Bahasa di Media Sosial

  Kamis, 06 Desember 2018   Rizma Riyandi
Bahasa di Media Sosial

Media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Media sosial mampu merubah cara orang mencari informasi. Media sosial pun mampu merubah cara orang berkomunikasi dengan orang lainnya. Selain itu, media sosial juga mampu merubah dan memodifikasi bahasa yang digunakan dalam komunikasi itu.

Modifikasi itu bisa kita temui dalam berbagai bentuk. Dalam media sosial, bahasa Indonesia mampu berkembang melahirkan istilah-istilah baru. Baik yang diserap langsung dari bahasa Indonesia, maupun campuran dengan bahasa asing. Tidak hanya itu, suatu kata dalam bahasa Indonesia dapat memiliki arti baru di media sosial. Media sosial juga dapat menyebarkan bahasa itu dengan masif.

Di Indonesia, Facebook menjadi media sosial dengan pengguna terbanyak. Berdasarkan data dari We Are Social and Hootsuite, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia pada tahun 2018 mencapai 130 juta akun. Di awal kemunculannya, Facebook bahkan menjadi media sosial yang paling populer. Dengan kondisi seperti ini, penyebaran bahasa Indonesia hasil modifikasi dapat dengan mudah tersebar melalui Facebook.

Contoh nyata dari penyebaran itu saya alami sendiri. Saat masih aktif menggunakan Facebook, lini masa saya dipenuhi dengan bahasa modifikasi itu. Bahasa modifikasi yang saat itu populer ialah mengganti huruf-huruf tertentu menggunakan angka. Misalnya, ada seorang teman yang menulis, “ Aduh lapar” menjadi “4duh l4p4r”. 

Bahasa modifikasi itu lebih sering kita kenal dengan bahasa alay. Sebenarnya, bahasa itu tidak lahir ketika Facebook populer. Namun, dengan adanya Facebook bahasa itu tersebar secara masif. 

Modifikasi bahasa yang terjadi dalam media sosial tidak hanya mengganti huruf dengan angka. Tapi, muncul pula istilah-istilah baru yang biasanya hasil plesetan dari bahasa yang sudah ada. Contohnya, istilah “mimin” yang lahir dari istilah “admin”. Ada juga “momod” yang lahir dari istilah “moderator”. Selain itu adapula istilah “hengpong jadul” yang merupakan plesetan dari “handphone jadul (telepon genggam lawas)”.

Arti baru pada kata yang sudah memiliki arti sendiri pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga dapat muncul di media sosial. Hal ini dapat dengan mudah kita jumpai dalam komunitas atau forum tertentu di media sosial. Misalnya pada komunitas Kaskuser dalam forum Kaskus.

Dalam forum Kaskus kita bisa menemukan kata yang sebenarnya ada dalam bahasa Indonesia. Namun memiliki makna yang berbeda dalam forum tersebut. Misalnya kata “Sundul”, dalam KBBI berarti menundukkan kepala untuk menumbuk (menanduk), menangkis bola dengan kepala. Sementara dalam Kaskus, kata “Sundul” memiliki arti baru yaitu, menaikkan sebuah unggahan agar menjadi yang teratas dalam forum.
Polisi Bahasa di Media Sosial

Media sosial tidak hanya menjadi tempat menyebarnya bahasa-bahasa yang jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Media sosial, juga dapat menjadi tempat untuk mengedukasi masyarakat tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang mulai bermunculan akun-akun media sosial yang dengan sukarela menjadi “polisi bahasa”.

Salah satu akun yang populer di Twitter ialah @ivanlanin, akun miliki seorang Wikipediawan pecinta bahasa Indonesia. Ivan Lanin dalam akunnya sering mengoreksi bahasa-bahasa yang selama ini penggunaannya salah dan tidak tepat. Ia tidak jarang dengan sukarela memberikan informasi tentang penulisan sebuah kata atau kalimat yang sesuai dengan kaidah.

Selain Ivan Lanin, ada juga @spa-si, sebuah akun yang dikelola oleh Jarar Siahaan, wartawan senior dari Toba Samosir. Dalam akun tersebut, ia kerap kali memberikan kritik kepada media-media daring yang salah dalam berbahasa. Kritik yang ia sampaikan juga keras. Ia tidak hanya menyampaikan kritik, tapi juga terkedang memberikan koreksi seperti apa seharusnya penulisan yang benar.

Namun yang disayangkan, penyebaran edukasi itu tidak semasif dengan penyebaran bahasa-bahasa yang ada di luar kaidah. Padahal edukasi ini diperlukan, agar masyarakat tahu bagaimana kaidah bahasa Indonesia yang benar. Sehingga saat dalam forum resmi mereka tidak menggunakan bahasa yang asal.

Menggunakan bahasa gaul dalam pergaulan sehari-hari (ruang informal) sah-sah saja. Tapi yang menjadi masalah, penggunaan bahasa gaul kerap kali dibawa ke dalam forum resmi. Seperti saat menulis makalah, atau saat mepresentasikan sesuatu dalam forum resmi.  Kita harus dapat memilah kapan menggunakan bahasa gaul dan kapan menggunakan bahasa Indonesia yang susuai kaidah.

Naufal Ikbar

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar