Mengintip Misteri Supersemar dan Kontroversi Politik 52 Tahun Silam

  Minggu, 11 Maret 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Supersemar. (Wikimedia)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Meski sudah berusia 52 tahun, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) masih menuai kontroversi hingga saat ini. Supersemar inilah yang notabene mengantarkan Presiden kedua, Soeharto ke puncak kekuasaannyadi Republik Indonesia ini. Meski ditandatangani langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada 11 Maret 1966, namun nyatanya kunci rahasia supersemar ini masih tersimpan rapi dengan menyimpan segudang misterinya.

Seperti yang diketahui, Supersemar ini berisi perintah presiden Soekarno yang menginstruksikan Soeharto, yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam mengatasi situasi keamanan yang buruk di Indonesia pada masa itu.

Konon, Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam berbagai buku sejarah. Meski dalam berbagai observasinya, sejarawan Indonesia mengatakan, terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah Supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno, di Istana Bogor kala itu.

Meski demikian menukil perkataan seorang  Sejarawan Universitas Indonesia, Anhar Gonggong dari Tempo, pria ini menyatakan, keberadaan Surat Perintah Sebelas Maret ini sudah seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurutnya, salah satu kejadian sejarah ini pun telah usai. 

"Apalagi Pak Harto sudah meninggal, Bung Karno juga sudah meninggal," ujar Anhar.

Menurutnya, meski ketika Supersemar digunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan PKI, Presiden Soekarno marah dan mencabut surat itu melalui surat yang dikeluarkan pada 13 Maret 1966.

"Tapi, kalau Soeharto tidak membubarkan PKI, semakin tinggi tuntutan orang untuk membubarkan itu. Siapa yang bisa menahan massa pada saat itu?" tanya Anhar.

Memang, dari sisi sejarah Supersemar adalah surat yang mengawali peralihan kepemimpinan nasional dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Supersemar pun merupakan surat sakti yang menentukan kelahiran dan keabsahan pemerintahan di bawah Soeharto, sekaligus "penyingkiran" presiden terdahulunya, Soekarno.

Namun hingga kini, pengungkapan misteri seputar Supersemar masih ramai diperbincangkan. Bahkan meski dibilang pengungkapan misteri Supersemar selalu menemui jalan buntu karena konon surat ini bak hilang secara misterius. 

Bersama dengan raibnya surat maha penting itu, berbagai spekulasi terus bermunculan. Orang bertanya-tanya tentang siapa yang menyimpan surat itu? siapa sebenarnya yang membuatnya? seperti apa isinya? hingga apa tujuan dibuat? dan bagaimana perintah itu kemudian dilaksanakan?

Lagi-dan lagi, publik terus menyangsikan keberadaan dokumen Supersemar yang asli. Namun, di mana pun rimbanya, Anhar meyakini jika dokumen itu pasti ada juntrungannya. "Pasti ada. Saya melakukan berbagai observasi tentang itu. Isinya lah yang menjadi persoalan," ujarnya.

Namun berbicara apa pun isi dokumen sakti ini, bagi Anhar, Supersemar bukan sekadar surat perintah yang digunakan oleh Soeharto untuk merebut kekuasaan. Supersemar,  dikeluarkan melalui proses yang lama untuk mencari jalan penyelesaian. 

"Wajar jika menimbulkan konflik. Jadi, apanya yang perlu dijernihkan?" katanya kembali bertanya.

Kini genap 52 tahun berlalu, memang belum ada jawaban terang soal pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di masyarakat. Namun, tidak berarti secerca harapan membuka tabir kegelapan itu tidak bakal terungkap. Sebab, salah satu titik berangkatnya pun bisa melalui konsistensi Arsip Nasional Republik Indonesia dalam mencari dokumen asli Supersemar. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.

UU Kearsipan itu, berisi aturan tentang sanksi maksimal hukuman penjara selama 10 tahun bagi siapapun orang yang menyimpan arsip negara dan tidak menyerahkannya kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Selain itu, Daftar Pencarian Arsip (DPA) juga disinggung.

Wajar Undang-undang ini diberkakukan, sebab sebagai sebuah sejarah bangsa, secara politik pengungkapan misteri Supersemar tetap memiliki arti bagi bangsa Indonesia. Setidaknya pengungkapan Supersemar ini juga bisa menjadi momentum peringatan bagi para penguasa kiwari agar tidak membelokkan sejarah untuk kepentingannya. Karena mereka bisa saja menuliskan sejarah menurut kemauannya, namun tidak bisa menghapuskan kebenaran.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar