Berita Pilihan: Mengenal Sesar Garsela Hingga Ratusan Rumah di Cicadas Terendam Banjir

  Rabu, 13 Februari 2019   Fira Nursyabani
Ilustrasi berita pilihan.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Redaksi ayobandung.com telah merangkum berita-berita pilihan yang terbit pada Selasa (12/2/2019). Kami membahas mengenai Sesar Garsela (Garut Selatan) yang menjadi penyebab gempa bumi di Kabupaten pada Senin (11/2/2019). Selain itu, pada malam hari kirmir sungai Cicadas dilaporkan jebol sehingga ratusan rumah terendam banjir.

Berikut berita selengkapnya:

 

Mengenal Sesar Garsela, Penyebab Gempa di Kabupaten Bandung

Gempa berkekuatan 4.1 skala Richter (SR) sempat mengguncang Kabupaten Bandung pada pukul 13.08 WIB, Senin (11/2/2019). Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Bandung menyatakan, gempa tersebut berasal dari aktivitas Sesar Garsela.

Kepala Sub-bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Jawa Barat di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Ahmad Solihin mengatakan, Sesar Garsela terdapat di perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut hingga ke Garut bagian selatan. Sesar tersebut terbagi ke dalam dua segmen yang memiliki panjang berbeda. 

“Sesar Garsela mempunyai arah barat daya-timur laut dan dibagi ke dalam dua segmen, yaitu Segmen Rakutai (utara) dan Segmen Kencana (selatan) yang masing-masing mempunyai panjang 19 kilometer dan 17 kilometer,” ungkapnya kepada ayobandung.com, Selasa (12/2/2019). 

Dia mengatakan, secara geologi Sesar Garsela belum banyak diteliti secara detail, sehingga hal-hal seputar sesar ini belum terdefinisikan dengan baik. Meski demikian, sudah ada kajian kegempaan yang menunjukan sesar tersebut aktif, meskipun gempa yang disebabkan oleh aktivitasnya dapat dikatakan tidak terlalu besar.

“Sudah ada kajian seismik (kegempaan) sesar tersebut dari Supendi dkk pada 2018, yang memperlihatkan bahwa sesar tersebut aktif. Namun sejauh ini gempa-gempa yang terjadi tidak dengan kekuatan besar, yakni di bawah 5 skala Ritcher,” jelasnya. 

Meski demikian, dia menerangkan, dalam dua tahun belakangan tercatat terjadi dua gempa bumi yang cukup menimbulkan kerusakan di dua tempat berbeda akibat aktivitas sesar tersebut. Bahkan, potensi gempa dari sesar tersebut masih tetap ada.

“Tercatat ada dua kali gempa bumi merusak yang diakibatkan oleh sesar tersebut, yaitu pada 6 November 2016 dan 18 Juli 2017. Sesar Garsela sudah dinyatakan aktif, jadi potensi gempa bumi dari sesar ini tetap ada, hanya kita masih belum tahu kapan dan seberapa besar gempa yang akan terjadi,” papar Ahmad.

Ia mengungkapkan, daerah yang rawan terdampak aktivitas Sesar Garsela adalah daerah-daerah yang berada dekat dengan sesar tersebut. Bila berkaca dari dua gempa sebelumnya, Pangalengan dan kawasan Kamojang adalah salah satu daerah yang rawan.

“Daerah yang rawan terhadap aktivitas Sesar Garsela adalah daerah yang berdekatan dengan sesar tersebut. Atau bisa berkaca dari kejadian gempa bumi merusak yang diakibatkan sesar tersebut, yaitu pada 2016 dengan daerah terdampak di Pangalengan dan pada tahun 2017 di daerah Kamojang (Garut),” ungkap Ahmad. 

Mengingat Sesar Garsela adalah sesar aktif yang dapat menimbulkan gempa serta kerusakan, Ahmad mengatakan penelitian mendetail untuk memahami sesar ini lebih jauh sangat diperlukan. Setelah itu, wilayah tata ruang di sekitarnya juga harus dilakukan.

“Penelitian secara detail terhadap sesar tersebut harus dilakukan, sehingga kita bisa mengetahui potensi (bahaya) dari sesar tersebut, baik dari potensi besarnya gempa yang dapat dihasilkan, serta besar guncangannya di wilayah sekitar sesar tersebut. Setelah didefinisikan lebih detail, penataan ruang dan pembangunan di wilayah rawan gempa bumi harus disesuaikan atau mengikuti SNI 1726-2012 (bangunan tahan gempa bumi),” jelas Ahmad. 

Di samping itu, rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat terkait mitigasi dampak bencana gempa bumi juga mendesak untuk dilakukan. Peningkatan kapasitas tersebut juga mencakup kemampuan untuk menyelamatkan diri. 

“Penting untuk melakukan peningkatan kapasitas masyarakat terkait mitigasi bencana gempa bumi, baik dari pengetahuan tentang gempa bumi dan bahayanya, juga pengetahuan dan kemampuan dalam penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi,” tuturnya.

Pasalnya, sumber gempa bumi di wilayah Garut selatan tak hanya bersumber dari pergerakan Sesar Garsela.

“Sumber gempa bumi di wilayah Garut selatan tidak hanya dari Sesar Garsela. Gempa bumi dari zona subduksi di selatan Pulau Jawa, guncangannya dapat berdampak pada wilayah tersebut. Potensi gempa bumi perlu diketahui oleh semua, tidak untuk dihadapi dengan ketakutan dan kepanikan, namun dihadapi dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan,” kata dia. 

 

Kirmir Sungai Cicadas Jebol, Ratusan Rumah Tergenang Banjir

Ratusan rumah di RW 09 dan RW 10, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, terendam banjir akibat jebolnya kirmir Sungai Cicadas, pada Selasa (12/2/2019). Lurah Mekarjaya, Tati Rohayati mengatakan jebolnya kirmir sungai itu disebabkan oleh derasnya debit air sungai karena sejak sore Kota Bandung diguyur hujan deras.

Jebolnya kirmir terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, terjadi di perbatasan Cijaura dan Mekarjaya. Karena derasnya air sungai, sehingga tidak bisa tertahan oleh kirmir, ujarnya kepada ayobandung.com saat ditemui di lokasi banjir, Selasa (12/2/2019).

Ia menjelaskan, kirmir yang jebol diperkirakan panjangnya sekitar 14 meter. Menurut dia, selain karena derasnya air sungai, kondisi kirmir yang sudah lama juga turut menjadi penyebab kerusakan sehingga air menggenangi rumah-rumah warga yang berada di dekat bantaran sungai. 

Kondisi kirmir udah lama dan tua, selama ini sudah tiga kali terakhir pada tahun 2017. Untuk ketinggian air yang merendam rumah warga sekitar 60 cm sampai satu meter, katanya.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam bencana ini. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Kelurahan Mekarjaya telah berkoordinasi dengan instansi terkait agar segera memperbaiki kirmir yang jebol. 

Kami langsung hubungi dinas terkait, DPU dan BBWs juga. Tidak ada korban jiwa cuma rumah dan alat rumah tangga ada yang rusak. Kami pun telah mengimbau warga, ujar Tati.

Sementara itu, salah seorang warga RT 01 RW 09 yang turut menjadi korban, Inu (45), mengatakan kirmir yang jebol terbuat dari batu bata. Ketinggian air yang merendam rumahnya mencapai 25 cm. 

Tinggi air di dalam rumah saya setinggi paha orang dewasa. Kalau yang diluar mencapai sekitar satu meteran, karena sebelumnya rumah saya sudah ditinggikan semeter, ungkap Inu.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar