Ngopi ala Kampung di Tengah Kota ala Imah Babaturan

  Jumat, 02 Maret 2018   Fathia Uqimul Haq
Imah Babaturan, Bandung. (ayobandung/Fathia Uqim)

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM – Suasana hangat terasa di sebuah rumah yang merupakan warung kopi. Kursi bangku sekolah ala kadarnya yang terhampar di warung kopi bernuansa biru itu diduduki banyak orang. Itu masih padi, sekitar pukul 09.00 WIB. Iya, mereka sarapan di warung kopi Imah Babaturan.

Imah Babaturan, dalam bahasa Indonesia, berarti “rumah teman”. Nama itu diambil dari bahasa Sunda yang menjadi identitas bahwa mereka berdiri di tanah Pasundan. Sederhana saja, seperti kamu yang berkunjung ke rumah temanmu.

Letaknya yang berada di tengah hiruk pikuk kota ini membikin Muhammad Nurul Hudha (42) bergerak ingin buru-buru merealisasikan konsep warung kopinya. Mimpinya di tahun 2008 itu akhirnya terealisasikan di tahun 2015, dengan sebuah warung kopi kampung yang berada di Jalan Kebon Bibit, Tamansari, Bandung.

Uyol, sapaan akrab Hudha, sang pemilik warung, ingin menyediakan tempat makan dan minum sesuai tagline; warung kopi kampung di kota. Memang, tak terlalu banyak deretan menu bak resto kelas kakap atau kafe pinggir kota yang berkelas. Imah Babaturan cuma menyediakan tempat untuk mereka yang ingin bercanda dan menikmati jajanan kampung dan sajian rumahan yang penuh kehangatan.

Di dalam ruangan no smoking yang dipisahkan oleh pintu kaca, ada barisan buku yang ditata dalam sebuah rak. Gratis untuk dinikmati. Ada pula pajangan-pajangan berupa kamera analog, foto-foto yang dipasang rapi di setiap dinding. Semua menawarkan memori ke masa lalu.

Menu yang ditawarkan Imah Babaturan ini ada kopi, teman kopi, makanan berat, minuman lain, dan menú temen. Kopi tubruk, kopi susu ala vietnamesse drip panas dan dingin, es kopi hitam, dan es latte yang bisa bikin suasana cair. Teman ngopi seperti bala-bala sambal kacang adalah favorit pengunjung. Ada juga teh tawar, teh manis, es milo, dan es jeruk yang juga bikin segar.

“Ada juga bihun sambal kacang, singkong goreng dan rebus, ubi, peuyeum, ketan kelapa, roti goreng dan roti oma,” kata Uyol yang ditemui ayobandung pagi Kamis (1/3/2018) di warung kopinya.

“Menu Temen” yang ditaruh di atas meja juga menarik perhatian. “Menu Temen” ini adalah titipan dagangan teman-teman Uyol yang di Imah Babaturan. Ada bakso sehat ala @baksoul.bdg, donat Nusantaranya @bijikopling, siomay dari @goldensiomay, lumpinya @seleramanis, serta lekker.

“Itu temen-temen beneran. Kalau ada temen bohongan juga boleh naruh dagangannya di sini,” ujar Uyol sambil tersenyum lebar.

Tak hanya itu, makanan berat juga jadi magnet pengunjung. Sebut saja tongseng kambing, gulai kampung tulangan, dan nasi cumi cabe hijau yang bisa jadi menu makan siang atau makan malammu. Jika kamu mengikuti akun Instagram @imahbabaturan, setiap malam usai warung tutup, maka kamu akan mengetahui perjalanan mereka berbelanja bahan-bahan ke Pasar Ciroyom.

Memang, Imah Babaturan ini kelewat sederhana. Soalnya, menurut Uyol, masuk di bisnis spesifik itu rada sulit. Toh, resep yang dimiliki Uyol cuma resep rumahan. Lagipula, kini tampaknya masih jarang warung kopi dengan konsep seperti ini. “Yang ada kopi, bisa nongkrong, camilannya camilan rumah, dan masakannya masakan rumah,” ujar Uyol.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar