Ketika Santri Menjadi Kepala Madrasah dalam Satu Hari...

  Selasa, 13 Maret 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Sultan Alauddin Ar Rasyid saat menjadi Kepala Madrasah Mualimin Manba'ul Huda dalam sehari pada Senin (13/3). (ayobandung/Anggun Nindita)

SEKEJATI, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa santri di Madrasah Mualimin Manba'ul Huda berkumpul di lapangan. Mereka berdiri di hadapan teman dan gurunya.

Para santri ini bukannya sedang dihukum. Sang Kepala Madrasah, Rosihan Fahmi, bertanya kepada santri-santri di depannya. “Kalian ingin menjadi seorang kepala madrasah tidak? Kalau iya, sebutkan alasannya,” ujarnya.

Salah satu santri menjawab, “Iya, saya ingin jadi kepala madrasah. Karena ke depannya saya ingin menjadi seorang menteri pendidikan, yang dapat memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini.”

Tak ayal, Fahmi langsung menunjuk santri bernama Sultan Alauddin Ar Rasyid untuk menggantikan posisinya dalam satu hari.

Perasaan kaget, tidak percaya, namun senang, bercampur aduk dirasakan oleh Rasyid saat ditunjuk jadi mudir'am atau kepala madrasah untuk sehari.

"Awalnya saya kaget, enggak percaya, dan enggak tahu harus ngapain saat ditunjuk jadi mudir'am," kata Rasyid pada ayobandung, Senin (12/3/2018). Pada hari itu, Madrasah Mualimin Manba’ul Huda memberi kesempatan satu hari bagi seorang santri untuk merasakan bagaimana menjabat sebagai seorang mudir’am.

Rasyid, yang sehari-harinya hanya belajar di kelas atau berkumpul bersama teman-teman saat istirahat, kini harus mengerjakan pekerjaan dari kepala madrasah. Awalnya ia bingung. Tapi, untungnya Ustaz Fahmi senantiasa mendampingi Rasyid agar tidak kesulitan mengerjakan tugas temporernya.

Pertama, Rasyid punya tugas untuk memberikan persetujuan surat-surat penyelenggaraan ujian praktik. Lalu, Rasyid juga berkesempatan bertemu sejumlah orang tua santri yang datang ke madrasah. Sebagai seorang mudir’am, Rasyid berhasil membikin para santri curhat soal masalah-masalahnya.

Tak hanya itu, Rasyid juga bertugas mengumpulkan ketua kelompok ujian praktik. Ia juga memimpin diskusi membahas konsep-konsep yang bakal dikembangkan dalam ujian praktik pada 13-24 Maret 2018.

Dan, terakhir, Rasyid memberikan sosialisasi tentang ujian praktik terhadap para santri kelas X. Rasyid memberikan pengarahan kepada adik-adik kelasnya tentang ujian praktik yang mengangkat tema penemuan dari tokoh-tokoh Islam di abad pertengahan.

Beberapa adik kelasnya bertanya tentang ujian praktik tersebut. Rasyid pun menjawab seraya memberikan solusi.

"Awalnya saya mengira tugas kepala sekolah itu cuma mengurus dokumen dan keliling-keliling saja. Tapi ternyata lebih dari itu," ucapnya. Dengan pengalamannya sehari penuh jadi seorang mudir'am, Rasyid mendapat pengalaman baru.

Rasyid juga merasa senang bisa mendapatkan tanggung jawab baru. Hal yang lebih penting, ungkap Rasyid, menjadi seorang mudir'am itu melatih dirinya jadi pribadi yang lebih dewasa.

"Ini pengalaman yang sangat berkesan. Awalnya gugup tapi akhirnya saya enjoy. Dan jadi seorang mudir'am kita diajarkan buat lebih tinggi empati juga lebih dewasa," tutur Rasyid.

Ajang Pembelajaran Leadership dan Pendidikan Karakter Buat Santri

Kepala Madrasah Mualimin Manba'ul Huda, Rosihan Fahmi, mengungkapkan bahwa program sehari menjadi kepala sekolah atau mudir'am ini digagas secara mendadak. "Ini dadakan saja. Ide saya bersama guru-guru. Tapi alhamdulillah nyatanya berhasil direalisasikan," katanya.

Program sehari menjadi kepala sekolah ini baru pertama kalinya diadakan. Fahmi sendiri tidak menyangka dengan respons para santri yang sangat antusias dengan program ini. "Mereka sangat menyambut positif. Dan sudah banyak yang meminta supaya diadakan kembali," ujarnya.

Satu hari menjadi mudir'am ini adalah sebuah cara dari Mualimin Manba'ul Huda untuk mencetak

Santri dengan sikap kepemimpinan. Santri jadi belajar dan mengenal kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Misalnya, sikap percaya diri dan juga yakin terhadap kemampuan diri.

Selain itu, konsep ini juga dibangun sebagai pendidikan karakter untuk para santri. Di sini, santri bisa meningkatkan mentalnya, mulai dari tanggung jawab, disiplin, hingga empati.

"Dia jadi merasakan bagaimana tugas kepala madrasah. Oh seperti ini ternyata. Jadi diharapkan ketika kembali menjadi santri, ia kembali dengan menjadi pribadi yang lebih baik," ucapnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar