Saatnya Perusahaan Penerbangan Berbenah

  Minggu, 10 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Pixabay)

Perusahaan-perusahaan penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) berjasa besar dalam mengembangkan pariwisata, memperlancar arus barang dan jasa serta mendidik masyarakat menggunakan angkutan udara. Jadi, meskipun jarang disebut, airlines berperan dalam menumbuhkan perekonomian kota, provinsi, dan nasional.

Ringkasnya dapat digambarkan sebagai berikut. Sedikitnya ada tujuh penerbangan per hari dari Jakarta ke Tanjung Pandan, Belitung. Mayoritas penumpangnya adalah wisatawan yang berniat melihat lokasi syuting film Laskar Pelangi, menikmati keindahan pantai dan sebagainya.

Namanya juga wisatawan, ia tak ragu mengeluarkan uang untuk berbelanja suvenir, makan-minum, sewa kendaraan dan lain-lain. Selama tiga hari, setidaknya menghabiskan setidaknya Rp3 juta rupiah per orang, termasuk biaya hotel.

Kehadiran wisatawan sangat bermanfaat secara ekonomis. Uang yang dibelanjakannya menggerakkan bisnis barang dan jasa dengan trickle down effect yang tak terbayangkan. Misalnya, pedagang di Tanjung Pandan, menjual amplang dan penganan yang berasal dari Bangka. Otomatis masyarakat Bangka kebagian booming pariwisata di pulau tetangganya itu.

Salah satu sebab dari derasnya turis ke Belitung itu lantaran harga tiket pesawat yang kompetitif. Low cost carrier mengenakan ongkos Rp800.000 hingga Rp1,2 juta rupiah per penumpang pergi-pulang. Angka yang bisa ditanggung turis berbiaya cukupan.

Booming Penumpang

Keberadaan low cost carrier membuat jumlah penumpang meningkat tajam. Secara nasional, pada 2015 jumlah penumpang domestik mencapai 82,5 juta. Setahun berikutnya 89,3 juta, tahun 2107 berjumlah 96,8 juta, dan Januari-November 2018 mencapai 86,2 juta. Sebelumnya, jumlah penumpang domestik tahun lalu diperkirakan 140 juta.

Tampaknya, booming transportasi disebabkan harga tiket yang relatif murah atau terjangkau.Pada bagian ini yang disasar adalah konsumen yang sebenarnya peka terhadap perubahan harga. Mereka akan berpindah ke moda transportasi lain atau menunda perjalanan jika terjadi kenaikan harga.

Kini, kemudahan menumpang maskapai berbiaya murah mulai menjauh. Airlines membatasi barang bawaan dengan cara mengenakan biaya untuk bagasi mulai 9 Februari lalu. Padahal biasanya mengizinkan penumpang membawa bagasi sampai 20 kilogram, belum termasuk yang dibawa ke kabin.

Salah Kaprah

Ketika dibuka keran izin penambahan jumlah perusahaan penerbangan pada akhir dekade 1990-an, saat itu juga telah terjadi salah kaprah. Sejumlah maskapai menyebut dirinya low cost carrier (LCC) dengan membanting harga.

Padahal LCC berarti ongkosnya murah dan no frills. Manajemen menghilangkan fasilitas-fasilitas yang tidak diperlukan seperti lembaran tiket, tidak menggunakan garbarata, tak menyediakan bahan bacaan, lokasi parkir pesawat jauh dari terminal karena yang lebih murah, mendarat di bandara khusus LCC dan lain-lain. Pramugari juga ditugaskan membersihkan kabin.

Rute-rute yang diterbangi umumnya jarak pendek, di samping memaksimalkan penggunaan pesawat sembilan jam sehari, makanan atau minuman tidak gratis, kursi pada jajaran depan dikenai tambahan harga, bagian dalam atau bagian luar badan pesawat ditempeli iklan, bisnis kargo dimaksimalkan, dan semuanya dilakukan untuk mengimbangi harga tiket yang murah, serta seandainya jumlah minimal 60% dari total kursi tidak tercapai.

Ketika itu, manajemen mencampuradukkan LCC dengan layanan mendekati full service carrier hingga pengeluaran lebih besar dari seharusnya. Kemudian ketika persaingan semakin tajam, satu demi satu bertumbangan karena berbagai sebab seperti Jatayu Air, Star Air, Indonesia Air, Air Wagon, Mandala Tiger Air, Batavia Air dan sebagainya.

Seperti biasa, berlaku hukum besi dalam ekonomi. Lion Air mendominasi. Ia juga mendirikan Batik Air yang menyaingi Garuda yang full service carrier, dan Wings Air yang menerbangi daerah perintis. Garuda dan anak perusahaannya Citilink serta Sriwijaya Air/Nam Air, Air Asia Indonesia membuntuti.

Sangat tidak mudah untuk secara fair mengetahui kondisi keuangan maskapai, sebab hanya Garuda yang sudah mencatatkan sahamnya di BEI. Posisi Garuda kini makin kuat karena melakukan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan Sriwijaya/NAM Air.

Risiko Tinggi

Percaya atau tidak, keuntungan maskapai hanya dua-sampai tiga persen. Sejalan dengan itu, ia mesti diperkuat dengan bisnis katering, perusahaan pemeliharaan atau perbaikan, dan jasa-jasa lain. Namun, yang tetap harus dipegang baik oleh LCC atau No Frills Airlines dan Full Service Carrier, seperti Garuda, bukan cost cutting tetapi peningkatan efisiensi demi keselamatan penerbangan.

Hal ini karena bisnis penerbangan sangat berisiko, lantaran banyak faktor penghambat. Dari yang telah dikemukakan di atas hingga yang bersifat insidental, seperti landasan terkelupas di Bandara Juanda, Kamis (7/2/2019). Pesawat harus mendarat di Bandara lain yang berarti ada biaya ekstra untuk bahan bakar dan landing fee serta dampak lain dari keterlambatan.

Risiko lain adalah depresiasi rupiah terhadap mata uang asing, kenaikan bahan bakar, resesi ekonomi dan sebagainya. Beban utama yang mesti ditanggung maskapai adalah bahan bakar, sekitar 30% dari biaya operasional perusahaan. Disusul sewa pesawat dan ongkos perawatan periodik/on condition/korektif, administrasi, charge (asuransi, jasa-jasa di Bandara, biaya navigasi dan sebagainya).

Konon untuk mengurangi pengeluaran yang besar, manajemen mengambil tindakan yang berisiko, yakni mengurangi keselamatan penerbangan. Dalam konteks ini, pengawasan dan tindakan tegas regulator menjadi sangat penting.

Pengenaan biaya kelebihan bagasi dan harga tiket yang lebih kompetitif sebenarnya merupakan koreksi untuk penyehatan. Bila belum cukup, mau tidak mau, kebijaksanaan yang ekspansif harus dikurangi sampai tercapai keseimbangan baru.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar