Ini Kisah Pejuangan Mahasiswa Menjadi Sarjana

  Rabu, 31 Januari 2018   Fathia Uqimul Haq
Ilustrasi. (Antara)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Menadi sarjana memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang gugur di tengah jalan, banyak juga yang akhirnya lulus meski harus berjuang mati-matian mengejar tanda tangan dosen atau narasumber. 

Bagi Raidah Afifatul (21) yang sedang menyusun skripsi, pengajuan judul adalah hal yang paling sulit. 

"Aku 3 kali ganti judul, soalnya kata dosen terlalu simpel. Pas yang kedua, disuruh penelitian ujinya di Bogor, yang ketiga mau buat pengolahan air minum, katanya sudah ada yang lain," kata mahasiswi Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (31/1/2017). 

Permasalahan skripsi memang jadi momok yang menyeramkan bagi sebagian mahasiswa. Selain karena sosok dosen pembimbing, modal tugas akhir juga bisa dikatakan berat. 

Tantangan bagi Nisa Abdurrahman (23), mahasiswi Kriya Tekstil dan Mode Telkom University ini adalah pembuatan karya bajunya yang berlubang karena terkena pengering sablon. 

"Tadinya mau memposisikan baju di manekin berdiri, karena berlubang jadi dipasang di manekin duduk. Kain yang berlubang pun tidak tersingkap. Kuasa Allah tidak ketahuan dan berakhir dengan nilai A," katanya.

Drama dengan dosen pembimbing adalah hal yang lumrah bagi mereka yang ingin menjadi sarjana. Apalagi jika dosennya tiba-tiba pergi tanpa jejak dan waktu sidang kiat mendekat. 

Seperti halnya Hilda Sri (22) yang baru saja wisuda Desember 2017 silam. Dia sempat digantung kabar oleh dosen pembimbing hampir 1 bulan. 

"Dosennya kadang undur-undur waktu bimbingan, atau sibuk juga. Jadi ya susah ketemu. Tapi alhamdulillah lulus juga," tuturnya. 

Bagi Hilda, dekat dengan dosen secara personal adalah hal wajib. Karena dosen setidaknya memiliki hubungan baik dengan mahasiswa. Dampaknya, meski sang dosen tengah memiliki mood yang buruk, ia akan tetap melayani kita bimbingan. 

"Terus maju dan menulis skripsi. Karena kalau berhenti ya jadi malas. Lanjutkan terus karena semua akan berakhir pada waktunya," kata Hilda, mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2013 itu. 

Nah, kalau kamu bagaimana? Sudah siapkah melewati perjuangan panjang menuju sarjana? 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar