Masjid Mungsolkanas, Bukti Peradaban Islam di Bandung

  Sabtu, 10 Februari 2018   Arfian Jamul Jawaami
Masjid Mungsolkanas. (Arfian Jamul J/ayobandung)

CIHAMPELAS, AYOBANDUNG.COM -- Sejenak mengingat pertempuran Bandung Utara yang jadi simbol perjuangan melawan kolonial Belanda tempo dulu. Menyertakan nama tiga laskar dan satu masjid dalam lingkaran.

Adalah Masjid Mungsolkanas sebagai penanda awal peradaban Islam di Bandung yang juga jadi basis perjuangan melawan penjajah. Berdiri sejak tahun 1869. Catatan waktu yang menempatkan Mungsolkanas sebagai salah satu masjid tertua di Kota Bandung.

"Mungsolkanas adalah ruhnya. Basis dari perjuangan lewat doa yang mustajab. Memberikan semangat melawan penjajah melalui kekuatan shalawat jihad," ujar Wakil Ketua DKM Masjid Mungsolkanas, Rohman Priyatna pada ayobandung, Sabtu (10/2/2018).

Kekuatan shalawat yang kemudian mengilhami penamaan masjid. Alih-alih menggunakan Bahasa Arab layaknya masjid kebanyakan, Mungsolkanas merupakan singkatan yang diambil dari kirata Sunda yakni "Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam".

"Nama Mungsolkanas mengandung makna yang teramat dalam. Saya percaya kekuatan ibadah dan dakwah diawali dari shalawat," ujar Rohman.

Hingga kini Mungsolkanas masih elok berdiri walau dihimpit bangunan pencakar langit di sekitar Jalan Cihampelas Bandung. Lokasinya berada dalam Gang Winataatmaja, seberang Rumah Sakit Advent.

Awalnya, Masjid Mungsolkanas lebih mirip mushala sederhana berbentuk panggung yang terbuat dari material kayu dan beton. Luas lahannya hanya sekitar 80 meter persegi dengan teras berupa kolam air.

Pemugaran dilakukan pertama kali pada tahun 1933 bersamaan dengan pembangunan awal dari Masjid Raya Cipaganti oleh arsitek kenamaan asal Belanda bernama Wolff Schoemaker.

Tentu, Mungsolkanas kalah mewah dan besar. Wajar karena pendirian Masjid Raya Cipaganti dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda, sementara Mungsolkanas berasal dari inisiasi para ulama Islam ketika itu.

"Masjid Cipaganti merupakan aset pemerintah (Hindia Belanda). Kalau Mungsolkanas asli milik tanah pribadi (hasil dari) wakaf. Bahkan sampai saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah. Walau diakui oleh pemerintah kalau Mungsolkanas adalah salah satu masjid yang sangat monumental," ujar Rohman.

Terlepas dari bentuk fisiknya yang sederhana, Mungsolkanas ternyata hadir sebagai pusat pendidikan Islam ketika itu. Banyak ulama Bandung lahir berkat pendidikan Islam di Mungsolkanas. Salah satu pengajarnya ialah ulama kharismatik bernama Abdurokhim atau lebih dikenal dengan Mama Aden.

Setidaknya Mungsolkanas telah melahirkan beberapa nama ulama terkemuka seperti Ketua DKM Masjid Raya Cipaganti Muhammad Husen serta Ahmad Sanusi yang mengembangkan dakwah di kawasan Bandung Timur hingga Sumedang.

"Ruh Mungsolkanas adalah untuk perkembangan umat dan sebagai alat perjuangan. Tidak hanya fokus pada ibadah ritual tapi juga pembangunan mental," ujar Rohman.

Bahkan Mungsolkanas merupakan masjid pertama yang digunakan untuk salat Jumat di Bandung Utara. Jamaah salat datang dari berbagai daerah seperti Dago, Ciumbeleuit, Setiabudhi hingga kawasan Bandung Tengah.

Pendirian Masjid Mungsolkanas tidak dapat dipisahkan dari peran seorang perempuan bernama Lantenas. Lantenas merupakan seorang kaya raya yang memiliki bentangan tanah dari Cihampelas hingga Ciumbeleuit. Termasuk lahan pemandian Cihampelas (kini apartemen Jardin) hingga pabrik daging yang sekarang telah berubah menjadi Cihampelas Walk dan Hotel Sensa.

Lantenas kemudian mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk mendirikan Masjid Mungsolkanas. Mama Aden yang juga merupakan kerabat dari Lantenas dipercaya sebagai Ketua DKM pertama. Disusul oleh cucu Lantenas yakni Zakaria Danamihardja sebagai Ketua DKM kedua.

Cerita mengenai sejarah Mungsolkanas ditulis detail oleh Zakaria melalui catatan pribadinya. Hingga kini cerita tentang Mungsolkanas terus diturunkan dari satu ke generasi lainnya. Kehidupan keagaamaan masih terus terjaga berkat peran serta dari masyarakat di Gang Winataatmaja.

"Denyut Islam di Mungsolkanas tidak pernah berhenti. Saat saya kecil, Mungsolkanas jadi pusat pendidikan Islam untuk anak meski hanya berbentuk panggung. Sekarang sudah direnovasi sebanyak tiga kali tapi perannya tidak pernah berganti," ujar tokoh masyarakat setempat Nani Yuningsih kepada ayobandung.

Tercatat sudah tiga kali bangunan Mungsolkanas mengalami pemugaran yaitu pada tahun 1956, 1993 dan 2009. Kini Mungsolkanas memiliki dua tingkat, konsep minimalis, berlantai kayu serta lapisan marmer pada dinding dan atap. 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar