Mengintip Produksi Pabrik Kerupuk

  Senin, 12 Februari 2018   Fathia Uqim
Seorang pegawai pabrik Adiputra saat membuat adonan kerupuk di Babakan Tarogong, Bandung, Senin (12/2). (ayobandung/Fathia Uqim)

BOJONGLOA KALER, AYOBANDUNG.COM – Tak lengkap rasanya jika makan tanpa kerupuk. Apalagi bagi orang Sunda, makan ditemani kerupuk adalah nikmat tiada dua. Tapi, jangan cuma suka kerupuk. Ketahui juga para pembuat kerupuk yang berjasa bikin makan kita jadi lebih nikmat.

ayobandung mengunjungi salah satu pabrik kerupuk yang cukup familiar di kawasan Jalan Babakan Tarogong, Kecamatan Bojongloa Kaler, Bandung. Kalau kamu bertanya tentang pabrik kerupuk mentah di daerah itu, kamu pasti bakal diarahkan ke pabrik kerupuk Adiputra.

Pabrik kerupuk ini telah beroperasi sejak tahun 1960-an. Kini, pabrik itu dikelola oleh generasi ketiga dari keluarganya. “Iya jadi saya nerusin usaha keluarga. Saya megang dari tahun 2012 akhir hingga sekarang,” ujar Farhan Fathurrahman, pemilik pabrik kerupuk Adiputra saat ditemui ayobandung, Senin (12/2/2018).

Sejak pukul 06.00 WIB sejumlah pegawai di pabrik kerupuk Adiputra sudah bergelut dengan tepung kanji dan kawan-kawan. Ada yang bertugas mengaduk adonan, memotong kerupuk, memisahkan, hingga mengeringkannya.

Ada sepuluh pegawai yang membantu Farhan membuat kerupuk nikmat buat banyak orang ini. Para pegawai rata-rata berasal dari Ciamis. Soalnya, sang kakek, yang pertama kali mendirikan pabrik, sejak awal memang merekrut orang-orang dari Ciamis.

Farhan mengajak ayobandung berkeliling ke setiap sudut pabrik untuk memperlihatkan proses pembuatan kerupuk. “Maaf, pabriknya kotor ya, teh,” kata pria asli Bandung ini.

Di salah satu sudut, ada panci besar yang menyimpan adonan kerupuk. Di sanalah bawang putih, terasi, tepung kanji bersatu. Setelah itu, adonan akan dimasukkan ke tempat pengaduk. “Nah, setelah diaduk oleh mesin, diambil dan dimasukkan ke mesin pencetak,” ujar Farhan.

Lalu, ada juga pegawai yang bertugas memotong hasil cetakan kerupuk tersebut. Setelah itu, kerupuk disusun dan dirapikan ke wadah yang lebih besar untuk proses pembakaran, Kerupuk kemudian dipanggan di dalam oven. “Lalu dikeringkan ke mesinnya. Soalnya kalau dijemur, kan, enggak tahu ya cuaca, kan, suka hujan gitu. Jadi pakai alat,” kata Farhan menjelaskan.

Dalam mendistribusikan kerupuknya, Farhan tak sendiri. Urusan pemasaran, ia dibantu oleh saudaranya yang membeli kerupuk mentah di Adiputra untuk kemudian digoreng. Lalu, para pedagang kerupuk kalengan bakal membeli kerupuk matang darinya.

Meski pemasaran sedang tak begitu ramai, Farhan tetap memproduksi kerupuk. Lagipula, kerupuk yang sudah dikeringkan bakal bertahan lama selama satu bulan.

“Kan, kita enggak tahu ya kapan rame atau enggak. Sekarang lagi rame, kita buat 22 karung. Besok enggak tahu. Rata-rata, sih, paling sedikit 14-15 karung,” ujar ayah satu anak ini.

Tak hanya dijual kepada saudaranya dalam ukuran besar, Farhan juga suka menjual kerupuknya kepada warga sekitar yang memang sengaja ingin membeli kerupuk mentah. “Biasanya mereka suka beli untuk seblak,” katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar