web analytics
Top banner bank bjb
Keren, Santri Madrasah Persis Ini Bikin Early Warning System Tsunami
Oleh Anggun Nindita Kenanga Putri, pada 26 Feb, 2018 | 12:58 WIB
Keren, Santri Madrasah Persis Ini Bikin Early Warning System Tsunami
Santri Madrasah Mualimin Persatuan Islam (Persis) Manbaul Huda kelas X IPA, Fahmi Abdul Aziz merancang alat "early warning system" alat peringatan dini tsunami. (Anggun Nindita K Putri/ayobandung)

CIJAWURA, AYOBANDUNG.COM -- Sebagai negara yang dikelilingi lautan dan jajaran pantai, membuat Indonesia tak luput dari beberapa bencana alam, seperti gempa bumi atau tsunami.

Beberapa waktu lalu, Jawa Barat sempat diguncang gempa bumi dengan intensitas yang lumayan besar dan berpotensi tsunami.

Berkaca dari hal tersebut, seorang santri Madrasah Mualimin Persatuan Islam (Persis) Manbaul Huda merancang suatu alat "early warning system" atau alat peringatan dini tsunami. "Early warning system" ini dibuat oleh Fahmi Abdul Aziz, santri kelas X IPA.

Berawal saat Abdul Aziz, begitu sapaannya, mengikuti kegiatan praktik kerja siswa di daerah Pameungpeuk, Garut. Bukan sekadar praktik kerja biasa, setiap santri harus membuat suatu alat ataupun penemuan yang dapat bermanfaat bagi warga sekitar.

"Jadi 'kan waktu itu saya kerja praktiknya di daerah pantai di Pameungpeuk, Garut. Saya lihat kalau di pantai 'kan rentan terhadap bencana tsunami. Jadi terpikir buat bikin alat early warning system tsunami," katanya saat ditemui Senin (26/2/2018)

"Early warning system" ini diberi nama Alfa 2. Alat peringatan dini tsunami ini, dirancang secara sederhana. Tapi bukan berarti Abdul Aziz tidak memikirkan secara matang komponen-komponen di dalamnya.

"Komponen-komponen di dalamnya terdiri dari besi, pendulum, resistor, LED, switch, dan beberapa komponen lainnya," ujarnya.

Bukan cuma membuat alat peringatan dini tsunami saja. Abdul Aziz juga kala itu mengajarkan kepada para masyarakat desa bagaimana cara penggunaannya.

Menurutnya, cara penggunaannya cenderung mudah. "Early warning system" sederhana yang sudah dirakit ini, disimpan di tempat yang jangkauannya tinggi, misalnya di atas lemari.

Kemudian jika ada getaran atau guncangan, maka alat ini akan bereaksi dengan mengeluarkan suara.

Namun saat pembuatannya, ternyata Abdul Aziz mengalami beberapa kali percobaan trial dan error. Dia mengungkapkan, harus beberapa kali mengganti komponen hingga mendapatkan suatu rakitan yang bisa mudah dioperasikan.

"Jadi ketika itu sudah ada prototype nya. Tapi karena terkecoh dengan gambar manualnya. Saya sempat salah masukin komponen," tuturnya.

Abdul Aziz memang sudah menyukai hal-hal yang berbau elektro serta robotik semenjak dududk di kelas 8. Dia belajar merakit otodidak dengan cara melihat video tutorial dari YouTube.

Selain belajar merakit robotik, dia pun mulai tertarik dengan program atau software di balik robot tersebut.

Dia juga sempat mengikuti kontes robotik yang diselenggarakan di Unikom pada tahun lalu. Sayang, program robot yang dibuatnya belum tembus ke babak selanjutnya.

Sekarang, Abdul Aziz berencana untuk membuat kembali "early warning system" tsunami sebanyak 3 unit namun dengan komponen yang lebih lengkap lagi.

Editor: Andri Ridwan Fauzi

Middle banner pos
Artikel Terkait