Saatnya Zero Waste Lifestyle atau Bumi Makin Tidak Layak Huni

  Jumat, 11 Januari 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi saatnya zero waste lifestyle. (Mali Maeder/Pexels)

Bulan April 2018 kita dikejutkan dengan berita matinya ikan paus yang menelan 30 kg sampah plastik di Pantai Selatan Spanyol. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata penyu dan biota laut lain pun banyak yang mengalami nasib serupa. Tentu jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, terutama permasalahan sampah plastik, tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga keberlangsungan hidup hewan dan biota laut lainnya.

Kenapa sampah plastik mengancam lingkungan serta keberlangsungan makhluk hidup? Salah satunya disebabkan oleh sulit terurainya sampah plastik dibandingkan jenis sampah organik dan kertas.

Untuk sampah organik, semisal sisa buah-buahan dan sayur-sayuran dapat terurai dalam jangka waktu 1-2 bulan. Sedangkan untuk sampah kertas masa terurainya antara 2-5 bulan. Sampah plastik sendiri masa terurainya bertahun-tahun walaupun cukup variatif. Hal ini tergantung dari komparasi material yang menyusunnya.

Sebagai contoh, untuk kantong plastik saja membutuhkan waktu 10-20 tahun, sampah sedotan plastik 200 tahun, sampah sikat gigi 400 tahun, sampah popok sekali pakai 450 tahun bahkan untuk sampah styrofoam dan tisu basah tidak dapat terurai.

Sampah plastik jika terus dibiarkan akan menyebabkan pencemaran tanah.

Menurut data Statistik Potensi Desa (PODES) Tahun 2018 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statsitik, masih ada 2.200 desa/kelurahan di Indonesia yang terkena pencemaran tanah. Walaupun termasuk jumlah yang sedikit dibanding pencemaran air dan udara, tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja.

Masalah persampahan tidak lepas dari pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pola konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan pesat di sektor industri juga merupakan imbas dari meningkatnya pendapatan rumah tangga dan makin beragamnya pola serta jenis konsumsi masyarakat.

Kondisi tersebut menyebabkan bertambahanya volume, beragamnya jenis dan karakteristik sampah dan limbah, termasuk sampah plastik. Dan faktor melimpahnya sampah plastik ditengarai akibat kemajuan teknologi yang menawarkan kepraktisan dalam hal kemasan plastik.

AYO BACA : Zero Waste Youth Festival, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik

Perilaku Peduli Lingkungan Hidup

Bencana akibat melubernya sampah bisa ditekan jika ada kesadaran masyarakat untuk berperilaku peduli terhadap lingkungan. Salah satunya dengan memilah sampah yang organik maupun anorganik.

Sebenarnya kepedulian sampah bisa dilihat dari cara pengelolaan sampah yang dilakukan rumah tangga, tapi data menunjukkan belum sepenuhnya masyarakat Indonesia sadar akan lingkungannya.

Data BPS tahun 2014 mencatat bahwa di Indonesia sebanyak 8,75 persen rumah tangga memilah sampah dan kemudian sebagiannya dimanfaatkan, sebanyak 10,09 persen rumah tangga memilah sampah kemudian dibuang, sedangkan persentase sisanya menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga tidak memilah sampah.

Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS menunjukkan hanya 1,2 persen rumah tangga yang melakukan daur ulang. Yang perlu mendapatkan cukup perhatian adalah rumah tangga yang membakar sampah mencapai 66,8 persen. Padahal kita ketahui bersama bahwa pembakaran sampah merupakan sumber pencemaran udara dan berbahaya untuk pernapasan.

Sejalan dengan data di atas, kepedulian masyarakat tentang sampah plastik masih rendah dan dapat dilihat dalam aktivitas berbelanja. Hal ini dapat dilihat dari data hasil Survey Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) BPS tahun 2017 yang menyatakan bahwa hanya ada 18,6 persen rumah tangga peduli sampah plastik ketika berbelanja.

Kepedulian terhadap sampah plastik ini ditunjukkan dengan cara menolak plastik kemasan dan atau membawa tas belanja sendiri.

Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Modul Ketahanan Sosial (Hansos) BPS di tahun yang sama, menunjukkan bahwa terdapat 54,8 persen rumah tangga yang tidak pernah membawa tas belanja sendiri. Hanya 8,7 persen yang selalu membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja, selebihnya 26,5 persen menyatakan kadang-kadang, dan 9,9 persen menyatakan sering membawa tas belanja ketika berbelanja. Kedua fakta ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kepedulian lingkungan.

Zero Waste Lifestyle, sebuah solusi

AYO BACA : Sampah Kiriman di Sungai Cikapundung Terus Berdatangan

Dewasa ini perilaku peduli lingkungan hidup tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Karena di tempat kita bersih, tetapi menjadi masalah di tempat lain, salah satunya tempat pembuangan akhir, sampah hanya berpindah tempat saja. Belum lagi dengan kenyataan sampah plastik yang sulit dan bahkan ada yang tidak bisa terurai. Dengan begitu, perlu diadakan program gaya hidup minim sampah (Zero Waste Lifestyle).

Zero Waste Lifestyle adalah gaya hidup positif yang meminimalkan penggunaan bahan yang mencemari lingkungan dan menolak pemakaian bahan sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan akhirnya adalah tanpa sampah sama sekali.

Dalam pengertian yang lain, Zero Waste Lifestyle berisi prinsip yang dijadikan gaya hidup untuk memperpanjang siklus hidup sumber daya sehingga menjadi produk yang dapat dipakai kembali (www.zerowaste.id).

Selain itu, Zero Waste Lifestyle juga menjauhi single use plastic atau plastik yang hanya sekali pakai. Tujuannya agar sampah yang sulit terurai tidak dikirim ke TPA.

Konsep Zero Waste Lifestyle bukanlah suatu hal yang baru. Banyak negara sudah memulainya sejak lama. Beberapa negara seperti Amerika, Australia, Swedia, Selandia Baru, dan beberapa negara Eropa lainnya sudah menerapkan konsep tersebut untuk menjadi solusi konkret pengelolaan sampah. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia kebijakan Zero Waste Lifestyle belum dicanangkan secara nasional, namun beberapa kota sudah memulainya dalam bentuk program Zero Waste Cities. Sebagai contoh, di Provinsi Jawa Barat ada 3 kota yang ditargetkan menjadi kota percontohan penerapan konsep Zero Waste Cities, yaitu Kota Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Yang terakhir viral adalah kebijakan Provinsi Bali yang menyatakan bahwa mulai tahun 2019 Bali melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Walaupun demikian, kita bisa memulainya dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Dimulai dengan menerapkan prinsip-prinsip Zero Waste Lifestyle melalui gerakan 5R yang dipopulerkan oleh Bea Johnson, yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recycle dan Rot atau dalam Bahasa Indonesia berarti Menolak, Mengurangi, Menggunakan Kembali, Mendaur Ulang, dan Membusukkan.

  1. Refuse (Menolak), kita bisa menolak kantuk plastik  nonbiodegradable saat berbelanja. Tentu kita pun harus mempersiapkan kantung belanja sendiri dari rumah.
  2. Reduce (Mengurangi), kita dapat menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Selain itu, kita bisa menggunakan produk yang dapat diisi ulang.
  3. Reuse (Menggunakan kembali), kita dapat menggunakan kembali wadah/kemasan dengan fungsi yang sama secara berulang-ulang. Contohnya menggunakan baterai recharge, menggunakan plastik bekas minyak goreng sebagai pengganti polybag.
  4. Recycle (Mendaur ulang), kita dapat menggunakan produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai. Selain itu, kita juga dapat melakukan penanganan sampah organik menjadi pupuk kompos. Serta melakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
  5. Rot (Membusukkan), kita dapat membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara membuat lubang biopori. Hal ini tentu saja dapat mengurangi beban TPA secara signifikan.

Ke depan, untuk mendukung gerakan 5R dan menumbuhkan Zero Waste Lifesyle ini perlu adanya kolaborasi dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan terutama masyarakat sebagai penyumbang dan penerima ekses negatif pencemaran. Namun, tanpa harus menunggu kita bisa menyadari arti penting menjaga lingkungan dengan memulai Zero Waste Lifestyle dari diri kita dan lingkungan terkecil kita

Akhirnya, kita berharap Zero Waste Lifestyle ini akan turut serta menjaga dan menyelamatkan lingkungan kita dari pencemaran tanah jangka panjang. Semoga!

Siti Anisah, S.Si

Statistisi di BPS Kabupaten Kuningan

AYO BACA : Ilmuwan ITB Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar