Jelajahi Dunia Melalui Postcrossing

  Jumat, 19 Januari 2018   Fathia Uqim
Ilustrasi -- Kopi darat Postcrossing Indonesia. (Dok. Postcrossing Indonesia)

REGOL, AYOBANDUNG.COM -- Siapa sangka kalau di zaman serba digital sekarang masih ada segelintir orang yang menggeluti hobi ini? Ya! Hobi berkirim kartu pos.

Nama bekennya postcrossing atau saling bertukar kartu pos. Ternyata hobi ini juga cukup beken di Indonesia. Adalah Komunitas Postcrossing Indonesia, yang aktif di jejaring media sosial Facebook dan Twitter. Tak jarang mereka menggelar kopi darat sesame postcrosser – sebutan orang yang gemar bertukar kartu pos – di kota tempat tinggal yang sama.

Connie Veranica (32), misalnya. Ia telah menggeluti hobi ini sejak Mei 2012. Berawal dari keisengannya mencari info seputar prangko dan mencari tempat yang menjual kartu pos di internet. Soalnya, waktu itu Connie mempunyai teman di Italia yang memintanya untuk mengirimkan kartu pos dan prangko khusus.

Awalnya Connie mengira agak sulit untuk mencari barang-barang seperti itu. Nyatanya tidak. Setelah Connie melakukan penelusuran internet, tak sengaja ia menemukan blog seputar postcrossing. Alhasil, ia terkoneksi dengan Komunitas Postcrossing Indonesia di Facebook dan mulai mendaftarkan diri di situs kesohor di antara para postcrosser penjuru dunia, postcrossing.com.

Situs tersebut merupakan proyek daring gratis yang mana para anggotanya dapat mengirimkan kartu pos secara nyata kepada alamat yang diberikan oleh pihak postcrossing (tentunya anggota postcrossing juga). Lalu, setelah pengirim kartu pos mengetahui bahwa kartunya telah sampai ke penerima, maka siap-siap ia akan mendapatkan kartu pos entah dari negara mana. Inilah kejutan dari kartu pos yang selaras dengan tagline mereka : Send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world! (Mengirim kartu pos dan menerima kartu pos kembali dari seseorang secara acak di suatu tempat di dunia!).

Postcrossing.com digagas oleh Paulo Magalhaes pada 14 Juli 2005. Ia senang menerima surat, terutama kartu pos dari berbagai belahan dunia. Lama kelamaan proyeknya disambut positif. Postcrossing mencapai jutaan kartu pos pertama ditukarkan pada 11 April 2008 dan telah berkembang kian pesat.

“Aku orangnya suka berteman, terutama dengan orang asing,” kata Connie pada ayobandung, Jumat (19/1/2018). Jejaring ini diharapkan menjadi langkah baginya untuk berkenalan dengan sebanyak mungkin orang di penjuru dunia.

Dengan postcrossing, Connie juga belajar bahasa Inggris lebih dalam, dan juga bahasa asing lainnya. Menambah teman dari negara lain dan dari negeri sendiri. Belajar bersabar menunggu kartu pos yang datang. “Kita bisa belajar bersosialisasi dan mengenal karakter, budaya, serta negara orang lain,” katanya.

Senada, Yanita Dwi Chairnani (33) juga menjadikan hobi ini sebagai media untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ia senang mendapatkan kiriman kartu pos dari negara-negara antah berantah atau yang disebut rare countries.

“Total negara yang sudah aku dapatkan kartu posnya ada 113. Tetapi yang written and stamped, kartu pos yang sudah dibubuhi prangko dan tulisan pengirim, serta dikirim dari negara asal baru 106 negara,” aku Yanita.

Kegetolannya membangun jejaring melalui postcrossing ini membuatnya dinobatkan sebagai Ambassador of Postcrossing. Ia juga pernah didapuk menjadi liaison officer di Pameran Filateli Internasional 2012. “Secara dari dulu itu suka banget sama hal-hal yang berbau internasional, termasuk pengin punya teman dari seluruh dunia,” kata Yanita.

Artinya, postcrossing adalah sarana ampuh untuk membangun jejaring di seantero penjuru Bumi. Mereka berharap agar postcrossing kembali menjadi hobi yang digemari anak-anak muda Indonesia. Sebab ada yang lain dari perasaan menunggu dan rasa senang saat mendapatkan kiriman kartu pos.

Mereka senang menunggu Pak Pos.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar