Tentang Emen si Pecandu Rokok di Tanjakan Maut

  Minggu, 11 Februari 2018   Mildan Abdalloh
Suasana lintasan Tanjakan Emen, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, setelah peristiwa kecelakaan maut bus pariwisata. (ayobandung/Mildan Abdalloh)

CIATER, AYOBANDUNG.COM – Puluhan orang bernasib nahas. 27 di antaranya meninggal, 25 sisanya terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Gara-garanya, kecelakaan maut bus pariwisata yang melaju tak terkendali dan terguling di Tanjakan Emen, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang pada Sabtu (10/2/2018) kemarin.

Peristiwa kemarin sore itu bukan yang pertama kali. Sederet kecelakaan tercatat di tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2011, Tanjakan Emen meregang nyawa tiga orang turis. Kemudian di tahun 2014, delapan orang meninggal akibat kecelakaan di tanjakan yang sama.

Tanjakan itu memang menyimpan kisah maut. Dimitoskan, siapa pun yang melewati Tanjakan Emen harus membuang sebatang rokok. Itu dilakukan demi menghindari kejadian rem blong dan mobil lepas kendali yang kerap mengakibatkan kecelakaan parah dan memakan korban jiwa. Orang percaya jika semua itu terjadi gara-gara ulah Emen si pecandu rokok.

 

Nama Emen sudah jadi legenda. Ia diabadikan menjadi nama satu tanjakan penghubung Bandung – Subang. Setidaknya ada dua kisah yang mewarnai mitos ini.

Kisah pertama menyebutkan jika Emen merupakan sopir angkutan Bandung-Subang sekaligus mata-mata bagi tentara Indonesia. Pada zaman pemberontakan DI/TII, dia sering menjadi perantara pengantar logistik bagi tentara.

Disebutkan, pasukan DI/TII mengetahui kalau Emen adalah seorang mata-mata. Dia dibakar hidup-hidup bersama mobil yang biasa digunakannya narik di tanjakan yang sekarang dijuluki sama persis dengan namanya.

Kisah lain mengatakan jika Emen merupakan warga Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dia berprofesi sebagai sopir oplet pada tahun 1970an. Sebuah kecelakaan maut merenggut nyawa Emen. Untuk mengenang itu, maka tanjakan tempat nyawanya direnggut dinamai Tanjakan Emen.

Kisah yang kedua dianggap paling benar. Itu dipercayai oleh seorang sopir elf jurusan Bandung-Subang, Aep Manda (38). “Sekarang juga ada anaknya yang sampai saat ini masih jadi sopir elf,” ujar Aep kepada ayobandung, Minggu (11/2/2018).

Mitos melempar sebatang rokok itu tak main-main. Katanya, jika itu dilanggar, maka kecelakaan maut bisa saja terjadi. Konon, kecelakaan itu adalah ulah Emen yang masih gentayangan di sekitar kawasan tersebut.

Tapi, bukan cuma melempar rokok, pengemudi juga harus melempar uang. "Dulu kalau lewat tanjakan Emen harus melempar rokok  dan melempar uang," ujar Aep. Lalu, pengemudi juga harus menyebut nama “Emen” dan membunyikan klakson saat mulai melintasi tanjakan.

Mitos itu cukup sakral. Apalagi bagi sopir angkutan yang wara-wiri setiap hari di Tanjakan Emen. Terlebih, kalau sopir harus melintas pada malam Selasa atau malam Jumat.

"Dulu saya biasa melempar rokok, uang, membunyikan klakson seperti yang orang-orang bilang," kata Aep mengaku. Namun, kebiasaan itu lambat laut menghilang, sudah jarang Aep lakukan. Terkecuali, dalam kondisi tertentu, ketika Aep merasa ada sesuatu yang mengganjal saat melintasi Tanjakan Emen.

Kata Aep, Tanjakan Emen ini angker. Aep malah mengaku sering melihat sosok harimau sebesar kerbau melintasi Tanjakan Emen. “Memang ada penunggunya. Saya kan asli Lembang,” kata Aep mengaku tahu. Selain Emen, tanjakan ini juga dikenal dengan keberadaan harimau, penghuni yang biasa berjalan dari Tanjakan Emen ke Kawah Domas, Gunung Tangkuban Parahu.

Terlepas dari mitos-mitos tersebut, Aep meyakini jika itu dibuat untuk membuat sopir lebih berhati-hati. “Intinya harus hati-hati, jangan sombong juga,” katanya. Lagipula, katanya, yang mengalami kecelakaan itu biasanya sopir yang baru pertama kali melewati Tanjakan Emen.

Sebagai orang yang setiap hari melintas, Aep sudah hafal betul takaran pengereman yang diperlukan, terlebih jika dia membawa penumpang cukup banyak. "Kalau bawa penumpang banyak, saya tidak berani pakai mobil kurang dari gigi tiga, apalagi pakai gigi empat, tidak akan kuat soalnya, rem pasti jebol," katanya.

Faktanya, kontur Tanjakan Emen memang memiliki kemiringan yang cukup tajam. Dengan panjang 2,5 kilometer, tanjakan ini punya kemiringan mencapai 11%.

“Turunan yang panjang membuat sistem pengereman sering gagal dan menyebabkan kecelakaan,” kata Kasubdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Komisaris Besar Polisi Joko Rudi. Terutama bagi kendaraan berjenis diesel yang mempunyai sistem pengereman menggunakan tombol. "Karakter mobil diesel itu jika sering digunakan dalam kecepatan tinggi, komponen rem jadi memuai dan mengakibatkan rem menjadi tidak berfungsi," ujarnya.

Selain itu, kata Joko, kondisi tanjakan Emen juga terlalu sempit. Padahal sepanjang tanjakan banyak tikungan berkontur miring. Sebagian besar kecelakaan diakibatkan oleh pengemudi yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya.

Mitos akan selalu beriringan dengan sistem kehidupan manusia. Pakar Antropologi Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia, Mahmud Fasya pernah mengatakan jika sejak dulu mitos dibuat untuk mengatur kehidupan. “Dulu, lebih efektif membuat masyarakat takut pada hal gaib daripada peraturan,” katanya dalam sebuah wawancara bersama ayobandung.

Sama seperti mitos yang bilang kalau kita tidak membuang rokok di Tanjakan Emen, maka kita akan celaka. Itu dibuat untuk mengingatkan kita agar kiranya berhati-hati saat melintas.

Antisipasi Kecelakaan

Kasubdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Komisaris Besar Polisi Joko Rudi punya beberapa rekomendasi untuk mengantisipasi kecelakaan di Tanjakan Emen. Pertama, membuat saluran pembuangan air di sepanjang lain.

Selain untuk mencegah adanya genangan air, sopir yang gagal mengerem dengan cara memepetkan kendaraan ke saluran drainase untuk menghentikan laju kendaraan. Dengan cara itu, kata Joko, kerugian jiwa bisa diminimalisir.

Rekomendasi selanjutnya adalah membuat jalur baru, seperti pembuatan jalur Lingkar Nagrer, Kabupaten Bandung. Dengan cara itu, lintasan Tanjakan Emen bisa diberlakukan dengan sistem satu jalur dan membuat jalan menjadi lebih lebar. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar