Liputan Khusus: Aneka Lukisan dan Mainan Jadul di Museum Barli

  Senin, 11 Februari 2019   Fathia Uqimul Haq
Koleksi di Museum Barli yang merekam sejarah pelukis ternama Barli di Jalan Prof.Dr.Sutami, Bandung. (Fathia Uqimul Haq /ayobandung.com)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM--Museum Barli memiliki bangunan yang seperti setengah lingkaran. Kawasan tersebut menyatu dengan rumah sang empunya museum, keluarga Barli. 

Namun, rumah keluarga berada di belakang museum. Museum Barli sendiri berada di tengahnya dengan bangunan setinggi tiga lantai.  

Memasuki museum, pengunjung telah berada di lantai dua. Ruangan pertama terdapat beberapa kursi dan meja yang cukup banyak untuk anak-anak mengikuti les melukis bersama anak Almarhum Barli, yakni Adit Barli.

Di setiap sudut terdapat buku-buku dan etalase yang memajang hasil karya anak didik. Mulai dari lukisan, hasil gambar menggunakan krayon, komik hitam putih, dan kerajinan dari tanah liat. 
Sebuah dinding yang berada di ujung ruangan menuju pintu selanjutnya memajang banyak karya anak-anak Barli Art School. 

Setelah menuju pintu kedua, terdapat ruangan ke kanan dan ke kiri masih dengan sudut melingkar. Ruangan di sayap kanan terdapat aneka mainan jadul yang dipamerkan. 

Mulai dari mobil-mobilan seukuran balita  yang berasal dari besi, permainan berbasis kartu yang sudah usang namun tetap apik dipajang di dinding, hingga robot-robotan dan mobil-mobilan mini.

Sebagian besar mainan jadul ini berasal dari era 80-an. Rata-rata negara Jepang yang dominan memproduksi mainan anak-anak. 

Bahkan, para kolektor pun banyak yang memburu mainan jadul ini. Seperti aneka gim bot dengan ragam bentuk dan warna. 

Etalase di tengah ruangan pun sangat memenuhi museum ini. Bagi orang tua zaman dulu, Museum Barli adalah tujuan tepat untuk bernostalgia. 

Berpindah ke sayap kiri dari lantai dua ini. Penjaga Museum Barli, Ade Mulyani mengatakan ruangan tersebut dipenuhi dengan lukisan Agung Wiwekaputra, anak pertama Barli yang mewarisi bakat melukisnya. 

Di sepanjang lorong ruangan, lukisan besar dengan cat minyak menghiasi tanpa jeda. Gambar anak-anak yang sedang bermain kuda, bermain balon, dan seorang penari perempuan dengan lenggokan khasnya.

"Di lantai tiga ada ruang lukisan Pak Barli," ujarnya, Senin (11/2/2019). 

Saat pintu lantai tiga terbuka, pengunjung akan dihadapkan pada satu lukisan besar bergambar Barli Sasmitawinata. 

AYO BACA : Rekam Jejak Dunia Jurnalistik di Museum Pers Nasional

Di dinding kirinya ada lukisan Megawati Soekarnoputri yang dilukis langsung oleh Barli di ruangan pribadi kepresidenan Istana Negara. 

Lukisan itu sebagai bentuk terima kasih atas terpilihnya Barli sebagai penerima piagam penghargaan Satya Lencana Kebudayaan oleh presiden RI kelima itu di tahun 2001. 

Ruangan paling atas ini menjadi saksi sejarah atas pelukis kenamaan Barli. Terdapat banyak rekam jejak dari surat kabar Belanda hingga Indonesia. Prestasi dan sejarahnya ditulis di berbagai koran lama. 

Lukisan-lukisan Barli juga menggambarkan banyak sejarah tentang teman-temannya. Mulai dari lukisan Affandi, temannya yang juga seorang pelukis ternama.

Lukisan Affandi dibuat oleh Barli saat ia berusia 72 tahun. Affandi merupakan salah satu anggota Kelompok Lima Bandung. 

Barli melukis sosok Affandi secara langsung. Lukisan wajah ini mempresentasikan figur dan ekspresi personalitas pelukis Affandi. 

Barli juga melukis potret dirinya dengan cara melihat langsung wajahnya melalui cermin. Ia melukis dirinya sendiri pada usia 60 tahun saat teknologi fotografi belum berkembang pesat seperti saat ini. 

Adapula lukisan Sudarso, anggota dari Kelompok Lima Bandung. Barli melukis Sudarso secara langsung saat dirinya berusia 77 tahun. Sudarso merupakan salah satu anggota dari Kelompok Lima Bandung. 

Lukisan Barli terpampang nyata di setiap sudut ruangan. Mulai dari melukis aktivitas pasar, Red Square di Moscow, juga lukisan potret diri istrinya sendiri. Tak lupa, di pintu keluar, foto Barli dan kedua istrinya nyata menjadi penutup dari tur museum ini. 

Ade menjelaskan Museum Barli ramai setiap sore oleh anak-anak dengan kegiatan les melukis. "Dari hari Senin sampai Sabtu ada kegiatan melukis," katanya. 

Museum yang berlokasi di Jalan Prof. Dr. Sutami no.91 Bandung ini buka dari pukul 09.00 sampai sore usai les selesai. Meskipun dari pagi hingga menjelang les museum terlampau sepi, Museum Barli tetap dikunjungi oleh beberapa orang.

"Kadang-kadang ada pelajar dan mahasiswa juga," ucapnya.

Ade menyebutkan pengunjung dapat langsung memasuki Museum dengan mengisi buku tamu dan membayar tari Rp15000 per orang. Kemudian, ia bisa melihat museum mulai dari lantai dua dan tiga. Sebab di lantai satu, diisi dengan Kopi Barli yang belum kembali beroperasi.

"Rencananya tanggal 22 Februari ini Kopi Barli kembali buka," kata Ade. 

AYO BACA : Museum Kota Bandung Wadahnya Kegiatan Seru

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar