web analytics
Top banner bank bjb
Alasan Panasnya Laga Derby, dari Politik Hingga Agama
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Jan 20, 2018 | 06:41 WIB
Alasan Panasnya Laga Derby, dari Politik Hingga Agama
Ilustrasi. (Antara)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Izinkan ayobandung sedikit meminjam perkataan seorang sastrawan asal Inggris bernama George Orwell yang pernah berujar: "Sepak bola adalah perang. Hanya minus penembakan."

Perkataan Orwell tidak berlebihan. Soalnya sepak bola bukan hanya soal pertandingan dan kemenangan yang melibatkan 22 pemain di dalam lapangan. Lebih dari itu, sepak bola merupakan identitas dan mewakili sebuah entitas tertentu.

Walau kini sepak bola telah bertransformasi menjadi media pemersatu tanpa melihat identitas apapun. Namun sejarah mencatat, sepak bola pernah dijadikan simbol dari perbedaan. Menyedihkan memang namun itulah kenyataanya.

Untuk itu, ayobandung merangkum tiga alasan kenapa di beberapa laga derby terjadi emosi yang begitu besar. Sejarah politik serta agama ternyata menjadi salah satu faktor.

1. Sentimen Agama 
Bukan di Kota Manchester atau Milan. Juga bukan El Classico milik Barcelona serta Real Madrid. Namun derby terpanas di dunia adalah milik Kota Glasgow di Skotlandia yang mempertemukan antara Celtic dengan Rangers.

Bertajuk Old Firm Derby lantaran merupakan salah satu rivalitas tertua dan paling panas dalam sejarah sepak bola dunia. Persaingan kedua klub telah berlangsung sejak abad 19 dan tensi permusuhan enggan menurun hingga kini.

Baik Celtic maupun Rangers memang merupakan penguasa Skotlandia dengan mendominasi daftar gelar juara Scottish Premier League. Namun Old Firm Derby tidak semata membicarakan soal prestasi dan gengsi satu kota. Pasalnya, kedua klub ternyata mewakili identitas agama yang berbeda.

Kisah dimulai ketika pada abad 18, Kota Glasgow kedatangan begitu banyak imigran asal Irlandia. Para pendatang turut serta membawa ajaran agama Katolik Roma. Sementara mayoritas masyarakat Glasgow merupakan penganut Protestan.

Sentimen kedua agama sebenarnya telah berlangsung sejak abad 16. Ketika itu komunitas anti Katolik mendominasi Kota Glasgow dengan gerakan reformasi Protestan. Sudah barang tentu penganut Katolik menjadi kaum yang tersudut. 

Sehingga, seperti dikutip dari Goal, kaum Katolik sepakat mendirikan Glasgow Celtic pada tahun 1888 sebagai upaya melawan derasnya pengaruh Protestan di dunia sepak bola. Bahkan Celtic dijadikan sebuah simbol perlawanan dari mitos keunggulan kaum Protestan di Glasgow.

Sementara Glasgow Rangers sebenarnya telah berdiri lebih dulu yakni pada tahun 1873 tanpa dukungan dan mewakili komunitas agama apapun. Kehadiran Celtic membuat Rangers tidak lagi sendirian di Glasgow. Hingga akhirnya laga derby tersaji untuk pertama kalinya pada Mei 1888 dan Celtic berhasil keluar sebagai pemenang.

Identitas Celtic sebagai klub milik Katolik membuat kaum Protestan enggan mengalah. Rangers yang pada awalnya tidak mewakili aliran agama apapun. Namun karena kehadiran Celtic dan raihan beberapa kemenangan Ranger dalam laga derby selanjutnya, maka kaum Protestan mulai menjadikan klub berjuluk The Gers tersebut sebagai media aspirasi di dunia sepak bola. 

Hingga kini tensi persaingan yang tersaji dalam Old Firm Derby enggan mereda, baik di dalam maupun di luar lapangan. Meski sebenarnya kedua kubu telah sepakat dan bekerjasama dengan Parlemen Skotlandia untuk melerai rivalitas atas nama agama.

Bahkan, seperti dikutip dari Four Four Two, kedua suporter kesebelasan kerap menunjukan fanatisme agama melalui simbol di dalam lapangan. Terlebih persaingan keduanya ternyata tidak hanya berkutat soal agama, melainkan juga mewakili identitas Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia.

2. Ideologi Politik
Pemimpin Partai Nazi Jerman Adolf Hitler begitu identik dengan klub sepak bola asal lembah Ruhr, Schalke. Sang diktator memang merupakan pengagum berat dari Die Koenigsblauen. 

Bahkan selama 12 tahun kepemimpinan Hitler di Jerman, Schalke tercatat telah berhasil meraih puluhan gelar juara di berbagai kompetisi. Sebuah kejayaan yang hingga kini tidak lagi dapat terulang.

Pasalnya, seperti dikutip dari The Guardian, Hitler kerap memerintahkan federasi sepak bola Jerman untuk mengatur agar gelar Bundesliga jatuh ke pangkuan publik Gelsenkirchen. Tidak heran jika kemudian Schalke identik sebagai klub fasisme.

Pandangan politik serupa nampaknya tidak berlaku bagi Borrusia Dortmund yang juga berasal dari Ruhr. Padahal baik Dortmund maupun Schalke sebenarnya lahir dan tumbuh dari sosial kelas pekerja. 

Bahkan Dortmund menjadi identitas dari perlawanan terhadap ideologi fasis milik Nazi. Maka tidak heran jika hingga kini, suporter Dortmund kerap meledek publik The Royal Blues sebagai pelaku Holocaust dalam setiap laga Revier Derby.

Persaingan beraroma politik ternyata juga terjadi di Eropa Timur. Seperti dikutip dari Four Four Two, Eternal Derby yang mempertemukan antara dua klub terbesar asal Serbia yakni Red Star Belgrade dan Partizan Belgrade menjadi objek utama. 

Kisah dimulai usai Perang Dunia Kedua ketika gerakan anti fasis Yugoslavia membentuk Red Star pada Maret 1945. Sementara beberapa bulan kemudian militer Yugoslavia mendirikan Partizan. Sejak saat itu, laga panas Eternal Derby tidak terelakan.

3. Perbedaan Kasta
Perbedaan kasta antara si kaya dan si miskin kerap menjadi latar belakang kebencian yang hadir di setiap laga derby satu kota. Fenomena tersebut setidaknya terjadi di Kota Madrid ketika El Real yang mewakili kaum borjuis Spanyol mesti berhadapan dengan Atletico sebagai perwakilan kelas pekerja.

Di Italia ada Derby Della Mole di Kota Turin yang mempertemukan si kaya Juventus melawan Torino sebagai perwakilan dari rakyat jelata. Namun diantara begitu banyak derby antara kaya dan miskin, tidak ada yang lebih panas dari apa pertemuan dua klub asal Kota Buenos Aires di Argentina.

Pada awalnya, baik Boca Juniors maupun River Plate lahir di pelabuhan kumuh kelas pekerja di sudut Kota Buenos Aires. River Plate berdiri lebih dulu pada tahun 1901. Sementara Boca Juniors didirikan empat tahun berselang oleh para imigran Italia.

Namun kemudian sekitar tahun 1920, seperti dikutip dari Four Four Two, River Plate memilih pindah ke distrik elit bernama Nunez di daerah utara. Sejak saat itu River Plate tumbuh sebagai klub yang lebih profesional dan gemar menghamburkan uang untuk membeli pemain.

Perbedaan kelas terjadi. Boca Juniors dipandang mewakili kelas pekerja yang miskin. Sementara si orang kaya baru River Plate menjelma menjadi perwakilan kaum borjuis Argentina. 

Editor: Andri Ridwan Fauzi

Middle banner pos
Artikel Terkait