Esther Gayatri Saleh, Perempuan Kepala Pilot Uji Satu-satunya di Dunia

  Kamis, 08 Maret 2018   Adi Ginanjar Maulana
Uji Terbang Pesawat N219 : Pesawat N219 kembali menjalani uji coba terbang (flight test) ke 15 di landasan udara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (2/2/2018). flight test merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikasi layak terbang dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU). (Irfan Alfaitsi/ayobandung)
BUAHBATU, AYOBANDUNG.COM--Kiprah Capt Esther Gayatri Saleh (55), sudah tidak dapat diragukan lagi di dunia industri penerbangan. Tidak hanya di Indonesia, bahkan dunia internasional pun mengakui kehebatannya sebagai pilot uji yang andal.  
 
Lulusan International Test Pilot School, Kanada tersebut merupakan perempuan satu-satunya di dunia yang menjadi kepala pilot uji. 
 
Perlu diketahui, pekerjaan pilot uji tidak bisa disamakan dengan pekerjaan pilot maskapai penerbangan pada umumnya. 
 
Pilot uji merupakan seorang penerbang yang menerbangkan pesawat yang masih dalam tahap pengembangan riset. 
 
Mereka bertaruh nyawa untuk memastikan pesawat tersebut dapat terbang dan bermanuver dengan baik, sesuai spesifikasi operasional.
 
Karir sebagai pilot uji sudah dimulai Esther sejak tahun 1984 atau 34 tahun lalu ketika perempuan kelahiran Palembang yang kini menetap di Bandung tersebut diterima oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia (Persero)). 
 
Dia sudah menguji pesawat dari mulai NC212-200, CN235, pesawat master piece PTDI N250, CN295, hingga yang terakhir N219. 
 
“Sejak saya lulus dari Amerika (Sawyer School of Aviation) saya meniti karir dari bawah. Mengerti, mempelajari, mengalami proses pengembangan pesawat yang diuji, hampir semua pesawat bersayap tetap buatan PTDI sampai saat ini N 219,” terang Esther saat ditemui selepas melakukan engine ground run pesawat N219 di PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis (8/3/2017). 
 
Pengalaman Panjang dan loyalitas Esther di dunia pilot uji memang mesti diacungi jempol bahkan tidak berlebihan kalau kemudian harus menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. 
 
Betapa tidak, risiko tinggi yang ada dalam pekerjaannya tidak membuat Esther beralih profesi atau sekadar pindah ke maskapai penerbangan yang risikonya tidak setinggi pilot uji. 
 
Tidak salah kalau PTDI mengangkatnya sebagai Chief Test Pilot & Flight Instructor pada April 2015 lalu. 
 
Setelah itu, dia merupakan satu-satunya perempuan pilot uji di industri pesawat udara di dunia yang menjadi chief (kepala) pilot uji pesawat sayap tetap. 
 
“Suatu kehormatan untuk bisa bersama-sama teman yang lain mengambil bagian melayani negeri ini dalam bidang teknologi dirgantara, dalam hal ini pembuatan pesawat terbang. Nah ini proses yang mengitegrasikan satu produk baru bahwa membuat pesawat terbang tidak mudah. Karena tidak mudah maka PTDI berada di pembuatan pesawat terbang ini yang notabene teknologi tinggi,” ujarnya. 
 
Menurutnya, menjalani profesi yang notabene identik dengan laki-laki tersebut sangat membanggakan, selain dituntut memiliki kemampuan berbagai macam pesawat terbang, menjadi pilot uji pun membuatnya terlibat langsung dalam pengembangan riset pesawat. 
 
Dari mulai proses awal first flight, improvisasi hingga sesuai dengan spesifikasi operasional. 
 
“Sebagai pilot uji, saya merasakan langsung perubahan demi perubahan dalam pengembangan pesawat. Prosesnya tidak selesai dalam satu kali uji, misalkan setelah first flight langsung jadi. Semua proses ada evolusinya. Sama seperti pengembangan prototipe N219, ada evolusi dari pembuatan awalnya setelah melakukan serangkaian tes, di-improve,” beber pemegang 7.100 jam terbang tersebut. 
 
Esther pun bercerita tentang pengalaman menariknya selama menjadi seorang pilot uji yang tidak lain adalah ketika berhasil menerbangkan pesawat N219 untuk pertama kalinya (first flight) pada 16 Agustus 2017 lalu. Dia mengaku bangga bisa mengudarakan pertama kali pesawat yang murni karya anak bangsa dan menjadi bukti kemajuan Indonesia.
 
Untuk menghadapi tekanan tersebut, Esther pun melakukan semacam kontemplasi atau perenungan. 
 
“Saya mengisolasikan diri dan fokus hanya untuk terbang perdana. Pada malam hari sebelum uji terbang perdana, saya tidur pukul 22.00 WIB dan bersyukur bisa bangun pukul 02.00 WIB untuk melakukan tes-tes yang akan dilakukan pada saat terbang perdana," ujarnya.
 
Setelah dilakukan terbang perdana selama 25 menit terbang, Esther mengudarakan pesawat di ketinggian 8.000 kaki di sekitar kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Selama itu pula dia mencoba bermanuver dengan turun ke ketinggian yang lebih rendah.
 
“Waktu itu kami melakukan beberapa manuver untuk membiasakan dengan pesawat tersebut. Mencoba simulasi landing. Kita turun ke ketinggian 7.000 naik lagi 7.500. Dan sesuai prediksi landing dengan selamat," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar