web analytics
Top banner bank bjb
Lestarikan Asep di Dunia
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Jan 08, 2018 | 21:37 WIB
Lestarikan Asep di Dunia
Ilustrasi. (Flick)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Nama Asep memang masih mendominasi di Jawa Barat. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Jawa Barat mencatat, rata-rata terdapat sekitar 5.000 nama Asep di setiap kecamatan. 

Namun perlu disadari, nama Asep kini tidak lagi populer. Indikasinya dapat terlihat dari penggunaan nama Asep yang didominasi oleh pria dewasa. Sementara balita memiliki nama kekinian produk mancanegara yang membuat Asep berangsur punah.

Menurut kajian onomastika atau bidang ilmu yang mempelajari tentang nama, fenomena tersebut selalu berkaitan dan tidak dapat dilepaskan dari unsur budaya. Soalnya, budaya di masyarakat selalu mengalami pergeseran yang berlangsung secara alamiah.

Begitu juga dengan budaya Sunda yang dalam kurun waktu satu abad terakhir mengalami beragam pergeseran. Masyarakat Sunda baheula gemar mengaitkan simbol keperkasaan binatang dalam penamaan manusia seperti Singodimejo. 

Lalu tren nama bergeser mengadopsi bahasa Sansekerta seperti Suryadireja atau Wirasanjaya. Kemudian Islam masuk ke Indonesia yang turut memengaruhi tren nama menjadi lebih Timur Tengah. Namun kekinian, orang tua gemar memberikan nama anaknya dengan label Eropa dan Jepang.

"Sekarang (nama lokal) jadi merasa inferior. Nama yang sudah ada jadi terasa jelek dan kampungan jika dibandingkan dengan Timur Tengah atau Eropa. Solusi jalan tengah harus ada adaptasi antara budaya lokal dengan luar," ujar Pakar Antropologi Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Mahmud Fasya pada ayobandung beberapa waktu lalu.

Artinya, penyesuaian budaya antara konsep konvensional dengan tren kekinian dapat terjalin tanpa melahirkan masalah sosial. Asep Zeno asal Jakarta bisa jadi contoh. 

Bayi berusia lima bulan tersebut, baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Asep Termuda dari Paguyuban Asep Dunia pada bulan Agustus 2017 lalu. Sejak tahun 2010, Paguyuban Asep Dunia memang akan mendatangi seraya memberi gelar penghormatan kepada orang tua yang menamakan anaknya Asep.

Padahal nama Zeno merupakan serapan dari bahasa Yunani. Akulturasi budaya hadir dalam nama manusia. Tetap mempertahankan penamaan Asep sebagai bentuk pelestarian budaya namun juga menambahkan Zeno sebagai perwakilan dari tren kekinian.
 
"Salah satu tujuan dibentuknya Paguyuban Asep Dunia adalah untuk melestarikan budaya Sunda. Salah satunya melalui pemberian gelar Asep termuda. Sampai sekarang kami belum dapat data lagi soal Asep termuda," ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Paguyuban Asep Dunia, Asep Kusmayadi, Senin (8/1/2018).

Upaya pelestarian nama Asep yang dilakukan Paguyuban Asep Dunia tidak sebatas pada pemberian gelar semata. Beragam program bertemakan pewayangan rajin digelar, diantaranya Kurban dari Asep untuk Warga (Kurawa), Bantuan Pendidikan Mahasiswa (Bima), Bantuan Pendidikan Siswa SMA (Bisma) hingga Asep Rescue Terjun Bencana (Arjuna).

Namun untuk program rutin tahunan adalah gelaran perayaan Hari Asep Sedunia yang bertepatan dengan tanggal lahirnya Paguyuban Asep Dunia pada tanggal 1 Agustus. Kemudian setiap tanggal 15 Oktober akan digelar Konferensi Asep Asep (KAA).

"Ini untuk lebih memperkenalkan pada masyarakat kalau ternyata nama Asep masih ada. Kini anggota yang aktif di paguyuban tercatat sebanyak 5.000 orang," ujar Asep Kusmayadi.

Sebenarnya, pergeseran budaya yang terjadi pada penamaan, dipandang sebagai sebuah kewajaran dan konsekuensi dari adanya kontak dan akulturasi budaya. 

Namun jika dibaca secara normatif merujuk kacamata kearifan lokal, fenomena pergeseran tersebut dapat menyebabkan krisis identitas dan rendahnya kebanggaan terhadap budaya lokal.

Untuk itu, Asep harus diselamatkan dengan melestarikannya. 

Editor: Andri Ridwan Fauzi

Middle banner pos
Artikel Terkait