web analytics
Top banner bank bjb
Mengintip Kekuatan Empat Pasangan di Pilgub Jabar
Oleh Adi Ginanjar Maulana, pada 08 Jan, 2018 | 11:41 WIB
Mengintip Kekuatan Empat Pasangan di Pilgub Jabar
Adi Ginanjar Maulana (Fathin/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Geliat Pilgub Jabar terus menghangat mengingat empat kandidat pasangan diprediksi bakal bertarung di momen hajat lima tahunan itu.

Sebanyak empat kandidat Cagub dan Cawagub Jabar antara lain Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (PPP, Nasdem, PKB, dan Hanura), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Demokrat dan Golkar), TB. Hasanuddin-Anton Charliyan (PDIP), dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Gerindra, PKS, dan PAN).

Mulai hari ini (8/1/2017), KPU Jabar telah membuka pendaftaran pasangan calon hingga Rabu (10/1/2017). 

Rencananya Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mendaftar pada Selasa (9/1/2017). Selanjutnya, pada pukul 13.00 WIB  Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Pada hari terakhir, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dijadwalkan mendaftar pada pukul 13.00 WIB. Selanjutnya, TB Hasanuddin-Anton Charliyan pada pukul 15.00 WIB.

Bila melihat perjalanan peta politik Pilgub Jabar sepanjang 2017 tentunya banyak dinamika yang harus dilalui beberapa calon.

Ridwan Kamil pada 27 Oktober 2017 mulai dipinang Golkar dipasangkan dengan Daniel Muttaqien. Ridwan Kamil sebelumnya sudah diusung oleh tiga partai, yakni Nasdem, PKB, dan PPP dengan total 21 kursi.  Adapun Golkar memiliki 17 kursi di Jabar, sehingga total kursi koalisi pendukung Emil adalah 38 kursi.

Baru pada 4 November 2017 Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mendatangi Ridwan Kamil dengan memperlihatkan surat keputusan resmi dukungan Golkar untuk pencalonan Ridwan Kamil.

Di lain pihak, Dedi Mulyadi terus sabar dengan godaan partainya yang menunjuk kandidat lain maju pada Pilgub Jabar. Padahal, Bupati Purwakarta tersebut sudah jauh hari memberikan sinyal akan maju pada Pilgub Jabar.

Nasib berkata lain, seiring penetapan Ketua Umum Golkar sekaligus Ketua DPR Setya Novanto oleh KPK dengan dugaan kasus KTP elektronik. Kejadian tersebut pun dijadikan manuver Dedi Mulyadi untuk memuluskan jalannya menjadi kandidat di Pilgub Jabar.

Ia terus menggiring Munaslub Golkar bersama DPD Golkar agar Setnov diganti karena tersandung kasus. Alhasil, Setnov digantikan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Gokar baru pada 13 Desember 2017.

Pada 17 Desember 2017 Golkar resmi mencabut dukungan untuk Ridwan Kamil. Akhirnya, Golkar mengalihkan kembali dukungan kepada Dedi Mulyadi.

Deddy Mizwar Diputus PKS

Pada 27 Desember 2017, Deddy Mizwar diputus PKS dengan mengalihkan dukungan kepada Sudrajat. Padahal, sebelumnya Wakil Gubernur Jabar ini sudah digadang-gadang berpasangan dengan Ahmad Syaikhu.

PKS beralasan mengalihkan dukungan ke Sudrajat, karena Deddy Mizwar sudah menjadi kader Demokrat dan dipastikan mengusung calon presiden mereka. Padahal, PKS sudah berkomitmen akan mengusung Prabowo dalam pilpres 2019.

Gayung bersambut, Deddy Mizwar tak ambil pusing. Ia terus berikhtiar dan berdoa. Bersama Dedi Mulyadi, ia terus membangun komunikasi yang akhirnya berbuah kesepakatan manis.

Deddy Mizwar bersama Dedi Mulyadi akhirnya berpasangan. Koalisi antara Demokrat dan Golkar pun akhirnya disetujui DPP masing-masing dengan menerbitkan surat keputusan.

Deddy Mizwar sendiri akan melanjutkan keberhasilannya membangun Jabar setelah sebelumnya berposisi wagub pendamping Ahmad Heryawan salah satunya kesenian dan pariwisata.

Di sisi lain, Dedi Mulyadi yang selama dua periode menjabat Bupati Purwakarta terus mengimplementasikan filosofi kebudayaan tentunya akan menjadi bekal untuk pembangunan di Jabar.

Kolaborasi seni dan budaya yang dibawa kedua kandidat ini tentunya akan membangun masyarakat Jabar yang semakin berkarakter dengan tidak meninggalkan nilai-nilai tradisi leluhur.

Kembali ke Ridwan Kamil. Ia pun terus melobi PDIP setelah Hanura bergabung ke partai koalisi pada 28 Desember 2017. Pada Rabu 3 Januari ia mendatangi Kantor DPP PDIP di Jakarta untuk bersilaturahmi. Alih-alih meminta dukungan, akhirnya pilihan PDIP jatuh kepada TB Hasanuddin-Anton Charliyan.

TB sendiri bukan orang asing di Jabar. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Jabar. Sedangkan Anton Charliyan pernah menjabat Kapolda Jabar.

TB-Anton perlu gaspoll untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengingat keduanya belum sepopuler kandidat lain.

Di sisi lain, empat partai koalisi Ridwan Kamil tidak bertepuk sebelah tangan karena tidak dilirik PDIP. Dengan kekuatan kursi yang ada, mereka sepakat menyandingkan Ridwan Kamil dengan Uu Ruzhanul Ulum.

Ridwan Kamil beralasan memilih Uu sebagai pendamping karena berpengalaman dalam mengurus Kabupaten Tasikmalaya selama dua periode.

Uu sendiri sudah mengimplementasikan “Gerbang Desa” di Kabupaten Tasikmalaya. Ia berhasil membangun desa sebagai daerah lumbung pangan serta sektor lainnya.

Adapun Ridwan Kamil sudah mencurahkan perjuangannya di Kota Bandung untuk mengimplementasikan “Smart City” untuk pembangunan masyarakat maupun pemerintahnya. Kolaborasi kota dan desa akan menjadikan keduanya membangun Jabar.

Apakah Pilgub Jabar akan seramai Pilgub DKI? Kita tunggu saja.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Middle banner pos
Artikel Terkait