Soeara Merdeka, Koran Pertama Setelah Proklamasi, Terbit di Bandung (1)

  Senin, 11 Februari 2019   Rahim Asyik
Sejumlah koran Soeara Merdeka yang terbit di Bandung dan Tasikmalaya dari tahun 1945-1947. Koran ini dianggap sebagai koran pertama di Indonesia yang terbit setelah proklamasi kemerdekaan. Sementara versi resmi menyebutkan bahwa koran Berita Indonesia yang pertama. (Sumber: koleksi pribadi Rahim Asyik)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Lazim dimafhumi bahwa koran yang pertama terbit setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia adalah Berita Indonesia yang terbit di Jakarta. Sumber informasi itu adalah terbitan ”Detik dan Peristiwa” (17 Agustus 1945-21 Djanuari 1950) yang dikeluarkan oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia.

Dalam dokumen itu ditulis, ”13 September 1945, Berita Indonesia terbit: surat kabar pertama dalam Republik Indonesia.”

Informasi itu nyaris tak ada yang mempertanyakan sampai saat ini. Akan tetapi, benarkah demikian? Pertanyaan menyangsikan sebetulnya pernah meluncur dari mulut sosok yang kuat diduga bernama Mohamad Koerdie, salah seorang perintis pers nasional sekaligus pelaku sejarah.

Dalam tulisan yang dimuat di Harian Pagi Indonesia, 17 Agustus 1950, Koerdie tidak memastikan, tapi menantang orang untuk membuktikan kebenaran bahwa koran yang pertama terbit setelah proklamasi kemerdekaan bukan Berita Indonesia, melainkan Soeara Merdeka yang terbit di Bandung.

AYO BACA : Koran Belanda di Bandung: Algemeen Indische Dagblad de Preangerbode

Bagaimana bisa? Pertama-tama harus dijelaskan bahwa cikal-bakal Soeara Merdeka adalah koran Tjahaja. Mohamad Koerdie adalah pemimpin redaksi di kedua koran itu. Proses Tjahaja menjadi Soeara Merdeka terjadi tak lepas dari kalahnya Jepang dalam Perang Dunia II dan diproklamasikannya kemerdekaan RI pada bulan Agustus.

Sebulan dua bulan setelah proklamasi, yakni September dan Oktober, koran-koran yang semula dikelola Jepang diambil alih oleh bangsa Indonesia. Koran Asia Raya di Jakarta misalnya, jadi koran Merdeka (mulai terbit 1 Oktober 1945). Demikian halnya dengan Tjahaja di Bandung jadi Soeara Merdeka (6 September 1945-16 Juli 1947), Sinar Baroe (Semarang) jadi Warta Indonesia (September 1945-November 1945), Sinar Matahari (Yogyakarta) jadi Kedaulatan Rakyat (27 September 1945-sekarang), dan Soeara Asia (Surabaya) jadi Soeara Rakjat (Oktober 1945-Juli 1947).

Informasi tentang itu bisa dilihat dalam tulisan Andi Suwirta, ”Dari Bandung ke Tasikmalaya: Suratkabar Soeara Merdeka pada Masa Revolusi Indonesia, 1945-1947” (makalah dalam ”Seminar Nasional 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah” di Aula Barat ITB, pada tanggal 12-14 Agustus 2005).

Proses koran Tjahaja Menjadi Soeara Merdeka

AYO BACA : Sejarah Berdirinya Perdi, Organisasi Kewartawanan Cikal-bakal PWI (1)

Setelah Jepang menyerah kalah dan setelah proklamasi, situasi di Bandung jadi tidak jelas. Padahal idealnya, apa yang tadinya dikuasai Jepang, diserahkan dengan tata tertib kepada Sekutu yang dipimpin Inggris. Termasuk koran Tjahaja yang dikeluarkan oleh Djawa Shinbun Kai.

Sayangnya, suasana waktu itu tidak memungkinkan. Baik Jepang maupun pihak Indonesia, masih tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka semua seperti menunggu instruksi dari pusat. Sayangnya, instruksi tak kunjung datang. Kalau tak ada instruksi, mereka khawatir salah bertindak.

Akibatnya, ”Seluruhnja rencana untuk dengan melalui saluran ’tata-tertib’ menjerahkan Indonesia dengan segala-galanja oleh tentara Djepang kepada tentara Serikat mendjadi kalut dan praktis tidak dapat dilaksanakan,” tulis Harian Pagi Indonesia yang terbit 17 Agustus 1950 itu.

Demikian halnya dengan Tjahaja. Kantor itu sedianya akan menghentikan penerbitannya, menutup kantor dan menyegel pintunya, untuk diserahkan kepada Sekutu. Namun usaha itu gagal. Sebagian wartawan Tjahaja berikut pegawai yang berdiri di belakangnya memaksa pucuk pimpinan Tjahaja yang bernama Takayanagi untuk tetap menerbitkan koran.

Takayanagi tak berdaya ”... dan memang ta’ mungkin berbuat apa2. Ia terus passief sadja, artinja tidak mengambil tindakan jang tegas, seperti tjukup dengan menasihatkan sadja dengan perkataan: nanti Sekutu marah....”

Ketika proklamasi dibacakan, para wartawan di Tjahaja sebenarnya sudah mendengar informasi itu pada siang hari itu juga. Informasinya sampai lewat radio di kantor Domei (kantor berita Jepang). Akan tetapi Tjahaja tak segera memberitakannya.

Ada tiga alasan kenapa Tjahaja tak memberitakannya. Pertama, Jepang masih mengawasi isi penerbitan Tjahaja sebagaimana biasanya. Kedua, masih ada bantahan juga dari Jepang. Jadi, belum jelas mana yang benar? Ketiga, ada keengganan dari editor pelaksananya.

AYO BACA : Soeara Merdeka, Koran Pertama Setelah Proklamasi, Terbit di Bandung (2)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar