web analytics
Top banner bank bjb
Kampung Cibunut yang Tak Sekadar Cantik
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Jan 13, 2018 | 17:54 WIB
Kampung Cibunut yang Tak Sekadar Cantik
Suasana Kampung Cibunut, Bandung. (ayobandung/Eneng Reni)

SUMURBANDUNG, AYOBANDUNGCOM – Impian Banksy, seorang bomber asal Inggris, untuk melihat sebuah kota atau wilayah yang dipenuhi warna setidaknya tercapai di Kampung Cibunut. Betapa warna menghiasi semua dinding yang ada di kampung yang berada di Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung itu. Namun, siapa yang sangat jika gagasan Cibunut Berwarna ini bermula dari program bebas sampah yang digiatkan warga?

Gayung bersambut, program swadaya masyarakat itu mendapat perhatian dari pemerintah, komunitas, dan praktisi lingkungan. Bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, warga Cibunut dilatih untuk “menghabiskan” sampah mulai dari sumbernya.

Dulu, warga mengumpulkan sampah organik yang terkumpul untuk kemudian diolah melalui biodigester dan dikelola oleh bank sampah. Hingga kini, Kelompok Swadaya Masyarakat Orang Hebat Sadar Lingkungan (OH Darling) mengurusi pengolahan sampah di Kampung Cibunut.

"Sekitar dua tahun lalu gagasan programnya sederhana, gerakan pungut sampah karena dulu di depan rumah warga banyak sampah menumpuk, sekarang tidak lagi," kata Ketua RW 07 Kampung Cibunut, Herman Sukmana saat berbincang dengan ayobandung, Sabtu (13/1/2018).

Perjuangan mewujudkan kawasan bebas sampah bukan perkara mudah. Herman beserta pengurus RW lainnya mengajak warga untuk memulai gerakan memungut sampah, minimal di lingkungan rumahnya sendiri. Setelah warga terbiasa, gerakan ini mulai dicanangkan. Hingga saat ini, warga Cibunut sudah bisa mengelola sampah sisa rumah tangga. Semua sampah itu dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, pupuk organik cair, dan biogas.

Cita-cita Menjadi Kampung Kreatif Berwawasan Lingkungan

Keberadaan Kampung Cibunut ini diharapkan menjadi destinasi wisata baru di kota Bandung, terutama urusan gerakan peduli lingkungan. Sebab, kampung yang diisi oleh 300 kepala keluarga ini tak hanya menawarkan wisata, tapi juga sarana edukasi.

Cita-cita itu kemudian tercapai dengan menyatukan seluruh stakeholder. Herman mencanangkan sejumlah program lingkungan yang fokus pada pengelolaan sampah.

Salah satu programnya adalah pengolahan sampah di 100 ember yang disimpan di sejumlah titik. Setiap dua hari sekali, sampah yang terkumpul akan direcah dan dimasukkan ke biodigester untuk menjadi energi terbarukan. Hasilnya kini bisa dirasakan oleh warga sebagai bahan bakar di dapur umum. 

"Sehari biogas itu bisa kepakai sampai 10-15 kali masak. Jadi kalau ada warga yang kebetulan tidak punya gas, pengin masak telur ceplok atau mi, mangga, karena biogas itu memang diprioritaskan buat warga," kata Herman.

Bahkan berkat gotong royong warga, Kampung Cibunut semakin dikenal sebagai tempat yang ramah lingkungan. Tak jarang Cibunut menjadi sarana studi banding pelajar dan mahasiswa. Sehingga, Cibunut kini tidak hanya dikenal dengan kampung warna-warni, tapi juga dikenal sebagai kampung yang ramah lingkungan. 

"Yang paling penting di Cibunut Berwarna ini, bukan hanya ingin mempercantik wilayahnya dengan aksesoris cat, atau dengan lingkungan penghijauan, tapi yang lebih penting adalah pengelolaan sampah," tegasnya.  

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait