web analytics
Top banner bank bjb
Kreativitas Warga Bandung tak Lekang Oleh Waktu
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Dec 31, 2017 | 13:22 WIB
Kreativitas Warga Bandung tak Lekang Oleh Waktu
Gdung Bandung Creative Hub (BCH) usai diresmikan di Jalan Laswi, Kota Bandung, Kamis (28/12/2017).Gedung dengan enam lantai ini merupakan fasilitas publik pertama dari Pemerintah Kota Bandung yang mewadahi kepentingan dan kebutuhan pelaku industri kreatif di Kota Bandung sebagai sarana pengembangan kreativitas, edukasi, dan sebuah laboratorium untuk berbagai sektor industri kreatif di Kota Kembang.(Irfan Alfaritsi)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Sudah sejak lama warga Bandung menularkan energi di sektor industri kreatif ke beberapa daerah di Indonesia.

Sebut saja, musik indie, distribution outlet alias distro, kuliner, serta makanan.

Antropolog dari Universitas Padjadjaran Budi Rajab mengamati kreativitas anak muda Bandung sudah muncul sejak 1970-an. Mereka sebagian besar membuat produk kreatif melalui kelompok musik atau mode busana.

Namun, pada masa itu kreativitas masih sebatas aktualisasi diri, belum menjadi industri.

Kemunculan kreativitas itu, dipicu Bandung tidak memiliki akar budaya tradisional sekuat daerah lain. Artinya, orang Bandung lebih terbuka menerima ide.

"Meskipun ada kultur dominan Sunda, itu hanya terbatas pada bahasa. Kultur Sunda ini bukan satu poin penentu," ungkap Budi saat dihubungi ayobandung, Minggu (31/12/2017).

Menurut Budi, Bandung merupakan daerah yang dibangun sebagai kota pendidikan, yang banyak mengundang pelajar dari berbagai daerah.

"Kedatangan para pelajar itu membuat warga yang berada pada usia produktif tinggi jumlahnya," katanya.

Ia mengungkapkan, Belanda sengaja menjadikan Bandung sebagai kota waktu luang dan gaya hidup yang terkenal dengan Jalan Braga dengan sebutan Paris van Java.

Sementara itu, Ketua Bandung Creative City Forum Fiki Satari mengatakan keterbukaan di Bandung memicu pertumbuhan ekonomi industri kreatif. "Bandung sejak dulu itu sudah kosmopolitan, bukan metropolis," ungkap Fiki.

Faktor lain yang memicu kemunculan industri kreatif karena sebagian besar pendudukan berada pada level menengah.

"Sebagai kota menengah lebih mudah menonjolkan keunggulan yang ada di kotanya,” katanya.

Populasi kaum muda di Kota Bandung sendiri saat ini mencapai 60%. Kondisi ini memberikan peluang diskusi dan pertukaran ide secara intensif di ruang publik seperti kafe, warung, atau tempat nongkrong lain.

Budi melanjutkan, sempat mengulas faktor lain yang membuat Bandung kreatif karena banyaknya perguruan tinggi, yang melahirkan banyak kaum muda terdidik.

"Syarat tumbuhnya industri atau ekonomi kreatif talenta yang dimiliki warganya,” paprnya.

Keguyuban Masyarakat

Salah satu indikator terpilihnya Bandung sebagai kota kreatif dunia diyakini berasal dari keberadaan masyarakat Bandung itu sendiri. Mereka dinilai menjadi pusat kreativitas yang ada di Bandung.

"Unsur utamanya adalah karakter manusianya dan Bandung dari dulu dikenal sebagai pusat kreativitas, seperti desain seni, fesyen, baju, dan kreativitas komunitasnya sendiri sangat aktif,” lanjut Fiki.

Keguyuban sejumlah komunitas di Bandung mampu membangun kepedulian yang berujung pada pengaplikasian usaha ekonomi kreatif.

"Saat ini Kota Bandung sudah memiliki setidaknya sembilan kampung kreatif. Semua ini punya usaha ekonomi kreatif yang secara tidak langsung bermanfaat untuk perekonomian warga," kata Fiki.

Hal itu lantas menunjukkan kreativitas warga Bandung tak terbatas pada satu ide. Tapi, semua lini usaha ekonomi kreatif mampu dibuat oleh warga.

Bahkan, menurut Fiki, hal tersebut mampu menjadi trafik pertumbuhan ekonomi dan kreativitas warga lainnya. Sebab, warga bisa memetik manfaat ketika kampungnya dibuat keren.

Mak tidak aneh, bila karakteristik warga Bandung yang kreatif dan kompak dianugrahi penghargaan sebagai kota teramah untuk anak muda.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Middle banner pos
Artikel Terkait