Obrolan di Secangkir Kopi Pasar Cihapit

  Kamis, 08 Maret 2018   Fathia Uqimul Haq
Suasana di Kopi Pasar Cihapit. (Fathia Uqim/ayobandung)

CIHAPIT, AYOBANDUNG.COM -- Ada perasaan yang berbeda saat melangkah menuju Pasar Cihapit. Di balik pasar basahnya, terdapat sejumlah jongko yang menawarkan barang laiknya pasar pada umumnya. Namun ada jongko yang berbeda. Gerainya tidak seperti berada di dalam pasar, dipenuhi dengan kepulan asap kopi tubruk dan obrolan ngalor ngidul para pengunjung.

Namanya Kopi Pasar Cihapit. Begitu Bayu menyebutnya. Bayu adalah satu-satunya tukang kopi di pasar. Riasan vintage di tembok, figura yang menempel serta poster diskusi yang akan digelar di jongko itu menambah suasana yang berbeda. Orang-orang duduk dan menyebut kata “kopi” lalu semua beres di tangan Bayu.

Tidak seperti kafe penyedia kopi macam di pinggir kota, kopinya Om Bayu, kami menyebutnya, hanya menyediakan kopi hitam, kopi susu, dan teh tubruk. Kopi jahe juga ada. Tak perlu merapalkan teknik pembuatannya mau seperti apa, yang penting ngopi. 

Kopi Om Bayu juga tentu bukan kopi sachetan bak warung jalanan. Dia membeli langsung dari temannya seorang petani kopi di Ciwidey.

Kopi tubruk buatan Om Bayu dibuat dengan cara yang khas. Dia memasukkan bubuk kopi ke dalam gelas, lalu air panas yang menguap dari teko ia masukkan seraya menumpahkannya ke sendok. Air pun mengucur dari sendoknya. Dia memutarkan perlahan, dan buih kopi naik ke atas. Satu kue kering jadul, dia taruh di tempat gelas kopi berada.

Kemudian orang-orang di sana bercampur baur  kebanyakan adalah seorang ayah atau sudah menjadi kakek.  Bahkan segelintir anak muda pun ngopi di Kopi Pasar. Bukan permasalahan mereka menyodorkan menu kopi, tetapi ada ruang khusus yang membuat betah para pengunjungnya.

Om Bayu memperkenalkan satu persatu orang yang datang ke kedainya. Suasana sangat hangat, saling mengenal satu sama lain, bak sudah jadi teman yang sangat lama. Menguaplah macam obrolan dari A hingga Z. Sampai akhirnya salah satu teman Om Bayu yang juga punya kedai di depan Kopi Pasar menjelaskan.

“Kopi itu sebenarnya adalah jembatan menuju sebuah obrolan,” kata Tata, Selasa (6/3/2018).

Mereka tertawa, saat mereka bercerita kalau  kopi pasarnya harus tutup dan mereka hendak membayar. 

“Pas mau pulang, mau bayar, eh ai minum teh ngan sagelas? Padahal duduk di sininya lama banget,” ujar Dado, teman Om Bayu yang memiliki toko daring barang antik.

Di kopi pasar menguap banyak obrolan seiring kopi buatannya berangsur dingin. Bicara soal politik hingga rumpi khas bapak-bapak yang juga berisi. Soal sosial dan budaya juga. Makanya, sering jongko 2x5 meter Om Bayu buat jadi tempat diskusi hingga screening film. Entah bagaimana, di pasar ada agenda semacam itu.

“Kita sering ya di sini bicara soal apapun, kebanyakan memang sosial dan budaya. Panggungnya ya ini, di gerai ini. Kita keluarkan kursinya, lalu dipindahkan ke tempat jalan,” tutur Bayu.

Di serong kanan jongko kopi pasar ini, ada jongko yang dibuat sebuah galeri foto dan display barang antik. Saat itu memang ada diskusi internal anak-anak foto wedding yang akan ngobrol di kopi pasar. Galeri tersebut diubah sedemikian rupa berpulas putih, lampu sorot menyinari foto. Dan itu di dalam sebuah pasar.

Semua nampak tak terlihat seperti berada di dalam pasar. Mereka seperti asyik sendiri, di pojok pasar berkumpul menghidupi jiwa dengan segelas kopi yang mencairkan suasana. Diskusi yang berbobot sampai candaan yang mengundang gelak tawa. Rasanya pasar itu seperti milik mereka saja. Tak tercium bau anyir pasar karena semua terkalahkan dengan kopi Ciwidey Om Bayu yang terus saja tak berhenti diseduh. Semakin sore, semakin banyak orang duduk dan bilang “Kopi!”.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar