Tangani Korban Video Porno Anak, P2TP2A Jabar Gandeng 3 Instansi

  Kamis, 11 Januari 2018   Andri Ridwan Fauzi
Netty Heryawan. (Eneng Reni N Jamil/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Terkait kasus video porno yang melibatkan anak di bawah umur, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat menggandeng tiga instansi pemerintah untuk menangani dua orang anak yang menjadi korban. 

Ketua P2TP2A Jawa Barat, Netty Heryawan mengatakan, ketiga instansi pemerintah provinsi dan kota yang digandeng pihaknya untuk menangangi korban pedofil itu yakni Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, dan Dinas Sosial Kota Bandung. 

"Koordinasi ini, dibangun sebagai bentuk keseriusan P2TP2A dalam menangani kasus pornografi pedofil di Kota Bandung," kata Netty.

Menurutnya, beberapa hal yang disampaikan telah disepakati untuk didistribusikan dalam bentuk pembagian kerja.

Untuk Dinsos Bandung, Netty minta agar dapat bekerja sama dengan para pekerja sosial dalam mengadvokasi keluarga terutama anak-anak dari pelaku. 

Selain itu, advokasi juga diperlukan bagi masyarakat sekitar agar tidak memberikan stigma negatif dan mencegah adanya tindak anarkis terhadap keluarga pelaku.

"Pasti anaknya (anak pelaku) terlantar karena ibunya dijebloskan ke bui. Jangan sampai si anak-anak mengalami masalah sosial lainnya," ujarnya.

Sedangkan kepada DP3AKB Jabar, Netty meminta untuk menjajaki panti-panti yang dimiliki oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, seperti panti-panti anak di Ciumbuleuit Bandung, di Subang dan Cileungsi Bogor, serta sekolah berbasis asrama Bina Bangsa di Lembang, guna merancang upaya membangun masa depan korban usai menjalani penyembuhan trauma dan advokasi di shelter P2TP2A. 

"Kan tidak mungkin kita kembalikan ke rumahnya, apalagi dengan sekarang ibunya berhadapan dengan hukum," ungkapnya.

Netty mengandalkan Unit Layanan Pendidikan Khusus dari Dinas Pendidikan Jabar, yang didedikasikan bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, anak-anak yang berada dalam wilayah konflik, serta anak-anak yang putus sekolah. 

Netty menilai, guna memenuhi hak pengajaran para korban, Layanan Pendidikan Khusus harus merancang desain pendidikan anak sedemikian rupa, sehingga si anak nyaman mengikuti proses belajar mengajar. Pihaknya juga menjamin biaya pendidikan para korban akan menjadi tanggungan pemerintah.

"Kira-kira fasilitas yang dimiliki oleh pemprov, yang memungkinkan menjadi tempat selanjutnya setelah selesai di P2TP2A itu yang mana? Yang jelas kita ingin hak pengajaran tetap bisa kita penuhi," terangnya.

Dijelaskan, kondisi korban cenderung Stabil sejak mulai dititipkan ke kantor P2TP2A, Sabtu (06/1/2018) lalu, terpantau stabil. Mereka masih menampakkan sisi dan sifat umum anak-anak, seperti ceria, mau bercerita, juga senang bermain-main. 

Menurutnya, psikolog sudah membuat serangkaian kegiatan untuk membantu proses adaptasi korban menjadi lebih nyaman. Karena itu, Netty sangat membatasi dan meminimalisasi interaksi korban dengan rekan-rekan dari unsur birokrasi dan lainnya, kecuali bagi psikolog dan relawan di lingkungan P2TP2A.

"Saya perhatikan mereka memang sangat gembira. Terakhir saya pulang (dari memantau shelter P2TP2A) hari Senin sore, mereka sedang bernyanyi sama psikolog," tambahnya.

"Ada kalimat-kalimat seperti `besok bangun tidur salat ya, deal!`. `Jangan lupa membereskan tempat tidur ya, deal`. Jadi dibangun semacam kesepakatan, membangun keteraturan, termasuk mengenalkan konsep-konsep kebersihan diri," tambahnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar