Sesepuh Alumni Unpad Kecam MWA Loloskan Calon Rektor Bermasalah

  Sabtu, 29 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Sesepuh Jawa Barat, Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad), dan beberapa kelompok paguyuban Sunda melakukan pertemuan di Gedung Indonesia Mengugat, Jumat (28/9/2018). Mereka mengecam Majelis Wali Amanat (MWA) yang meloloskan salah satu calon rektor Unpad, Obsatar Sinaga karena punya rekam jejak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). (Fathia Uqimul Haq/ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sesepuh Jawa Barat, Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad), dan beberapa kelompok paguyuban Sunda mengecam Majelis Wali Amanat (MWA) yang meloloskan salah satu calon rektor Unpad, Obsatar Sinaga.

Rekam jejak Obsatar terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang telah tersebar di media sosial membuat citra Unpad memburuk. 

Salah satu sesepuh, Dindin S. Maolani mengatakan tuduhan KDRT yang terlanjur tersebar di media massa dan media sosial bukan hal sepele. Pasalnya, Obsatar juga mendapatkan suara terbanyak saat pemilihan tiga bakal calon rektor Unpad. 

"Ini persoalan nama Unpad. Sebagai atikan sejarah untuk urang Sunda. Cari rektor Unpad karena menyandang nama Padjajaran. Sehingga teman-teman merasa ini harus diluruskan. Siapa pun yang ujungnya akan memilih rektor, kasus pelaporan mantan istri diduga KDRT tidak boleh dibiarkan," katanya, Jumat (28/9/2018) usai pertemuan bersama para sesepuh, alumni Unpad, dan beberapa kelompok kesundaan di Gedung Indonesia Menggugat.

Menurutnya, Unpad memiliki sejarah yang panjang melibatkan Jawa Barat dan orang Sunda. Sehingga masalah ini perlu ditindaklanjuti supaya rektor Unpad ke depan tidak memiliki kasus yang melanggar etika. 

"Saya sudah klarifikasi ke mantan istri Obsatar, Erna, mengenai kebenaran surat Erna  ke Jokowi termasuk fotonya itu benar," ungkapnya. 

Namun, kata Dindin, muncul klarifikasi dari kuasa hukum Obsatar, yakni anaknya sendiri, membantah laporan tersebut. 

AYO BACA : Unpad Bantah Temuan BPK soal Audit

"Kita melihat dari foto ya enggak mungkin. Seorang istri dipukuli diomeli sampai harus waktu itu melapor ke Polres. Jadi kami sementara menyimpulkan kejadian KDRT itu ada. Untuk itu menjadi betul, fakta hukum harus kuat, harus ada pelaporan dari Erna ke polisi. Memang pernah ada perdamaian, namun konteks KDRT itu bisa diteruskan yang penting ada atau tidak pemukulan itu karena pihak Obsatar menampik," tuturnya.

Para sesepuh melihat ini hal penting. Mereka mengingatkan MWA untuk berhati-hati dengan pelbagai kasus. Rencananya mereka sepakat mendatangi MWA untuk melaporkan perihal kelolosan Obsatar padahal memiliki rekam jejak yang tidak baik.

"Unpad menjadi milik kita semua urang Sunda, para alumni meski tidak harus terikat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unpad. Kami punya tanggung jawab hadir di situ. MWA harus adil dengan menyelesaikan masalah ini," katanya. 

Mereka berharap pihak terkait dapat membuat  tim investigasi independen non-MWA untuk mencari fakta dan merumuskan semua hal dari data dan keterangan terkait Obsatar, Erna, dan dugaan pidana serta pelanggaran etika dan moral.

Penggagas Jaga Lembur, Acil Bimbo mengharapkan calon rektor benar-benar terbaik dan bisa diterima supaya menjadi kebanggaan masyarakat Jabar, urang Sunda, dan alumni. 

"Dari calon itu jangan yang punya catatan kurang baik. Imej ini akan dibawa ke imej dunia pendidikan," katanya. 

Menurutnya, rektor Unpad adalah gambaran intelektual moral dari masyarakat Sunda. Kasus KDRT yang terjadi pada salah satu calon rektor menjadi sorotan publik sehingga dia mencegah rektor Unpad memiliki persoalan etika dan moral.

"Nanti kita ingin mengirim surat ke menteri, presiden, supaya rektor Unpad hadir dari urang Sunda dan punya latar belakang yang baik," kata dia.

AYO BACA : Unpad Tak Mempermasalahkan Calon Rektor dari MWA

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar