Lipkhas: Menelusuri TPU Cikadut, Makam Tionghoa Terbesar di Kota Bandung

  Kamis, 06 Desember 2018   Nur Khansa Ranawati
Salah satu makam di TPU Cikadut (ayobandung.com/Nur Khansa)

MANDALAJATI,AYOBANDUNG.COM--Berbicara mengenai kultur etnis Tionghoa yang telah memperkaya kehidupan masyarakat Bandung Raya sejak tahun 1800-an, tidak lengkap tanpa membahas bagaimana warga etnis tersebut dikembumikan di akhir hayatnya, yang notabene berbeda dengan cara pemakaman mayoritas warga Bandung yang beragama Islam. 

Beberapa perbedaan tersebut nampak mulai dari bentuk nisan, luas tanah pemakaman,hingga kebiasaan dan tata cara ziarah. Untuk itu, Tim ayobandung.com sengaja mengupas tuntas seluk beluk pemakaman Tionghoa dalam Liputan Khas (Lipkhas) bertema "Pemakaman Cina".

Di Kota Bandung, terdapat sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) etnis Tionghoa, dan yang terbesar adalah TPU Cikadut atau biasa dikenal dengan sebutan Kuburan Cina. TPU yang terletak di bilangan Jatihandap tersebut memiliki luas kurang lebih 6 hektar dengan geografis tanah perbukitan sehingga peziarah harus melewati jalan yang cukup menanjak untuk sampai ke makam yang dituju.

Makam-makamnya tersebar di sejumlah komplek dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Sebagian berbentuk cukup sederhana tanpa atap, dengan nisan bertuliskan aksara Hangzi, sementara sebagian lainnya dilengkapi bangunan tersendiri, terkadang dengan pagar dan kunci.

Ayobandung.com berkesempatan menyusuri TPU Cikadut pada Minggu (2/11/2018) siang menuju sore. Awan kelabu sudah menggelayuti sebagian besar langit Kota Bandung kala itu. Tak berselang lama selepas ayobandung.com melewati sejumlah makam, gerimis turun. Oleh karenanya, jalanan berangsur sepi dan suasana cukup mampu menahan keinginan kami untuk berjalan lebih jauh ke dalam area TPU yang sebagian tertutup ilalang.

Meski demikian, kami cukup beruntung ketika sesosok pria bertubuh kecil berjalan menghampiri dari area bawah salah satu bangunan makam dengan pilar-pilar dan kubah bercat putih bertuliskan "Atlantic Park".

"Sini, Neng, lihat-lihat aja ke bawah, di sana juga ada makam," ungkap pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Abah Abang tersebut. Usut punya usut, dia merupakan salah satu kuncen terlama di TPU Cikadut yang dipercaya oleh sejumlah keluarga Tionghoa untuk menjaga makam keluarga mereka. Berdasarkan keterangannya, dia mulai coba-coba mencari pekerjaan di area TPU sejak berusia 10 tahun.

"Abah mah di sini sudah dari 10 tahun ikut bantu-bantu, abah warga asli di sini," ungkap pria bernama asli Juhri tersebut, sembari membukakan kunci pintu besi menuju bagian dalam sebuah menara abu di belakang area makam Atlantic Park. 

AYO BACA : Hidden Valley Hills, Wisata Alam yang Instagramable Banget

Selain untuk menaruh abu kremasi dan tulang-belulang salah satu anggota keluarga Wong Pak Kian, sang 'penghuni' Atlantic Park, bangunan putih kusam  dengan luas sekitar 2x5 meter tersebut juga dipakai sebagai tempat istirahat Juhri sehari-hari bila tengah menjaga makam. Di bagian luar menara dan kamar tersebut terdapat tulisan "Monumen Peringatan Jasa Ibu". 

Di samping itu, Juhri juga menunjukan tempat dikuburnya sejumlah guci berisi tulang belulang anggota keluarga lainnya. Salah satu hal menarik yang dia tunjukkan di area tersebut adalah sebuah makam yang telah rusak. Di atas makam terdapat pecahan-pecahan nisan dengan keterangan dalam bahasa Belanda, Tulisan yang nampak jelas hanyalah tahun lahir dan tahun mati 'penghuni' makam tersebut, yakni 1885-1921.

"Itu makam orang Belanda, salah satu makam tertua di sini, dari sebelum saya lahir juga makamnya sudah ada di sini. Orang Belanda ini menikah dengan orang Tionghoa, tapi saya sampai sekarang enggak bisa baca keterangan nisan itu," jelasnya seraya tertawa.

Dari Kapitan Hingga Kepala Sekolah

Ternyata, makam warga Belanda tersebut bukanlah yang tertua. Di TPU Cikadut juga terdapat makam milik Tan Joeng Liong, seorang Kapitan Tionghoa terakhir di Bandung yang dimakamkan pada 1917. Dia hidup pada era kolonial Belanda selama 41 tahun, dari 1858 hingga 1917, dan diberikan gelar kehormatan Kapitein Titulair Der Chineezeen untuk perannya sebagai Letnan Tionghoa sekaligus pebisnis yang terpandang.

Di samping makam tokoh bersejarah tersebut, ada pula makam populer lainnya, yakni milik pendiri PT Badan Tekstil Nasional (BTN), Yo Giok Sie. Jasanya dimakamkan di TPU Cikadut pada 1963. BTN hingga saat ini masih beroperasi di Jalan Cicaheum.

Meksipun mayoritas makam diisi oleh warga Tionghoa, namun ayobandung.com juga menemukan makam milik warga Muslim. Makam tersebut cukup menarik perhatian, dilapisi keramik biru dengan nisan yang berada di bagian kepala sebagaimana yang kerap dijumpai pada makam-makam penganut Islam. Letaknya tak jauh dari makam Atlantic Garden. 

Dari nisannya, dapat diketahui bahwa semasa hidupnya, wanita bernama Djuhriah ini berprofesi sebagai Kepala Sekolah SD Priangan Bandung. Ia lahir pada 11 Agustus 1916 dan wafat pada Mei 1969.

AYO BACA : Target Wisatawan Mancanegara ke Bandung Akan Meningkat, Ini Alasannya

Menurut keterangan Juhri yang ikut mengantar ayobandung.com ke makam tersebut, para guru dan murid SD, terutama SD Priangan, kerap berziarah ke makam Djuhriah di hari guru.

"Suami dan mertuanya orang Tionghoa, dimakamkannya juga di sini," ungkap Juhri sembari menunjukkan makam sang suami dan mertua Djuhriah yang berada di sebelah kanan dan kirinya. 

Djuhriah pun bukan satu-satunya muslim yang dimakamkan di sana. Ada pula makam Ipoh, dengan nisan bertuliskan  “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Uniknya, nampak sebuah alkulturasi budaya pada makam milik Ipoh, yang meskipun makamnya bergaya tradisi Islam, namun di bagian kanan-kiri kakinya terdapat ornamen bunga teratai khas makam Tionghoa. Tak jauh dari makam Ipoh, terdapat makam sang suami, Souw Seng Kin, yang merupakan warga Tionghoa. 

Juhri mengatakan, makam-makam di TPU Cikadut biasanya ramai dikunjungi peziarah dan para keluarga di hari peringatan kematian masing-masing, atapun pada saat hari raya Ceng Beng.

Membakar Memori di Krematorium

TPU Cikadut juga memiliki area kremasi jenazah yang didirikan oleh Yayasan Krematorium Bandung pada 14 Oktober 1961 oleh sembilan orang pedagang Tionghoa yang tinggal di Bandung.

Berdasarkan keterangan yang tertera pada dinding pintu masuk krematorium, kesembilan orang tersebut--Tjon Way Lie, Oey Tjin Hon, Oey Tin Bouw, Tan Po Hwee, Tan Tjiauw Djien, Tjiao Tjin Host, Khuow Tjeng Loen, Tan Tek Jam dan Lo Siauw Tjong, mengumpulkan uang sejumlah Rp 15.000 untuk mendirikan Jajasan Crematorium Bandung yang saat ini telah berubah ejaan.

Suasana krematorium kala itu sangat sepi, dengan sejumlah bangku plastik berjajar rapi di depan keranda putih untuk mendorong peti bertuliskan, "Semoga Seluruh Anggota Keluarga yang Ditinggalkan Mendapat Kekuatan Lahir dan Batin".

Salah satu warga sekitar TPU Cikadut yang kerap dipercaya menjaga krematorium di akhir pekan, Abung, mengatakan bahwa saat ini lebih banyak keluarga yang memilih untuk mengkremasi jenazah anggota keluarga atau kerabatnya ketimbang melakukan penguburan di area yang luas.

"Sekarang pemakaman sudah jarang dibanding dulu, kebanyakan dikremasi. Warga yang punya cadangan tanah baru milih pemakaman," ungkap pria yang mengaku telah bekerja serabutan di krematorium tersebut sejak 1990-an.

Bila Anda berniat untuk ziarah atau menyusuri makam-makam di TPU Cikadut dengan berjalan kaki, disarankan untuk datang sedari pagi mengingat areanya sangat luas, meskipun pintu masuk area TPU terletak tak terlalu jauh dari area depan Jalan Cikadut, yakni sekitar 500 meter. TPU dan krematorium hanya buka di hari kerja.

AYO BACA : Pesona Air Mancur Menari Purwakarta

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar