web analytics
Top banner bank bjb
Kopi Kapal Selam, Menyelami Perang Dunia II Lewat Rasa
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 09 Mar, 2018 | 18:09 WIB
Kopi Kapal Selam, Menyelami Perang Dunia II Lewat Rasa
Chandra Yuanto, pemilik Kopi Kapal Selam generasi ketiga. (ayobandung/Arfian Jamul)

PASAR BARU, AYOBANDUNG.COM -- Perang Dunia II pecah pada tahun 1939. Kekuatan besar dunia menyeret terbentuknya dua aliansi utama, yakni Sekutu dan Poros.

Berada jauh dari lokasi dan konteks perang di Eropa, tapi di waktu yang sama, seorang imigran Tiongkok tiba di Kota Bandung untuk pertama kalinya. Dia datang tidak untuk berperang, melainkan berdagang dan membawa pesan perdamaian dari Timur.

Kawasan pecinan di sekitar Pasar Baru bagian barat jadi destinasi tempat tinggal. Entah apa yang dipikirkan, tapi lelaki Tiongkok itu kemudian mendirikan sebuah toko kelontong dan merek kopi bernama Kapal Selam.

"Toko berdiri ketika suasana Perang Dunia II sedang memanas. Ketika itu, kapal selam jadi salah satu perangkat perang paling populer. Spontan nama itu dipakai kakek dengan harapan, mungkin agar bisa populer seperti kapal selam," ujar pemilik Kopi Kapal Selam generasi ketiga, Yuanto Chandra kepada ayobandung, Jumat (9/3/2018).

Kehadirannya pada sekitar tahun 1930 membuat Kopi Kapal Selam jadi salah satu merek kopi paling tua di Kota Bandung. Bagi Chandra, bertahan bukan sebuah pilihan, tapi keharusan, mengingat ragam ujian kerap melanda pengelolaan Kopi Kapal Selam.

Ujian pertama hadir pada tahun 1973. Ketika itu, lidah api membakar sebagian besar toko klasik berpilar empat milik Kopi Kapal Selam di Jalan Pasar Baru Barat nomor 42. Alih-alih menyerah dengan keadaan, Kopi Kapal Selam justru memilih kembali membangun kejayaan di atas puing reruntuhan.

"Semuanya terbakar, dari kopi hingga mesin grinder. Sejak itu kami tidak lagi membuka toko kelontong dan fokus pada kopi. Bisa dilihat sekarang bangunan bergaya klasik seperti dulu juga hilang," kenang Chandra.

Setidaknya, empat mesin grinder buatan Bulgaria turut hangus terbakar. Namun, kejayaan kembali dibangun perlahan dan mencapai puncaknya sekitar tahun 1970 hingga 1980.

"Pembeli ramai dulu sekitar tahun 1970 sampai 1980. Sekarang banyak yang memilih beli kopi sachet. Padahal menurut saya itu gulanya tidak normal," ujar Chandra.

Meski begitu, Kopi Kapal Selam tidak pernah kehilangan pelanggan setia. Tidak heran jika konsumen yang datang adalah sesepuh paruh baya yang telah menikmati Kopi Kapal Selam sejak puluhan tahun silam. Bahkan, tidak sedikit kedai kopi di Bandung yang membeli kopi dari Kapal Selam.

Uniknya, sejak awal didirikan, Kopi Kapal Selam tidak pernah menyertakan banner atau neon box di depan toko. Namun, keberadaanya sangat mudah ditemui melalui aroma asam khas kopi yang tercium menyengat di sekitar toko. "Biarkan hidung yang berbicara," ujar Chandra singkat sembari tertawa.

Perjalanan mulus Kopi Kapal Selam sempat terhambat sejenak pascakrisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Krisis tersebut tidak berlangsung sebentar karena terjadi selama lima tahun hingga 2003.

Fenomena yang menyebabkan harga biji kopi naik turun tidak menentu. Alasan yang kemudian membuat banyak produsen kopi di Indonesia memilih tutup teratur. Di daerah Pasar Baru saja, dulu terdapat begitu banyak produsen penyedia kopi. Namun, kini hanya menyisakan dua toko, salah satunya Kopi Kapal Selam.

"Kuncinya adalah setia dan leukeun (tekun atau rajin) pada satu bidang. Kalau cepat berganti bidang usaha malah jadi tidak ahli. Harus sabar dan perlahan. Dari pengalaman saya, yang namanya agro hasil bumi pasti ada turun naiknya. Kalau lagi sepi maka harus bertahan," ujar Chandra.

Walau zaman beralih otomatis, tapi Chandra memilih tetap setia pada cara pengolahan kopi konvensional. Bahkan, Chandra tetap mempertahankan tradisi gilingan kasar pada kopi sehingga kulit biji terlihat di permukaan. Alasannya, agar kopi terasa lebih asam. Ketika kopi digiling halus maka rasa yang dihasilkan cenderung akan pahit.

Untuk kopi robusta, Chandra menggunakan hasil bumi dari Lampung. Sementara untuk arabika, kopi dari Lembang, Gayo, dan Toraja jadi pilihan utama. Harga kopi yang ditawarkan berkisar antara Rp60.000 hingga Rp300.000. Kopi Kalam Selam sendiri buka sejak pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Dulu, bubuk kopi dibungkus dengan kertas berwarna cokelat berlogo kapal selam. Dalam gambar kapal selam tertulis angka tujuh yang menunjukkan nomor toko ketika itu. Pada bagian bawah desain tertulis nama "Khin Hin Hoo" dan "Bandoeng Kopi Boeboek 100%".

Sekitar tahun 1950, desain diubah dan menjadi pilihan hingga sekarang. Dalam kemasan tertulis "Kopi Asli Kapal Selam Kwalitet yang Terbaik Paling Harum dan Sedap Rasanya".

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait