web analytics
Top banner bank bjb
Salah Jumat di Tengah Banjir
Oleh Hengky Sulaksono, pada 09 Mar, 2018 | 20:51 WIB
Salah Jumat di Tengah Banjir
Sejumlah jemaah menjalani ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Iman, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat (9/3). (ayobandung/Hengky Sulaksono)

DAYEUHKOLOT, AYOBANDUNG.COM -- Lantunan ayat-ayat suci menggema di langit perkampungan Bojongasih, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat (8/3/2018) siang. Suara yang keluar dari sepiker masjid-masjid perkampungan itu terdengar samar. Saling bersahutan silih berganti, menandakan waktu salat Jumat bakal segera tiba.

Didi (65), baru menyalakan kretek keduanya di atas sampan yang ia tumpangi saat suara azan berkumandang. Perahu kecil berkapasitas lima penumpang tersebut menerjang air bah setinggi dada orang dewasa di RW 04. Banjir besar menggenangi Bojongasih kala itu. Entah yang ke berapa kalinya. Kampung ini lebih nampak seperti danau raksasa. Rumah-rumah terbenam. Warga mengungsi, walau tak semua.

Istri Didi, yang tak mengungungsi, sempat memergoki suaminya tengah asyik menerjang banjir. Di balik jendela rumah yang terendam sebatas perut, dia mengomel dan mempertanyakan alasan Didi tak berangkat Jumatan. Didi berseloroh, meracau sekenanya agar pembicaraan segera selesai.

Didi tahu jika ia wajib menunaikan salat Jumat. Kondisi banjir cukup parah seharusnya tidak jadi penghalang. Tapi dia lebih memilih meninggalkan kewajibannya. "Kalau banjir kayak gini, ya, susah juga. Ini darurat. Allah juga ngerti, lah. Diganti sama salat Zuhur aja. Asal jangan (tidak salat Jumat) lebih dari tiga kali," kata Didi.

Saat Didi mengayuh sampan, Agus Munif menerjang air bah melewati gang-gang kecil di kawasan RW 05. Tangan kiri Agus menenteng sebungkus kantong plastik berisi kain sarung, baju koko, kopiah, hingga pakaian dalam. Dia sengaja membawa pakaian ganti untuk digunakan saat melaksanakan salat Jumat.

Letak rumah Agus berjarak puluhan meter dari Masjid Jami Nurul Iman yang biasa ia sambangi. Berada di gang-gang kecil perkampungan padat penduduk, Nurul Iman adalah masjid terbesar di kawasan RW 05. Saat itu, masjid diisi puluhan jemaah yang memanjang hingga empat baris salat.

Jumlah empat baris jemaah terbilang jauh lebih sedikit ketimbang rataan tingkat kehadiran jemaah salat Jumat yang bisa mencapai seribuan di saat kondisi normal. Jemaah bisa meluber hingga ke gang perkampungan dan pekarangan rumah warga yang berada di samping masjid. Genangan banjir membuat warga memilih mangkir dari kewajibannya.

Tak demikian Agus. Bagi pria yang menjabat sebagai Ketua RT 03 ini, salat Jumat adalah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar. Kondisi rumah yang terendam hingga setinggi dada tak menjadi alasan. Begitupun air bah bercampur najis yang menggenang sepanjang perjalanan menuju rumah ibadah. 

Pihak masjid juga tak abai dengan kondisi jemaah. Mereka menyediakan keran air di depan pintu masuk masjid. Keran tersebut digunakan para jemaah membasuh kaki-kaki yang kotor akibat menerjang banjir. "Yang penting kami sudah bersuci. Kalau sudah berwudu insya Allah semua najis hilang," ujar Agus. 

Genangan banjir, kata Agus, tidak mengganjal kekhusyukan ibadah para jemaah. Dia memandang jika persoalan khusyuk atau tidaknya suatu ibadah merupakan urusan personal masing-masing jemaah. Yang utama bagi Agus ialah niat dan usaha. "Kalau semua sudah merasa butuh, pasti dikerjakan. Banjir juga bukan masalah," kata dia. 

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait