Kisah Para Mualaf di Masjid Lautze

  Sabtu, 17 Februari 2018   Arfian Jamul Jawaami

TAMBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Masti pernah dihujani pukulan dan tendangan dari ayah tirinya. Diseret tanpa rasa hingga nyaris ditikam gunting oleh keluarga. Alasannya, lantaran Masti memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Itu terjadi di bulan Agustus 2017, ketika Masti ketahuan menyimpan sehelai kerudung di lemari kamarnya. Padahal, sudah enam bulan lamanya Masti menyimpan identitas Islam dari keluarganya.

"Berangkat kerja dari rumah tidak pakai kerudung. Di luar saya pakai kerudung. Ketika pulang, saya lepas lagi kerudungnya," ujar Masti di Masjid Lautze II Bandung kepada ayobandung, Jumat (16/2/2018).

Cerita dimulai ketika Masti bermimpi pada suatu malam di bulan April 2017. Dalam mimpi, Masti merasa tengah berdiri di depan hajar aswad dan Kabah. Seorang kakek kemudian datang dan bertanya "Bagaimana sudah siap?"

Sejak saat itu Masti merasa penasaran pada Islam. Kebetulan, dia telah menjalin hubungan kasih dengan seorang pria Muslim sejak lima tahun yang lalu. Masti mulai mencari informasi tentang Islam, salah satunya dengan datang ke Masjid Lautze II.

Singkat cerita Masti akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid yang kental dengan nuansa oriental tersebut. Namun, dia masih merahasiakan pilihannya kepada seluruh keluarganya.

"Setiap minggu Masjid Lautze selalu memberi saya uang Rp 75.000. Uang itu saya gunakan untuk menyewa kamar kos, tempat saya mengaji agar tidak ketahuan keluarga," ujar Masti mengenang.

Mualaf memang salah satu dari delapan golongan mustahiq  yang berhak menerima zakat. Adapun penyaluran zakat di Masjid Lautze banyak mendapat bantuan dari Rumah Amal Salman.

Sampai malam itu tiba, ketika Masti menjadi korban penganiayaan oleh keluarganya sendiri. Mukanya lebam dan rambut panjang Masti dipotong paksa.

"Sakit rasanya. Sakit hati karena disiksa oleh keluarga sendiri. Sakitnya lebih sakit dari pada dipukul," ujar Masti berkaca.

Masti sempat diusir dari rumah dan tinggal di kediaman salah satu jemaat Masjid Lautze. Hingga akhirnya kini keluarga Masti dapat menerima pilihannya akan Islam.

Namun Masti tidak sendirian. Di Masjid Lautze, kisah serupa banyak ditemui. Jeje yang sempat berkuliah di Piksi Ganesha pernah mengalami hal yang tidak jauh berbeda.

Gadis asal Sumatera Utara tersebut menyatakan keyakinannya terhadap Islam pada tahun 2017 lalu. Cerita bermula ketika Jeje membaca perintah untuk menutupi rambut bagi perempuan di Alkitab.

"Setiap pendeta yang aku tanya tidak pernah bisa menjelaskan kenapa perempuan harus memakai kerudung. Setelah aku cari, hanya Islam yang bisa menjawabnya," ujar Jeje di tempat dan waktu yang sama.

Keyakinannya semakin bulat ketia dia mengikuti ceramah cendekiawan Muslim asal India, Zakir Naik di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung pada tahun 2017 lalu. Hingga akhirnya Jeje yakin memeluk Islam.

Penolakan dari pihak keluarga spontan datang padanya. Marga Batak yang melekat di nama belakangnya dicabut. Dia mengaku tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga di Medan. Puncaknya, Jeje diusir dan biaya kuliahnya tidak lagi ditanggung orang tua.

"Aku saat ini memilih untuk menjauh dulu dari keluarga untuk meredam masalah. Tapi suatu hari aku akan datang membawa kebaikan. Sedih karena sekarang aku enggak punya keluarga. Tapi di Masjid Lautze aku dapat saudara baru. Mereka menyambut aku, padahal kami tidak saling mengenal," ujar Jeje sembari membasuh matanya dengan tisu.

Kini, Jeje enggan merasa kalah dengan keadaan. Dia memilih menjadi ojek online untuk membiayai kehidupannya di Bandung. Bertahan untuk kembali melanjutkan pendidikan sarjananya.

Kisah menarik lain dialami Monica atau biasa dikenal dengan Moci. Dia memilih memeluk Islam ketika masih berusia 17 tahun. Awalnya, Moci sering berkonsultasi dengan guru agama Islam di salah satu SMA di Bandung.

Selayaknya para mualaf yang lain, penolakan dari keluarga tidak dapat dihindari. Namun kisah Moci lebih baik dari para mualaf lain. Setelah hampir lima tahun memeluk Islam, kini Moci telah mendapat dukungan dari pihak keluarga.

Tidak hanya itu karena Moci telah mengenalkan Islam pada kedua orang tuanya. "Doakan aku bisa membawa mamah datang kesini untuk mengucap dua kalimat syahadat," ujat Moci.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar