Pendidikan Zaman Kolonial Belanda Lebih Baik?

  Senin, 05 Maret 2018   Arfian Jamul Jawaami
Sie Tyoe Liong alias Iwan Setiadi di Toko Jamu Babah Kuya Jalan Pasar Baru Selatan, Kota Bandung

KEBON JERUK, AYOBANDUNG.COM -- "Zaman Belanda, biaya sekolah gratis dari tingkat TK sampai SMA. Semua dibayarkan Belanda. Kalau masuk perguruan tinggi baru bayar," ujar Sie Tyoe Liong alias Iwan Setiadi  pengelola Toko Jamu Babah Kuya, kepada ayobandung, belum lama ini.

Iwan adalah pria berusia 86 tahun yang merupakan penerus generasi keempat Toko Jamu Babah Kuya. Babah Kuya sendiri merupakan salah satu toko tertua di Kota Bandung karena telah berdiri sekitar dua abad lalu.

Kepada ayobandung, Iwan yang telah hidup di tiga generasi pemerintahan mengaku rindu ketika Indonesia masih di bawah kepemimpinan kolonial Belanda selama 350 tahun.

"Kalau ada yang bertanya kepada saya, lebih nyaman hidup di zaman Belanda, Jepang atau revolusi? Saya akan menjawab lebih nyaman hidup di zaman Belanda," ujarnya.

Pada masa kolonial, pemerintah Belanda menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan beragam jenis sekolah sesuai kebutuhan lapisan masyarakat. Walau pada awalnya pendidikan untuk anak pribumi dibatasi, tapi lambat laun berkembang secara vertikal.

Sistem pendidikan yang dibangun bukan hadir berkat perencanaan yang matang, melainkan hasil dari pengalaman dan disesuaikan dengan kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi serta politik.

Ketika itu, pendidikan di Indonesia terbagi dalam dua periode besar yakni pada masa Vereenigde Oostndische Compagnie (VOC) dan era kepemimpinan pemerintahan Hindia Belanda. 

Pada masa VOC, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kepentingan komersial. Karena di awal kedatangannya, Belanda tidak berniat untuk menajajah Indonesia, tapi berdagang. Namun perlahan, tujuan tersebut kemudian beralih dari hanya kepentingan komersial menjadi basis politik dan kekuasaan.

Kondisi pendidikan di Indonesia memperlihatkan perbaikan setelah VOC dibubarkan. Perhatian pada pendidikan rakyat jelata mulai diperhatikan pada tahun 1820 meski akhirnya terganggu berkat penderitaan rakyat lantaran sistem kerja paksa.

"Sekolah dibagi-bagi. Ada sekolah kelas satu khusus untuk priyai dan orang Barat. Ada juga sekolah kelas dua untuk rakyat jelata yang mengajarkan membaca dan menulis," ujar Iwan.

Kedua jenis sekolah memiliki perbedaan peran dan tujuan. Jika sekolah kelas satu memiliki tujuan memenuhi kebutuhan pegawai pemerintahan dan perusahaan. Sementara sekolah kelas dua bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan dasar masyarakat umum. 

Tentu perihal baik dan buruk begitu sangat subjektif dan menjadi hak berpendapat dari masing-masing personal. Pendapat Iwan tidak diamini oleh seorang saksi sejarah bernama Cassandra yang juga hidup di tiga generasi kepemimpinan.

"Zaman Belanda tidak seburuk seperti di buku sejarah. Tapi juga tidak baik. Baik bagi beberapa kalangan tapi tidak untuk kalangan yang lain. Baik di permukaan saja. Kebebasan sangat dibatasi. Apa itu baik? Arfian Jamul

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar