dijanjikan saat kampanye jepada para pemilihnya.

Capres adalah calon seorang pemimpin yang dengan kekurangan dan kelemahannya harus dibantu dan menerima masukan dari para pakar dan praktisi yang ahli dibidangnya. Capres dan cawapres adalah pemimpin yang bukan mengerjakan segala sesuatu dengan pemahaman, ilmu dan pengalamannya sendiri.

Rasanya masyarakat terlalu tinggi kalau berharap capres dan cawapres menguasai berbagai persoalan. Capres dan cawapres adalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dalam menguasai fakta-fakta tentang berbagai persoalan di negeri ini.

Dengan latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda, capres dan cawapres jangan dipaksa harus menguasai dan memahami yang bukan bidang atau profesinya sama sekali. Capres dan cawapres adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan daya ingat, daya analisis, dan daya kritisnya.

Capres dan cawapres juga bukan Tuhan yang kebal dikritik ketika nanti menjadi presiden tidak bisa kita kritik. Ini kondisi yang dikhawatirkan nanti ketika capres ini terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Jangan kebal terhadap kritikan. Karena Tuhan saja tidak kebal terhadap kritikan. Jangan sampai masyarakat dibuat takut, malu, sungkan, kepada presiden sehingga tidak berani untuk mengkritik, mengevaluasi, dan memberikan saran-saran kepada presiden.

Tuhan saja berani kita kritik ketika doa yang kita panjatkan tidak kunjung terkabul. Kenapa tidak kepada presiden yang sesungguhnya kita yang menentukan nasibnya tidak berani kita kritik, kita evaluasi, kita beri nasihat agar dia menjalankan tugasnya dengan baik. Jadi, jangan menukar posisi dan fungsi rakyat, presiden dan Tuhan.

Encep Dulwahab

Pengajar di Jurusan Jurnalistik UIN Bandung.

AYO BACA : Yana Minta Ormas Sukseskan Pemilu 2019 dan Kang Pisman

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar