web analytics
Top banner bank bjb
Penjelasan Ilmiah Kenapa Jodoh Berwajah Mirip?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 10 Mar, 2018 | 13:19 WIB
Penjelasan Ilmiah Kenapa Jodoh Berwajah Mirip?

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Kemiripan wajah yang dimiliki oleh pasangan suami istri ternyata bukan isapan mitos belaka. Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog dari University Michigan bernama Robert Zajonc menyatakan, bahwa peningkatan kemiripan wajah terjadi karena adanya hasil berbagi emosi.

Semakin tinggi tingkat kemiripan wajah yang dimiliki, menandakan semakin bahagia kehidupan dari pasangan tersebut. Pola kemiripan dapat terlihat dari kerutan dan kontur wajah. Sebagai contoh adalah pasangan yang sering tertawa bersama, maka dengan sendirinya akan memiliki pola kerutan serupa di wajahnya. 

Dalam studi tersebut, Zajonc mengemukakan bahwa manusia tanpa disadari gemar meniru ekspresi wajah pasangan sebagai bentuk dari sikap empati. Artinya, semakin sering menghabiskan waktu bersama maka akan semakin mirip wajah diantara keduanya.

Lantaran banyak menghabiskan waktu bersama maka ragam pengalaman, rutinitas hingga pola makan turut memengaruhi kebiasaan satu sama lain. Pola makan yang sama misalnya, seiring waktu berjalan hal tersebut memengaruhi jaringan lemak sehingga memiliki kontribusi besar terkait kemiripan wajah dan tekstur tubuh.

Namun menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ronnie Sebro, Josee Dupuis dan Neil Risch di Amerika Serikat, secara psikologis hal tersebut terjadi karena manusia cenderung tertarik dan merasa nyaman pada lawan jenis yang memiliki kesamaan dengan dirinya sendiri, baik itu soal wajah maupun sikap.

Tanpa disadari, otak manusia memiliki persepsi mengenai ketertarikan dan kenyamanan pada sesuatu yang simetris. Maka tidak heran jika sering dijumpai pasangan kekasih yang baru menjalin hubungan tapi memiliki wajah yang mirip.  

Pandangan tersebut dijelaskan secara ilmiah oleh penelitian Sebro, Dupuis dan Risch. Ditemukan fakta bahwa mayoritas manusia lebih memilih pasangan yang berasal dari lingkungan sekitar serta memiliki kesamaan ras. 

 

Source: The New York Times/New Health Advisor

Editor: Andres Fatubun

Middle banner pos
Artikel Terkait