web analytics
Top banner bank bjb
Suara Jompo Disaring untuk Pilkada Jabar
Oleh Hengky Sulaksono, pada Feb 14, 2018 | 22:09 WIB
Suara Jompo Disaring untuk Pilkada Jabar
Seorang lansia saat mengikuti coklit di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha, Kabupaten Bandung, Rabu (14/2). (ayobandung/Hengky Sulaksono)

CIPARAY, AYOBANDUNG.COM -- Suara berbagai kalangan masyarakat, termasuk kalangan lanjut usia, menjadi komoditas panas dalam helatan Pilkada Serentak 2018. Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat terus memburu suara lansia di panti jompo agar berpartisipasi menyumbangkan suaranya.

Untuk merangkul suara kalangan lansia, KPU Jabar menggelar kegiatan pencocokan dan penelitian (coklit) tahap tiga di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha, Jalan Raya Pacet, Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu (14/2/2018) sore.

Komisioner KPU Jabar, Nina Yuningsih mengatakan, sumbangan suara lansia sangat penting dalam mendukung proses Pilkada. Menurutnya, proses coklit terhadap kalangan lansia ini merupakan salah satu bentuk perwujudan KPU dalam memfasilitasi hak warga dalam memilih.

"Semua warga negara berhak mendapatkan hak pilih, termasuk para lansia yang ada di panti sosial ini. Hak pilih itu merupakan salah satu hak dasar warga negara yang harus dipenuhi," kata Nina di sela-sela proses coklit.

Dalam kesempatan tersebut, KPU melakukan coklit terhadap 150 lansia yang menjadi penghuni balai. Balai tersebut merupakan salah satu dari tiga panti sosial khusus jompo yang dimiliki pemerintah di Jabar. Jumlah total lansia yang ditampung di seluruh panti sosial mencapai 350 orang.

Kepala BPSTW, Adang Suharman mengatakan, dari jumlah tersebut, cuma 20% di antaranya yang memiliki identitas resmi. Selebihnya, 80% lansia tidak mengantongi surat legalitas kewarganegaaran resmi. Tak sedikit di antara para lansia bahkan tidak memiliki nomor induk kependudukan.

"Kebanyakan lansia yang kami tampung itu kondisinya bisa dikatakan tidak bagus. Banyak di antaranya yang sudah tidak bisa mengingat (pikun). Enggak bisa diajak ngobrol, karena memang tidak nyambung," kata Adang.

Walau demikian, dia mengapresiasi langkah KPU yang melakukan pendataan dengan sistem jemput bola. Meski pesimis jika proses coklit bisa merangkul seluruh lansia di panti jompo, ia tetap berharap hak pilih warga di panti sosial diperhatikan.

"Saya kira ini memang harus diperhatikan. Untuk mereka (lansia) yang sudah tidak punya apa-apa bisa mengikuti Pemilu itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, membuat bergairah," kata dia.

Selain di panti jompo, proses coklit tahap tiga ini juga dilakukan di panti sosial jenis lain. KPU juga turut menyasar hak pilih warga binaan dalam proses coklit kali ini. Seluruh warga negara yang terkategori warga kelas dua siap dijaring.

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait