web analytics
Top banner bank bjb
Penyakit yang Sebal Sama Suara Orang Makan Sambil Nyeplak
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada 02 Jan, 2018 | 17:46 WIB
Penyakit yang Sebal Sama Suara Orang Makan Sambil Nyeplak
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Suka kesal enggak kalau ngelihat seseorang di depanmu yang makannya nyeplak alias berkecap? Ketika lidah memberikan dorongan ke bagian atas rongga mulut lalu mendorong bibir untuk untuk saling bertemu dan mengeluarkan suara cap..cap..cap.. Seketika napsu makan jadi hilang.

Atau apakah kamu juga kesal mendengar suara slurp.. dari mulut seseorang yang tengah menyeruput sup mereka? Itu mengganggu, bukan begitu? Rasanya kamu ingin menegur mereka, menyuruh mereka berhenti menyeruput atau mengecap.

Kalau kamu suka kesal, artinya kamu menderita sebuah penyakit yang dinamakan misophonia. Ini merupakan sebentuk kelainan otak yang menggambarkan kebencian seseorang terhadap suara seperti makan, mengunyah, bernapas keras, atau bahkan mengetuk-ngetukkan pena.

Kondisi seperti ini ditemukan pada tahun 2001 silam. Selama bertahun-tahun sebenarnya para ilmuwan rada skeptis soal penyakit ini. Mereka sangsi kalau misophonia merupakan penyakit medis.

Tapi sekarang kamu para penderita misophonia perlu tenang. Soalnya ada penelitian anyar yang mendukung pernyataan jika penyakitmu adalah murni gangguan medis.

Penelitian ini dilakukan oleh sebuah tim dari Newcastle University di Inggris. Penelitian itu membuktikan bahwa orang-orang dengan misophonia memiliki perbedaan dalam bagian lobus frontal otak mereka.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology ini, para ilmuwan menemukan perubahan aktivitas otak saat suara “pemicu” alias suara makan itu terdengar. Pencitraan otak menunjukkan bahwa orang dengan kondisi ini memiliki kelainan pada mekanisme kontrol emosional mereka yang bikin otak mereka error. Bahkan, penelitian juga menemukan jika suara mengecap dapat membangkitkan respons fisiologis yang terlihat pada peningkatan denyut jantung dan banyaknya keringat.

“Saya berharap ini membantu meyakinkan para penderita,” ujar Profesor Neurologi Kognitif di Newcastle University, Tim Griffiths. “Saya adalah bagian dari kolompok orang yang skeptis ini, sampai akhirnya saya melihat pasien di klinik.”

Jadi, buat kamu yang ngerasa sebagai penderita misophonia, ini berita baik, bukan? Soalnya ini adalah pertama kalinya penelitian terkait itu menunjukkan adanya perbedaan dalam struktur otak para penderita.

Source: TIME

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait